Sulitnya Cari Kerja di Australia, Suzanna Asal Bandung Sudah Lamar 80 Pekerjaan

ABC Australia - detikNews
Jumat, 14 Agu 2020 13:45 WIB
Jakarta -

Sejak pertengahan Februari lalu, Suzanna Martanti sudah mencoba melamar hampir 80 pekerjaan. Bahkan ia pernah bersaing dengan 700 pelamar untuk jenis pekerjaan resepsionis klinik di Melbourne.

Suzanna, yang akrab dipanggil Uchan, memang kebanyakan melamar pekerjaan di sektor kesehatan yang pernah ia tekuni selama 10 tahun.

Uchan mengaku seringkali merasa sangat sedih setiap kali lamarannya tidak berhasil, tapi tak akan membuatnya menyerah.

"Ini menjadi sesuatu hal yang melelahkan tentunya, namun saya akan selalu mencoba," kata Uchan yang tinggal di kawasan Jacana.

Menurutnya, kompetisi yang semakin ketat di antara para pelamar pekerjaan merupakan salah satu dampak pandemi virus corona dan 'lockdown' yang masih diberlakukan di Melbourne.

Setelah proses lamaran ditutup, Suzanna yang melamar lewat situs pencari kerjaan SEEK, sering menerima email pemberitahuan yang mencantumkan berapa banyak orang yang melamar.

Ia pernah melihat 700 orang melamar untuk pekerjaan jenis paruh waktu, menggambarkan sulitnya mencari pekerjaan di Melbourne saat ini.

Job Application number

Supplied: Pemberitahuan dari SEEK yang diterima Suzanna mengatakan terdapat lebih dari 700 orang melamar pekerjaan yang sama dengannya, sebagai resepsionis medis.

Yun Qu, dokter psikologi di Australia mengatakan orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental harus mencari bantuan tenaga profesional sesegera mungkin, sebelum keadaan tersebut mengganggu kesehatannya secara keseluruhan.

Kepada komunitas migran di Australia, ia menyarankan untuk mengecek situs resmi Australian Psychological Society dan mencari psikolog yang dapat berbicara dalam bahasa mereka.

Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Australia mengatakan Pemerintah Australia "telah menginvestasikan banyak uang untuk meningkatkan layanan kesehatan mental yang bisa diakses semua warga Victoria, termasuk yang berasal dari komunitas dengan latar belakang budaya berbeda".

Awal tahun ini, Pemerintah Federal Australia telah mengumumkan paket kesehatan mental virus corona sebesar $59,4 juta.

Dari paket ini, organisasi seperti Asylym Seekers Resource Centre dan Victorian Foundation for Survivors of Torture menerima dana untuk "memberikan bantuan kesehatan mental dan melayani komunitas migran".

Bagi Uchan melakukan mempraktikkan mindfulness telah membantu memperbaiki kondisi mentalnya.

"Melakukan mindfulness, termasuk saat shalat, telah membantu saya untuk menyadari dan menikmati momen saat ini," katanya.

Berkomunikasi melalui video dengan keluarga, berolahraga, dan berjalan di luar rumah atau bersepeda merupakan aktivitas lain yang juga menurutnya bisa memperbaiki 'mood'-nya.

"Yang penting, saya melakukan apa yang saya bisa lakukan bersama keluarga saya," kata Suzanna.

"Mungkin nanti, ketika masa COVID selesai dan kita kembali disibukkan dengan kehidupan masing-masing, kita malahan akan merindukan saat-saat seperti saat ini, di mana ada banyak waktu dengan keluarga."

Artikel ini diproduksi oleh Natasya Salim.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

(ita/ita)