Apa yang Terjadi dan Bisa Dipelajari Jika Punya Masalah Diplomatik dengan China?

ABC Australia - detikNews
Sabtu, 05 Sep 2020 09:49 WIB
Jakarta -

Hubungan diplomatik antara negara sering mengalami pasang surut, seperti yang terjadi di sejumlah negara barat yang dilaporkan bersitegang dengan China.

Norwegia adalah salah satu negara yang pernah mengalami hubungan memanas dengan China, salah satu negara adi daya dunia.

Ketika Komite Nobel Norwegia menghadiahkan Nobel Perdamaian tahun 2010 kepada seorang pembangkang politik terkenal China, Lu Xiaobo, hubungan Norwegia dengan China langsung membeku.

Padahal Norwegia adalah negara Barat pertama yang mengakui China yang dipimpin Partai Komunis dan keduanya membangun hubungan diplomatik di tahun 1950.

Candles are placed around portraits of jailed Chinese pro-democracy activist Liu Xiaobo during a candlelight vigil.

Liu Xiabo mendapat Nobel Perdamaian karena menyuarakan kebebasan berpendapat di China. (ABC News: Ian Cutmore)

Dalam pandangan ASPI, Australia tidaklah harus melakukan sesuatu untuk bisa memperbaiki hubungan dengan China dengan mengorbankan nilai yang sudah ada.

Lembaga itu menyarankan semua negara yang menghadapi tekanan dari China bersama-sama bersatu dalam berbagai forum internasional dan kompak menghadapi China.

Tindakan yang bisa dilakukan antara lain mengeluarkan pertanyaan bersama, sanksi ekonomi atau pembatasan perjalanan.

Lembaga pemikir itu menyarankan agar Aliansi Intelejen Five Eyes yang terdiri dari Australia, Kanada, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat bisa membentuk pakta keamanan ekonomi bersama.

Artinya, jika China melakukan tekanan terhadap salah satu negara mitra, maka bisa melakukan aksi ekonomi atau diplomatik terhadap China.

Laporan itu juga memperingatkan kepada bisnis untuk mulai memikirkan risiko melakukan bisnis di China, melihat Beijing semakin sering menggunakan tekanan belakangan ini.

"Memperbaiki hubungan tidaklah memberi jaminan ini tidak akan terjadi lagi di masa depan," kata Emilia.

Ketika ditanya mengenai sanksi yang diterapkan China bulan Juni, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengatakan pemerintah tidak ingin cepat memperbaiki hubungan dengan mengorbankan prinsip yang ada.

"Kami adalah negara yang menganut perdagangan terbuka. Saya tidak mau mengorbankan nilai ini menghadapi tekanan yang datang dari siapa saja," katanya.

Namun akademisi University of Melbourne, Sow Keat Tok memperingatkan agar Australia berhati-hati, setelah melihat kasus terbaru penahanan wartawan Australia, Cheng Lei di Beijing.

"Ini tindakan balas membalas, dan kita tidaklah mau ini meningkat lebih buruk dari sekarang, jadi akan bermanfaat bila Canberra menurunkan tensi dalam pernyataan mereka," katanya kepada ABC.

Dr Tok mengatakan tidak berarti Australia harus takut menghadapi China, namun berhati-hati dalam keterlibatan dengan diplomasi lewat pernyataan saling menyerang di media.

"Kita memang harus berhati-hati dalam berhubungan dengan China. Saya kira kita tidak harus mengorbankan nilai kita dengan melakukan diplomasi diam-diam."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya.

Disadur dari laporannya dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini

(ita/ita)