Australia Hadapi Ancaman Gangguan Listrik pada Musim Panas di Tahun Ini

ABC Australia - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 10:25 WIB
Jakarta -

Australia akan segera memasuki musim panas dan terancam mengalami masalah pemadaman listrik, karena 30 persen warga Australia kini bekerja dari rumah.

Pemadaman Listrik di Musim Panas

  • Penggunaan AC meningkatkan kebutuhan listrik di musim panas di Australia
  • Banyaknya orang yang bekerja dari rumah akan meningkatkan kebutuhan listrik
  • Musim panas tahun lalu, suhu mencatat rekor tertinggi kedua yang pernah terjadi di Australia

Di musim panas tingkat penggunaan AC akan meningkat tajam karena suhu kadang bisa mencapai 40 derajat Celcius, terlebih tahun ini suhu diperkirakan akan lebih panas dari biasanya.

Menurut perusahaan riset Roy Morgan, lebih dari 4,3 juta warga Australia saat ini bekerja dari rumah baik sebagai karyawan, karena banyak kantor yang masih berhati-hati untuk mengizinkan pekerjanya kembali ke kantor.

"AC menjadi penyebab utama peningkatan kebutuhan listrik maksimal di Australia," kata Peter Dobney, mantan ketua Asosiasi Pengguna Energi Australia.

"Tagihan listrik akan lebih tinggi itu sudah pasti."

Musim panas di Australia berlangsung antara bulan Desember sampai Februari.

Menurut Biro Meteorology Australia (BOM), musim panas 2019 lalu merupakan musim panas dengan suhu kedua paling tinggi yang pernah tercatat.

Bahkan suhu musim semi yang biasanya lebih rendah sekarang juga rata-rata lebih tinggi dibandingkan sebelumya.

Dr Paul Bannister, pakar efisiensi energi dari perusahaan jasa konsultasi Delta Q mengatakan kondisi listrik di Australia akan jadi kritis dalam beberapa bulan ke depan.

'Blackouts', atau padam listrik bisa terjadi bila infrastruktur yang ada tidak bisa memenuhi permintaan.

Menurut Dr Bannister, jika terjadi lonjakan permintaan, maka penyedia energi harus memutuskan memilih beberapa kawasan untuk dipadamkan aliran listriknya.

"Dengan semakin banyak orang yang bekerja dari rumah, beban akan lebih tinggi di kawasan perumahan," kata Dr Bannister.

"Namun di kawasan komersial tidak akan terjadi penurunan penggunaan listrik, karena sebagian besar gedung perkantoran di pusat kota masih beroperasi normal."

Beberapa perusahaan besar di Australia, seperti perusahaan telekomunikasi Optus sudah menerapkan kebijakan jaga jarak per lantai di kantor pusat di Sydney, sehingga hanya 50 persen karyawan yang bisa bekerja di kantor.

Sementara bank ANZ sudah menempatkan 95 persen karyawan mereka untuk bekerja dari rumah sejak pandemi COVID-19 mulai Maret lalu, selain juga mengatakan sebagian karyawan tidak akan pernah kembali bekerja di kantor-kantor mereka di Sydney dan Melbourne.

"Jelas ada risiko, dengan AC hidup di rumah dan juga di area perkantoran dalam waktu bersamaan," kata Dr Bannister.

"Untuk mendinginkan rumah lebih memakan energi, karena tidak seperti gedung yang lebih bagus desainnya dalam soal efisiensi penggunaan energi."

A woman plays with her son in the ocean.

Menurut ramalan Biro Meteorologi Australia (BOM), suhu musim panas mendatang akan lebih tinggi dari sebelumnya. (Supplied: Scott Veitch)

Kebijakan energi jadi masalah politik sensitif di Australia

Negara bagian Australia Selatan mengalami pemadaman listrik total di tahun 2016 ketika terjadi badai.

Keributan politik kemudian terjadi setelah beberapa politisi mengatakan sumber energi terbarukan yang dimiliki negara bagian tersebut ternyata tidak bisa diandalkan.

Pemadaman listrik itu membuat pendiri Tesla asal Amerika Serikat, Elon Musk membangun baterai lithium terbesar di dunia untuk menyimpan persediaan listrik di Australia Selatan.

Sementara itu, perusahaan penyedia listrik AGL Energy telah mematikan fasilitas Tomago Aluminium Smelter di negara bagian New South Wales (NSW), yang menggunakan sekitar 10 persen listrik di NSW selama beberapa hari di bulan Januari lalu, untuk menghentikan adanya pemadaman.

Menurut Peter Dobney, mantan ketua Asosiasi Pengguna Energi Australia, rumah tangga bisa membantu mengurangi beban listrik selama musim panas. seperti mematikan AC sekitar 15 menit setiap jamnya di masa puncak penggunaan.

Beberapa perusahaan penyedia listrik sudah menawarkan jasa di mana pelanggan bisa meminta penyedia listrik secara otomatis mematikan AC.

Istilahnya adalah 'load shedding' dan beberapa perusahaan besar sudah melakukan hal tersebut guna mengurangi tagihan listrik.

"Ini akan membuat kebutuhan listrik menurun 20 persen di berbagai kawasan perumahan tersebut," kata Peter

"Dengan cara ini pasokan listrik akan tetap terjaga."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

(ita/ita)