Nasib Mahasiswa Indonesia yang Batal ke Australia karena Pandemi COVID-19

ABC Australia - detikNews
Kamis, 30 Jul 2020 08:56 WIB
Jakarta -

Masih ditutupnya perbatasan Australia bagi warga negara asing telah menahan langkah mahasiswa baru asal Indonesia yang hendak kuliah di Australia. Padahal mereka sudah siap terbang untuk memulai menuntut ilmu di negara baru.

Seperti yang dialami Humberto Brian Buntoro, akrab disapa Brian, yang seharusnya terbang ke Sydney bulan Agustus nanti untuk melanjutkan studinya di University of New South Wales (UNSW).

Brian yang berasal dari Jakarta terpaksa membatalkan rencana untuk mempelajari bidang Manajemen Bisnis di Sydney, karena ketidakpastian di tengah pandemi COVID-19.

"Menurut saya ini adalah keputusan yang agak sulit, karena sudah planning [merencanakan] semuanya, dari IELTS, rapor semua dari A ke Z sudah di-prepare [dipersiapkan]," kata Brian.

Mendengar kabar soal penularan virus corona di Jakarta semakin parah April lalu, ia khawatir akses keluar-masuk antar Indonesia dan Australia akan menjadi semakin sulit ke depannya.

Apalagi sempat ada berita dari Australia yang menarik perhatiannya, yang menyebutkan Indonesia akan menjadi pusat baru penularan virus corona.

Ia mengaku khawatir jika dia tidak bisa kembali ke Indonesia lagi dan "takut di-'lockdown'".

Brian yang sudah berharap bisa mendapat pengalaman kuliah di luar negeri, memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S1 di Indonesia.

"Jujur kuliah di Australia sebenarnya bukan keinginan saya. Kalau saya ke mana saja boleh cuma karena kakak saya ada di Australia, saya diminta menemani," katanya.

"Kuliah di Indonesia pun tidak apa-apa. Kalau ada kondisi apa saja saya terima. Mungkin ada rencana Tuhan yang lebih baik, daripada memaksakan dan menyesal."

Ia merasa beruntung karena belum sempat membayar uang kuliah du Australia, sehingga tidak terbebani ketika harus mengubah rencana kuliahnya.

Duta Noor Vijaya Rianto

Boni memutuskan untuk memundurkan semesternya hingga Februari 2021 dan mengorbankan kesempatan untuk memperoleh cum laude. (ABC News)

Keberadaan mahasiswa internasional dinilai sangat penting bagi perekonomian Australia karena menyumbang pendapatan sebesar AU$40 milyar setiap tahunnya.

Selain itu, mereka telah membantu menciptakan lebih dari 250.000 lapangan pekerjaan di Australia dari tahun ke tahun.

Namun, terhitung akhir tahun lalu, Departemen Dalam Negeri Australia mencatat jumlah warganegara Indonesia yang sudah membatalkan visa pelajar mereka ke Australia.

"Sebanyak 165 warganegara Indonesia telah meminta agar visa pelajar mereka dibatalkan di tahun 2019-20," kata juru bicara departemen tersebut kepada ABC Indonesia.

Dalam rilis media yang dikeluarkan departemen tersebut 20 Juli lalu, Pemerintah Australia memberlakukan lima perubahan ketentuan visa pelajar untuk meringankan beban mereka.

"Lima perubahan ini adalah untuk memastikan kondisi mahasiswa internasional tidak memburuk karena pandemi virus corona," bunyi rilis tersebut.

Menteri Urusan Imigrasi Alan Tudge mengatakan kesehatan seluruh masyarakat di Australia adalah kunci, namun tidak ingin mahasiswa internasional lebih dirugikan oleh COVID-19.

"Kita adalah negara yang menerima pendatang, menyediakan sistem pendidikan kelas dunia, serta memiliki tingkat penyebaran COVID-19 yang rendah," katanya.

"Para mahasiswa ini ingin kuliah di sini dan kita ingin menyambut mereka kembali dalam keadaan aman."

Beberapa usaha untuk menjemput mahasiswa internasional di luar Australia sempat dibicarakan.

Namun, hingga kini, belum ada waktu pasti kapan Australia akan membuka perbatasannya bagi mahasiswa internasional.

Boni berharap Pemerintah Australia dapat memperjelas keputusan tersebut.

"Karena ini pandemi, kita hanya bisa berharap yang terbaik. Cuma saya sebenarnya ingin ada sedikit kejelasan dari pihak Australianya dibukanya kapan."

Tonton video 'Kemendikbud Minta Universitas Beri Pulsa Mahasiswa':

[Gambas:Video 20detik]



Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

(ita/ita)