Anda Cenderung Narsis Jika Punya Alis Tebal, Kata Ilmuwan Peraih Penghargaan

ABC Australia - detikNews
Sabtu, 19 Sep 2020 09:57 WIB
Jakarta -

Bisakah kita menebak seseorang narsis hanya dengan melihat alisnya?

Tim dari Kanada melakukan penelitiannya dan menjadi salah satu penerima "Hadiah Nobel" untuk penemuan-penemuan unik tahun ini.

Setiap tahunnya, sejumlah penelitian yang terkesan aneh bersaing mendapatkan penghargaan bernama 'Ig Nobel Prize'.

Tahun ini, pemenangnya akan mendapatkan hadiah uang 10 triliun dolar Zimbabwe dan tropi kertas yang akan diserahkan oleh seorang penerima Hadiah Nobel yang asli.

Berikut sejumlah penelitian yang unik dan ajaib, namun tetap berdasarkan bukti ilmiah.

Menebak makna ketebalan alis

Apa yang bisa dibaca dari ketebalan alis seseorang?

Sejumlah psikolog Kanada mengembangkan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dengan kesimpulan kita bisa mengetahui seorang narsis hanya dengan melihat wajah mereka.

Tim peneliti ini memfokuskan penelitiannya pada ketebalan alis. Mereka menyimpulkan, pemilik alis tebal, gelap dan padat bisa dipastikan merupakan orang narsis.

Mereka yang diteliti menjawab semua pilihan pertanyaan, seperti "Saya memiliki bakat alami untuk mempengaruhi orang"; "Saya memang terlahir sebagai pemimpin"; serta "Saya suka memamerkan tubuh saya".

Tim peneliti telah menerbitkan hasil penelitian yang melibatkan ratusan responden ini dalam Journal of Personality tahun lalu.

"Penelitian ini berbasis data," ujar peneliti Dr Miranda Giacomin dari Universitas MacEwan.

"Tapi dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak menilai orang hanya berdasarkan alis mereka," tambahnya.

Pisau dari kotoran manusia

Hadiah Ig Nobel lainnya tahun ini dimenangkan oleh peneliti yang membuat pisau dari kotoran manusia yang dibekukan.

Mereka ingin membuktikan catatan antropologis tentang seorang pria suku Inuit, yang terdampar di es Arktik tanpa peralatan, dan konon membuat pisau dari kotorannya yang sudah membeku.

Tapi penelitian mereka malah menunjukkan pisau semacam itu sama sekali tidak bisa digunakan.

"Cerita tentang pria tersebut sejak dipublikasikan, telah banyak disinggung dalam dokumenter, buku, dan website," demikian disebutkan dalam penelitian tersebut.

"Meskipun banyak penelitian menunjukkan para pemburu memiliki banyak akal secara teknologi, inovatif, dan cerdas, kami menyarankan agar cerita etnografis tentang pria Inuit ini jangan dipakai untuk mendukung narasi tersebut."

Knife made of poo

Pisau yang terbuat dari kotoran manusia yang membeku sama sekali tak bisa digunakan memotong daging. (Supplied: Swinburne University of Technology:Pola getaran cacing)

Fisikawan asal Australia, Ivan Maksymov dan pakar matematika terapan, Andriy Pototsky, keduanya dari Institut Teknologi Swinburne di Melbourne, juga memenangkan Ig Nobel tahun ini untuk penelitian mereka tentang cacing.

Suatu hari, Dr Maksymov sedang berkebun di rumahnya di kota regional Seymour di Victoria, menemukan beberapa ekor cacing tanah.

Saat itu dia memikirkan beberapa penelitian yang menunjukkan getaran dari tetesan air kadang-kadang bisa memanjang dan terlihat seperti cacing.

Dia tahu jika bejana air yang bergetar dapat membentuk pola indah yang disebut pola 'Faraday'.

Dalam lamunannya, Dr Maksymov kemudian bertanya-tanya apa yang terjadi jika dia menggetarkan cacing-cacing, hewan yang memiliki banyak air dalam tubuhnya.

"Ini hanya rasa penasaran seorang fisikawan," ujarnya.

Dia pun meletakkan beberapa cacing di atas pengeras suara bass selama 30 detik dan menemukan versi getar dari pola Faraday yang sama muncul di permukaan tubuh mereka.

"Memang lucu tapi ini sains yang cukup serius," kata Dr Maksymov yang telah mempublikasikan temuannya dalam Nature Scientific Reports awal tahun ini.

Menurutnya, penelitian ini menambah pengetahuan soal bagaimana impuls saraf bergerak ke seluruh tubuh dan bisa bermanfaat untuk pengembangan robot yang meniru gerakan cacing.

Dr Maksymov memastikan tidak ada cacing yang disakiti dalam penelitian ini, karena telah dibius sebelum menggetarkannya dengan pengeras suara.

Cacing-cacing tersebut kemudian dikembalikan ke habitatnya.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Science

(ita/ita)