Pengangguran di Australia Naik, Mengapa Pemilik Kebun Takut Kekurangan Pekerja?

ABC Australia - detikNews
Jumat, 31 Jul 2020 16:06 WIB
Jakarta -

Pemerintah Australia tidak melihat pekerjaan di perkebunan sebagai solusi bagi warga Australia yang sedang menganggur. Kini mereka mencoba menemukan solusi dengan mencari warga dari luar Australia di tengah pembatasan perjalanan karena COVID-19.

Kelompok lobi pertanian 'National Farmers Federation' (NFF) mengatakan perkebunan di Australia akan kekurangan pekerja tahun ini.

Padahal, ketika perbatasan perjalanan diberlakukan awal tahun ini, masih ada lebih dari 140.000 'backpacker' dan lebih dari 7.000 orang penduduk Pasifik yang memegang visa kerja di Australia.

Namun, jumlah tersebut sudah menurun ke angka 85.000, sementara angka pengangguran hampir mencapai 10 persen.

Wakil kepala Partai Nasional Australia, David Littleproud mengatakan sedang bekerja sama dengan anggota kabinetnya untuk menemukan solusi soal sedikitnya jumlah pekerja kebun ini.

"Bahkan ketika tunjangan sosial yang diberikan hanyalah AU$550 (Rp5,7 juta) untuk dua minggu, kami masih tidak dapat menarik orang untuk mau memetik buah," kata David.

"Ada keengganan dalam diri orang Australia untuk memetik buah. Kami sudah terlalu lama bergantung pada tenaga kerja dari luar Australia dan kami akan berusaha mendukung ini terus dilakukan," tambahnya.

David khawatir keengganan ini akan semakin parah ketika Pemerintah Australia menggandakan jumlah tunjangan uang 'Newstart', di samping melanjutkan tunjangan uang 'JobKeeper'.

Skema 'JobKeeper' adalah pengganti tunjangan 'Newstart', yang memberi tunjangan uang bagi warga Australia berusia 22 tahun hingga pensiun.

"Tunjangan ini membuat orang-orang semakin malas meninggalkan rumah mereka untuk berkendara ribuan kilometer, memetik buah selama enam minggu, lalu pulang."


Pemilik kebun stroberi Queensland khawatir dari mana tenaga kerja mereka akan berasal. (Brad Marsellos)

Pemilik kebun perlu rencana lain

Kelompok lobi pertanian National Farmers Federation (NFF) telah meluncurkan gerakan untuk membantu pemilik kebun mencari pekerja.

"Kami mendesak pemilik kebun untuk menyiapkan rencana cadangan untuk mencari pekerja, berdasarkan asumsi jika mereka memiliki akses terbatas ke tenaga kerja dari luar," kata Tony Mahar, ketua NFF.

"Kami tahu pekerjaan paruh waktu dan musiman di kebun belum tentu cocok dengan semua orang," katanya.

"Tapi, kami mendorong pencari kerja untuk tetap berpikir terbuka mengenai apa yang sedang tersedia."

Tony mengatakan pekerja kebun pada umumnya dapat menerima pendapatan hingga $1,000, atau lebih dari Rp10,3 per minggunya.

Simak berita lainnya di ABC Indonesia.

(ita/ita)