WHO Setujui Alat Tes COVID-19 Lebih Murah dan Lebih Cepat Bagi Negara Miskin

ABC Australia - detikNews
Selasa, 29 Sep 2020 15:31 WIB
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) segera akan meluncurkan tes rapid yang murah untuk membantu negara-negara miskin lebih banyak mendeteksi virus corona.

Tes COVID-19 untuk negara miskin

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebutkan program terbaru ini sebagai 'berita baik' dalam perang melawan COVID-19.

"Tes ini akan memberikan hasil yang bisa dipercaya dalam waktu 15 sampai 30 menit, dan bukannya dalam bilangan jam atau hari, dengan harga lebih murah dan peralatan yang tidak begitu canggih," katanya.

"Ini akan memungkinkan perluasan testing khususnya di daerah yang susah dijangkau yang tidak memiliki fasilitas laboratorium atau tidak punya tenaga kesehatan yang bisa melakukan PCR tes."

"Kita sudah mencapai persetujuan, kita sudah memiliki modal awal, dan sekarang memerlukan dana penuh untuk membeli alat tes ini."

Tes bermanfaat, tapi bukan segalanya

Catharina Boehme, Direktur Eksekutif lembaga Foundation for Innovative New Diagnostics mengatakan tes rapid akan disediakan di 20 negara Afrika dan pelaksanaannya akan tergantung pada kelompok kesehatan yang ada.

Dia mengatakan uji laboratorium akan dilakukan oleh SD Biosensor dan Abbott.

Peter Sands, Direktur Eksekutif Global Fund, sebuah lembaga mitra yang terlibat dalam usaha memerangi pandemi, mengatakan akan menyediakan dana awal sebesar Rp750 miliar sebagai bagian awal dari mekanisme memerangi COVID-19.

Dia mengatakan tes ini akan merupakan 'langkah penting' untuk membantu mengatasi virus corona.

"Ini bukan pengganti PCR namun menjadi senjata tambahan yang kita miliki, meskipun kurang akurat, tapi hasilnya lebih cepat, lebih murah dan tidak perlu adanya laboratorium khusus," katanya.

Banyak negara maju juga masih mengalami kesulitan dalam melakukan tes yang akurat, meski bukan jadi solusi untuk pandemi.

Negara seperti Prancis dan Amerika Serikat mengalami masalah waktu untuk mengetahui hasil tes, dan tes cepat yang dilakukan di Inggris dan Spanyol ternyata tidak akurat.

Namun pengetesan di negara-negara miskin akan dimaksudkan agar para tenaga kesehatan bisa mengidentifikasi sebaran virus dan kemudian menanggulanginya.

Peter mengatakan negara-negara maju saat ini mengadakan 292 tes per 100 ribu penduduk, sementara negara-negara lebih miskin hanya bisa melakukan 14 tes per 100 ribu orang.

Menurutnya 120 juta tes yang tersedia akan meningkatkan ketersediaan tes, namun sebenarnya hanya merupakan bagian kecil dari apa yang sebenarnya dibutuhkan negara-negara miskin saat ini.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

AP

(ita/ita)