
ABC News: Chris Le Page: Warga Melbourne yang keluar setelah jam 8 malam hanyalah mereka yang bekerja di bidang-bidang tertentu, seperti perawatan atau sektor medis.
"Karena setiap hari harus bangun jam 4:30 pagi, jadi di atas jam 8 malam week day, saya biasanya enggak keluar rumah, udah ganti piyama siap-siap ke pulau mimpi," ujar Yennie Bonnie dari Balwyn North.
Cucu Juwita di Weribee juga menyambut aturan 'curfew' waktu beraktivitas di luar, karena ia berharap bisa mengurangi interaksi orang-orang meski merampas 'kebahagiaan'.
"Saya merasa kasihan dengan orang-orang muda yang sering pergi dan makan di luar, mereka pasti merasa terampas kebahagiaannya, apalagi kalau rumahnya di unit atau apartemen kecil, bisa jadi jenuh menghabiskan waktu malam yang panjang."
Seperti yang dirasakan oleh Amadeo Aderisan yang tinggal tepat di pusat kota Melbourne.
"Paling kangen makan Halal Snack Pack, biasanya baru mau makan itu sudah malam, kalau sore kurang asyik," ujarnya, yang sekarang sudah menyiapkan juga makanan di rumahnya.
Tapi, Brainly Daniel Sondakh dari Noble Park mengatakan aturan ini tidak masuk akal, menurutnya seharusnya diberlakukan di siang hari, di mana lebih banyak orang beraktivitas.
Beraktivitas hanya bisa sejauh lima kilometer
Warga Indonesia pemilik restoran, Juli Santoso di Carlton merasakan dampak dari pembatasan aktivitas lima kilometer bagi usahanya.
"Kami melihat daya beli dari pelanggan di kawasan pusat kota sudah agak melemah dan di kawasan suburb juga, orang-orang lebih berhati-hati untuk mengeluarkan uang," ujarnya.
Menurutnya minat yang turun ini tidak lepas dari sejumlah warga Indonesia yang kehilangan pendapatannya.
Ratna Lestari yang tinggal di kawasan South Yarra mengatakan batas lima kilometer itu sebenarnya masih luas.
"Lima kilometer ke utara, selatan, barat, dan timur, jadi sebenarnya tidak sesempit yang dikira, tapi yang penting apakah ada pasar, supermarket, apotek di radius tersebut?" kata Ratna.
Yovita Melia di pusat kota Melbourne mengatakan pembatasan maksimal lima kilometer untuk beraktivitas sebagai "konsep paling masuk akal" untuk menekan penularan COVID-19.
"Menurut saya ini tidak jadi masalah. Malah lebih bagus lagi, karena orang tidak bisa bepergian melebihi batas yang telah ditentukan sehingga lebih aman," ujar Brainly Daniel Sondakh, mahasiswa Indonesia yang tinggal di Noble Park.
Tapi mahasiswa Indonesia lainnya, Susan Purba di Noble Park mengatakan pembatasan jarak ini membuat praktiknya menjadi tertunda.
"Saya setuju dengan aturan ini karena artinya saya tidak harus berinteraksi dengan orang, namun, kesal juga dengan pemerintah tentang kenapa peraturan ini dikeluarkan ketika masa kritis, jadi kami yang tidak bisa sekolah online terganggu."
Bagi pekerja seperti Laurensius Aryoko di Ivanhoe peraturan ini menjadi sebuah tantangan agar bisa tetap menjalankan aktivitas perusahaan tempat ia bekerja tanpa harus melanggarnya.
Belanja hanya boleh seorang dari setiap keluarga
Katarina Sulia dari Balwyn mengatakan aturan hanya boleh satu orang dari setiap rumah tangga sebagai sesuatu yang berbeda, meski "tidak signifikan".
"Biasanya juga belanja sendiri, kecuali mau beli dalam jumlah besar, tentu perlu bantuan," ujar Katarina.
Kartika SIA pemilik katering di Blackburn mengatakan aturan ini "mengejutkan" dan berdampak bagi pebisnis yang memiliki toko.
"Belanja memang susah karena hanya satu orang, tergantung bisnisnya juga, karena bisnis saya skala kecil dan kita tidak stok barang sebelumnya, karena kita ingin pelanggar mendapat fresh. Puji Tuhan beberapa supplier kita tetap membantu," katanya.
Benidictus Jobeanto yang tinggal di Point Cook mengaku aturan ini akan berdampak pada keluarganya, karena biasanya ia dan berbagi tugas berbelanja di beberapa tempat.
Tapi ia mengaku menyambut baik aturan ini, supaya tidak terlalu banyak orang di luar, katanya kepada ABC Indonesia.
Cucu Juwita di Weribee mengatakan aturan ini menyulitkan, karena ia tidak bisa mengandalkan suami memilih apa yang ia ingin beli atau sebaliknya. Ia berharap jika bisa melakukannya secara daring.
Brainly Daniel Sondakh di Noble Park mengatakan aturan ini tidak masuk akal, karena ada ketidakjelasan, di mana bisa saja saat satu orang keluar maka orang berikutnya yang ingin belanja harus menunggu orang yang sedang berbelanja pulang.
Begitu pula dengan Kartini Tallasa di Forrest Hill mengaku agak keberatan dengan aturan ini karena tidak bisa lagi pergi berbelanja bersama keluarganya.
"Tapi demi kebaikan bersama untuk masyarakat, kami setuju dengan aturan tersebut. Dan ini tidak akan berjalan selamanya, hanya untuk enam minggu, jadi kami bisa menjalaninya," ujar Kartini.
Penerapannya pun menjadi pertanyaan Yovita Melia yang tinggal di pusat kota Melbourne dan pada akhirnya kembali pada "moral" warga dalam melakukannya.
"Karena anggapan saya pemerintah tidak tahu siapa saja yang tinggal dalam satu rumah. Dua orang bisa saja membawa trolley masing-masing dan dikira tinggal di rumah yang berbeda," katanya.
Berolahraga dibatasi sejam sehari
Bagi kebanyakan warga Indonesia di Melbourne yang menceritakan kabar mereka kepada ABC Indonesia, waktu berolahraga yang hanya boleh satu jam telah dirasa cukup.
Laurensius Aryoko di Ivanhoe mengatakan satu jam berolahraga bisa dimanfaatkan dengan misalnya 'jogging' yang dilakukan secara intens.
"Bagi saya olahraga juga bisa dilakukan dengan cara lain, misalnya dengan membersihkan rumah atau aktivitas domestik lainnya," kata Laurensius.
Benidictus Jobeanto yang tinggal di Point Cook mengatakan sejam memang waktu yang biasanya ia butuhkan untuk berolahraga.
"Kami biasa exercise memang sekitar satu jam, biasanya lari atau jalan memutar blok rumah, jadi enggak terdampak," ujarnya.
Tapi bagi Andara Harryman yang tinggal di Southbank aturan ini justru paling berdampak bagi dirinya.
"Karena sebelumnya [saya] bisa lebih lama berolahraga dan bersama dengan teman-teman," ujarnya.
Begitu pula dengan Nurul Mahmudah di South Yarra yang mengaku saat aturan pembatasan tahap tiga, ia dan pasangannya biasanya suka bersepeda enam sampai sepuluh kilometer.
"Sekarang ya bersepedanya hanya memutari sekitar Yarra River, nggak berani jauh-jauh dan nggak lebih dari satu jam," kata Nurul.