Kisah Migran di Australia Bergelar S2 yang Kerja di Tempat Cuci Baju

ABC Australia - detikNews
Jumat, 02 Okt 2020 10:09 WIB
Jakarta -

Meskipun memegang dua gelar master di bidang teknologi informasi, Manu Kaur kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan di sektor tersebut. Akhirnya ia bekerja di sebuah 'laundry' atau tempat cuci baju (penatu) di Tasmania.

Pekerja Laundry Gelar S2

  • Perusahaan 'Blueline Laundry' mempekerjakan orang disabel dan pekerja migran
  • Perusahaan nirlaba ini kehilangan 83 persen pelanggan selama 'lockdown' COVID-19 di Tasmania
  • Sejumlah pekerjanya yang memiliki latar belakang pendidikan S2 dipromosi ke posisi yang lebih sesuai

Ketika masih kuliah, Manu merasa aturan pembatasan jam kerja bagi pemegang visa pelajar menyebabkan dirinya ditolak bekerja di bidang Teknologi Informasi (TI).

Pemegang visa pelajar di Australia memang hanya boleh bekerja maksimal 40 jam dalam dua minggu.

"Hal itu membuat saya frustrasi, terkadang juga sangat tertekan," katanya kepada ABC.

Setelah lulus dari Universitas La Trobe di Melbourne, upayanya mencari kerja berakhir ke 'Blueline Laundry' di Kota Hobart.

Perusahaan 'laundry' ini beroperasi di Hobart dan Launceston dengan mencuci hingga 50.000 pakaian sehari.

Pakaian tersebut berasal dari hotel, rumah sakit, dan panti jompo di negara bagian Tasmania.

"Meski senang rasanya mendapatkan pekerjaan tapi kadang saya berpikir, 'mengapa saya jadi pekerja pabrik begini?'," ujar perempuan asal India itu.

Workers in a laundry.

Kebanyakan pekerja 'Blueline Laundry' berasal dari latar belakang disabel dan pekerja migran. (ABC News: Selina Ross)

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

Ikuti berita seputar pandemi COVID-19 di Australia lainnya di ABC Indonesia.

Simak juga video '4 PMI di Kapal Italia Diduga Alami Kekerasan dan Eksploitasi':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)