Banyak Teori Konspirasi Beredar, Sejumlah Warga Australia Enggan Dites COVID-19

ABC Australia - detikNews
Kamis, 16 Jul 2020 15:05 WIB
Jakarta -

Melbourne sedang melakukan tes virus corona besar-besaran untuk mengendalikan kasus penularan yang baru terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Tetapi di media sosial, peningkatan jumlah tes disertai juga dengan meningkatnya informasi yang keliru dan teori konspirasi soal keamanan prosedur tes COVID-19.

Dalam beberapa unggahan disebutkan jenis tes COVID-19 yang dilakukan saat ini tidak dapat mendeteksi virus dan malah disebut berbahaya.

Sebagian besar konten dari Facebook dan Instagram yang dikirimkan ke ABC terkait dengan tes COVID-19 yang dikenal sebagai tes polimerase, atau PCR.

Man with glasses wearing orange facemask has plastic swab inserted in nostril by woman wearing blue gloves and yellow gown.

Kebanyakan orang di Australia yang tidak mau dites adalah karena ketidaknyamanan saat harus melakukan swab di lubang hidung atau telinga mereka. (Japanexperterna.se/Flickr (CC BY-SA 2.0))

Menurut data Crowdtangle, tautan tersebut telah dibagikan oleh puluhan halaman Facebook yang terkait dengan teori anti-vaksinasi dan konspirasi QANON, dengan hampir 200.000 pengikut.

Orang-orang yang percaya pada konspirasi dimotivasi oleh ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan merasa yakin jika mereka sudah ditipu, kata Dr Klein, sehingga teori yang mereka buat juga tidak konsisten.

Alasan banyak orang menolak dites

Lonjakan informasi yang salah ini terjadi ketika Australia menghadapi tingginya kembali penularan virus corona di negara bagian Victoria dan di saat pemerintah mendorong warga untuk dites

Jane Williams, seorang peneliti dari Sydney Health Ethics di University of Sydney, baru-baru ini menulis dalam The Conversation tentang mengapa orang mungkin menolak dites COVID-19.

Dia mengatakan masih tidak cukup tahu motivasi dari mereka yang menghindari tes, apakah mereka merasa kebingungan, ketakutan atau masalah keuangan, dan saat ini kita juga tidak dapat mengukur apakah kesalahan informasi online berdampak pada keputusan tersebut.

Dr Williams mengatakan, ada baiknya melihat kasus penolakan vaksinasi sebagai perbandingan.

"Informasi yang salah mendorong beberapa orang untuk tidak melakukan vaksinasi, tetapi sebagian besar dari mereka yang tidak divaksinasi bukan karena kepercayaan, melainkan faktor kepraktisan," katanya, seperti kemudahan dan biaya akses.

Baca juga berita terkait pandemi corona

Beberapa grup di Facebook yang membagikan informasi salah soal pengetesan memiliki rekam jejak menyebut virus itu sebagai hoaks, serta menyebarkan teori konspirasi di balik aturan jarak sosial dan 'lockdown'.

Peneliti dari University of Melbourne George Buchanan telah mengamati diskusi online tentang COVID-19 pada platform seperti YouTube dan Twitter.

Dalam beberapa minggu terakhir, ia telah mengamati meningkatnya kekhawatiran tentang tes yang disebarkan di media sosial.

Beberapa orang juga menyebarkan kekhawatiran tentang dampak fisik setelah dites.

Secara umum, ia mengamati unggahan anti-tes sebagian besar berasal dari luar negeri, bukan dari Australia.

"Banyak kelompok anti-tes datang dari orang-orang yang memperdebatkan satu dari dua hal: antara 'kondisi ini tidak benar-benar terjadi' dan 'mengapa harus dites kalau tidak perlu?'" katanya.

"Atau, ada orang-orang yang mengklaim bahwa tenaga medis dan politisi melebih-lebihkan [situasi] untuk membuat orang takut."

Tonton video 'Rekor Tertinggi! Australia Laporkan 317 Kasus Positif Covid-19 Sehari':

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

(ita/ita)