India Larang TikTok, Amerika dan Australia akan Melarang, Bagaimana Indonesia?

ABC Australia - detikNews
Kamis, 09 Jul 2020 14:02 WIB
Jakarta -

Aplikasi TikTok menjadi aplikasi terpopuler di kalangan remaja belakangan ini. Tapi baru sekarang terasa dampak dari penggunaan TikTok yang memiliki hubungan kuat dengan China.

Aplikasi berbagi video pendek diluncurkan oleh perusahaan yang berbasis di Beijing, Bytedance, pada tahun 2018.

TikTok menjadi salah satu generasi awal aplikasi asal China yang sukses di luar negeri, dengan lebih dari 1,6 juta penggunanya ada di Australia.

Anggota parlemen Australia sebelumnya telah menyerukan pengawasan yang lebih besar terhadap TikTok terkait praktik pengumpulan data, karena terkait dengan kepemilikan China.

Mengapa orang begitu khawatir tentang TikTok?

Data apa yang dikumpulkan TikTok?

A picture of the tiktok logo, which looks like a musical note, with a silhouette of a person holding a phone.

TikTok telah dikhawatirkan oleh banyak negara karena kemungkinan data yang terkumpul diberikan ke Pemerintah China. (Supplied: ABC News)

Peter Micek adalah anggota kelompok advokasi hak konsumen digital, 'Access Now'.

Menurutnya, di satu sisi TikTok telah menjadi keluhan dan bahan penyelidikan terkait perlindungan data global, namun ada keprihatinan yang sama pada banyak aplikasi lain.

"Australia, seperti negara demokrasi lainnya, harus fokus pada memastikan standar privasi yang kuat dan penegakan perlindungan data di semua layanan media sosial," katanya.

Sebagai penasihat senior keamanan nasional, Katherine Manstead setuju jika ada risiko yang sama di platform lainnya.

Menurutnya campur tangan asing, penyensoran, atau informasi yang keliru tidak boleh terbatas pada TikTok.

"Ada cara lain yang selain larangan. Kita bisa membuat lebih banyak persyaratan untuk transparansi data, misalnya apakah data ini bisa diakses oleh pemerintah, atau transparansi tentang algoritma, sehingga kecil kemungkinan menguntungkan pihak asing," katanya.

Dia juga mengatakan ada risiko lain, termasuk pemerintah asing yang menjalankan akun palsu atau 'bott' atau membeli data dari penyedia data yang sah.

"Ada dugaan bahwa China sedang mengambil data besar-besaran," katanya.

Sementara itu, pengguna TikTok Australia menanggapi kemungkinan TikTok akan dilarang di Australia dengan mengirimkan pesan ke akun twitter di Perdana Menteri Scott Morrison.

Mereka juga mengedarkan petisi yang menentang pelarangan penggunaan TikTok.

Seorang pengguna mengunggah video berisi tweet palsu yang seolah-olah berasal dari akun Perdana Menteri dengan mengatakan TikTok akan dilarang di Australia. Video ini diberi judul "SCOMO NO!!!"

Tonton juga 'Amerika Serikat Pertimbangkan untuk Blokir TikTok':

[Gambas:Video 20detik]

(ita/ita)