Krisis Dana di Universitas Australia Meski Gaji Rektor Lebih Besar dari Gaji PM

ABC Australia - detikNews
Sabtu, 03 Okt 2020 13:25 WIB
Jakarta -

Semuanya masih berbeda. Saat itu, Februari 2020, pandemi virus corona belum melanda Australia.

University of Melbourne, perguruan tinggi terkaya di negara ini, bersiap-siap memulai tahun ajaran baru.

Rencananya, universitas ini akan menggelar kegiatan penyambutan tahun ajaran baru sevara besar-besaran.

Bahkan, Gorgi Coghlan, seorang sosialita yang juga presenter acara TV, dikontrak khusus untuk mempromosikan salah satu kegiatan lengkap dengan 'sweater' University of Melbourne yang sering dijadikan kenang-kenangan oleh mahasiswa dan keluarganya.

Secara keseluruhan, acara penyambutan tahun ajaran baru direncanakan akan menghabiskan biaya total $1,6 juta.

Pada saat bersamaan, serikat pekerja universitas ini melancarkan aksi demo terkait banyaknya dosen dan tutor yang dipekerjakan dengan kontrak kasual.

Isu tersebut tak begitu ditanggapi dan cenderung ditutup-tutupi dengan keberhasilan universitas mendatangkan uang dari kalangan mahasiswa internasional.

A woman holding a jumper

Baju sweater University of Melbourne yang sering dijadikan kenang-kenangan turut dipromosikan secara komersial di Australia. (ABC News: Brendan Esposito)

Pemerintah berusaha menenangkan pihak universitas dari kelompok 8 terbaik, dengan menjanjikan sumber pendanaan penelitian terpisah.

Namun kalangan universitas menyebutkan hal itu tidak akan cukup untuk mempertahankan program penelitian mereka yang bisa menjadi daya tarik bagi mahasiswa internasional pasca COVID-19.

Mahasiswa internasional menjadi kunci

Pemerintah telah menegaskan pihaknya tidak akan menanggung kekurangan pendapatan universitas dari anjloknya mahasiswa internasional yang mencapai $4,6 miliar.

Begitu pula dengan kemungkinan membuka kembali perbatasan bagi para calon mahasiswa asing saat ini.

Sebuah rencana pemulangan mahasiswa asing melalui "koridor aman" telah ditunda pelaksanaannya karena terjadinya gelombang kedua pandemi di Victoria.

Beberapa universitas mengambil sikap bahwa perbatasan negara belum akan dibuka dalam waktu dekat, sehingga memilih melakukan PHK. Universitas lainnya lebih bersikap menunggu.

Kembali ke University of Melbourne, yang berada di bawah lockdown ketat di Victoria, kehidupan kampusnya secara fisik sama sekali terhenti.

Tak ada lagi suasana pesta seperti di bulan Februari.

Laporan ABC membocorkan anggaran universitas itu untuk tahun 2020.

Misalnya, ada alokasi untuk pimpinan sebesar $43 juta yang mencakup layanan termasuk konsultan.

Selain itu ada alokasi anggaran $6 juta untuk biaya perjalanan, konferensi dan hiburan. Bahkan ada usulan alokasi penghargaan untuk manajer senior.

Kepala operasi University of Melbourne, Allan Tait, menjelaskan ada penghematan yang telah tercapai dalam anggaran ini.

"Pengurangan pengeluaran untuk barang dan jasa konsumsi serta jasa ahli, diharapkan bisa menghemat hingga 15 persen. Sekitar 70 persen anggaran perjalanan juga tidak dibelanjakan," katanya.

Ketika para rektor universitas melakukan lobi di Canberra untuk anggaran perguruan tinggi, ada ironi yang tampak jelas.

Politisi dari faksi pemerintah maupun oposisi menyindir para rektor ini tiba di Canberra diantar oleh kendaraan lengkap dengan supir mereka.

Bahkan gaji para rektor ini pun disindir karena dua hingga tiga kali lebih besar daripada gaji Perdana Menteri Scott Morrison.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

(ita/ita)