Melbourne Diminta Tak Terburu-buru Longgarkan 'Lockdown' Meski Penularan Menurun

ABC Australia - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 18:11 WIB
Jakarta -

Meskipun jumlah kasus baru COVID-19 di negara bagian Victoria, Australia, sudah membaik, namun pelonggaran 'lockdown' hendaknya tidak dilakukan secara terburu-buru.

Peringatan itu dikemukakan pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Melbourne Profesor Tony Blakey, yang membantu pemerintah setempat membuat 'roadmap' atau peta jalan menuju pelonggaran 'lockdown'.

Berdasarkan 'roadmap' tersebut, Victoria akan beralih ke Langkah Kedua pada 28 September, selama jumlah kasus baru tetap berada pada kisaran 30 hingga 50 kasus.

Jumlah kasus baru telah menurun, bahkan pada Senin kemarin (21/09) hanya ada 11 kasus dan hari Selasa ini (22/09) kasus baru tercatat 28 kasus.

Dengan demikian selama 12 hari berturut-turut, Victoria mencatatkan kasus baru di bawah 50 kasus per hari.

Khusus untuk wilayah metropolitan Melbourne, rata-rata kasus untuk 14 hari juga turun menjadi 32,8 pada hari Senin kemarin.

Profesor Blakely mengatakan angka kasus dalam beberapa hari ini "sangat menggembirakan".

"Sekarang kita berada di titik yang sangat baik dalam hal pelacakan," katanya kepada Radio ABC Melbourne.

Menteri Utama Victoria, Premier Daniel Andrews bersikap sangat berhati-hati terkait pelonggaran lockdown.

Menurut rencana, pada Langkah Kedua nanti, jam malam dan batasan bepergian dalam radius 5 kilometer tetap diberlakukan.

The Block Arcade in Melbourne with no people inside.

Pusat perbelanjaan seperti Block Arcade di Melbourne baru diperbolehkan beroperasi kembali bila lockdown sudah dilonggarkan ke tahap 3. (Twitter: Professor Tony Blakely)

Sementara pakar kesehatan masyarakat dsari Universitas Deakin Catherine Bennett menjelaskan, begitu pembatasan sosial dilonggarkan maka pelacakan kontak untuk setiap kasus harus semakin diperluas.

Ia mencontohkan sebuah klaster di pinggiran kota Melbourne yang berkembang menjadi 43 kasus setelah dilakukan pelacakan yang luas dalam tempo 48 jam.

Australia tak akan terapkan kekebalan massal

Sejumlah negara seperti Swedia mengambil pendekatan berbeda menghadapi penularan virus corona dengan menerapkan strategi kekebalan massal.

"Namun mereka harus membayar mahal (dengan tingginya kematian) untuk sampai ke tahap itu," kata Prof Blakely.

Kekebalan massal juga diterapkan di beberapa wilayah New York dan India.

Namun Prof Blakely mengatakan pihaknya tak akan menganjurkan strategi ini untuk Australia karena vaksin COVID-19 sendiri semakin dekat.

"Sangat gila untuk melakukan hal itu sekarang," katanya.

Dalam perkembangan lainnya, negara bagian New South Wales mencatat sejarah hari Selasa (22/09) tanpa adanya kasus baru COVID-19 dalam penularan di masyarakat.

Dari dua kasus baru yang ditemukan hari ini, keduanya berasal dari pendatang yang kini menjalani karantina di hotel.

Tak adanya kasus baru dari penularan dalam masyarakat ini terjadi tercapai untuk pertama kalinya sejak 8 Juli.

Sementara itu negara bagian Queensland mengumumkan akan segera membuka wilayah perbatasannya dengan New South Wales pada lebih banyak titik.

Hal ini dilakukan setelah Queensland mencatatkan tak ada kasus baru sejak kemarin, dan jumlah kasus aktif kini tinggal 16 kasus.

Meski titik perbatasan kedua negara bagian akan semakin banyak yang dibuka kembali, namun warga NSW yang ingin melintas ke Queensland tetap memerlukan surat jalan.

Artikel ini diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari berbagai sumber.

(ita/ita)