Tak Ada Penularan COVID-19 di Vietnam dalam 2 Minggu, Apa yang Bisa Dipelajari?

ABC Australia - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 08:58 WIB
Jakarta -

Di saat masih ada negara-negara yang masih berada di gelombang pertama COVID-19, seperti Indonesia, atau ada yang baru mengalami awal gelombang kedua, Vietnam tampaknya berhasil mengatasi gelombang kedua.

Vietnam Atasi Gelombang Kedua

  • Tidak ada kematian karena COVID-19 selama enam bulan di Vietnam
  • Penanganan pandemi banyak dipuji para ahli karena efektif dan tidak menghabiskan banyak dana
  • Penerbangan dengan luar negeri akan dibuka kembali namun turis belum boleh datang

Dalam dua minggu terakhir Vietnam tidak mencatat kasus virus corona sama sekali, artinya negara komunis tersebut berhasil mengalahkan virus untuk kedua kalinya.

Secara keseluruhan, Vietnam dengan penduduk lebih dari 95 juta orang, sejauh ini hanya memiliki 1.068 kasus dan 35 kasus kematian saat pandemi COVID-19.

Pembatasan yang diberlakukan di kota Da Nang, terkenal sebagai kota resor dan sempat ada 550 kasus di akhir Juli, sekarang sudah dicabut.

Bagaimana pihak berwenang bisa mengatasi penularan COVID-19 yang masih menjadi masalah di berbagai negara tersebut?

People sit at a table with a plastic partition attached as a protective measure against the spread of COVID-19.

Mereka yang mengunjungi restoran di Hanoi duduk dipisahkan dengan pagar plastik untuk mencegah penyebaran COVID-19. (Pixabay)

Ekonomi mulai bergerak lagi

Pekan lalu, Perdana Menteri Vietnam mengumumkan jika penerbangan dari Vietnam ke Seoul, Guangzhou, Taipei dan Tokyo akan segera dibuka lagi.

Turis belum diperbolehkan datang ke Vietnam, namun pemulangan warga Vietnam dan kedatangan warga asing yang memiliki ketrampilan tinggi atau para investor akan menjadi prioritas.

Keterpurukan ekonomi Vietnam karena COVID-19 tidaklah akan seburuk negara-negara lain di kawasan.

"Vietnam masih akan menjadi salah satu dari sedikit negara yang ekonominya akan tumbuh di tahun 2020, sementara banyak negara lain akan mengalami resesi," kata laporan perusahaan konsultan internasional PricewaterhouseCoopers.

Bank Pembangunan Asia memperkirakan ekonomi Vietnam akan tumbuh 1,8 persen tahun ini, membuatnya menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang pertumbuhannya tidak minus.

Sementara itu produk domestik bruto Thailand, negara yang sangat mengandalkan pada industri turisme, turun 8 persen.

Namun beberapa pengamat mengatakan pendekatan ketat yang dilakukan Vietnam juga menjadi kekhawatiran.

Beberapa pengamat menyampaikan adanya tekanan tambahan terhadap mereka yang melakukan kritik terhadap pemerintah di masa pandemi.

Laporan PBB mengatakan ratusan orang telah diinterogasi berkenaan unggahan mereka di Facebook mengenai COVID-19.

"Menjelang Kongres Partai Komunis Vietnam bulan Januari 2021, pihak berwenang semakin memperketat kebijakan represif terhadap pembangkang dan media," kata Direktur Eksekutif Asian Forum for Human Rights and Development, Shamini Darshni Kaliemuthu kepada ABC.

Ia mengatakan di tengah pandemi pemerintah Vietnam melipatgandakan tekanan dengan menggunakan alasan kesehatan publik.

"Keluarga dan sanak saudara tahanan politik tidak diizinkan untuk bertemu namun mereka mendapat tambahan makanan dan obat-obatan," katanya.

Para pakar mengatakan "kebanyakan warga menjaga diri mereka sendiri, sehingga hanya sedikit yang merasa terpaksa melakukan protokol kesehatan.

"Penggunaan masker, menjaga jarak, karantina, lockdown tidak dipolitisasi, murni menjadi alat dan ukuran untuk menjaga keamanan warga dan orang yang mereka cintai."

Laporan tambahan oleh Hugh Bohane

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya.

Dirangkum dari artikel dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini

Tonton video 'Sekjen PBB: Covid-19 Ungkap Kerapuhan Dunia':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)