Orang Tua di Filipina Paksa Putrinya Bertindak Seksual Untuk Dijual ke Pedofil

ABC Australia - detikNews
Kamis, 02 Jul 2020 14:01 WIB
Jakarta -

Aparat Kepolisian Federal Australia (AFP) yang menggerebek rumah seorang pedofil di Queensland terkejut mendapati bahan-bahan pelecehan seksual anak-anak ternyata disiapkan oleh ibu dari anak-anak itu sendiri.

Orang Tua Menjual Anak Sendiri

  • Eksploitasi seksual terhadap anak-anak di Asia Tenggara meningkat tiga kali lipat sejak pandemi dimulai
  • Sejak Mei delapan perempuan Filipina ditahan karena menjual jasa anak-anak mereka di internet
  • Beberapa pria Australia ditahan atas tuduhan membeli jasa layanan seksual di Filipina

Salah satunya dilakukan oleh Vilma (bukan nama sebenarnya) yang berusia 36 tahun. Ia adalah contoh dari banyak warga Filipina yang hidup dalam kemiskinan di Cebu.

Dia memiliki empat orang anak berusia antara 7 sampai 11 tahun dan harus mencari cara baru untuk bisa menghidupi diri dan keluarganya.

Dalam masa lima tahun, Vilma merekam video dan foto-foto, dan kemudian menayangkannya lewat internet dimana anak-anaknya melakukan tindakan serius.

Tayangan itu dijual kepada para pedofil di Australia, Jerman dan Amerika Serikat.

Untuk tayangan itu Vilma mendapat bayaran antara Rp 150 ribu sampai Rp 6 juta.

Pedofil ini akan menghubungi Vilma lewat media sosial seperti Facebook Messenger atau WhatsApp.

Kemudian dalam tayangan langsung, anak-anak ini dipaksa melakukan gerak-gerak seksual yang ditayangkan lewat kamera untuk kepuasan para pria yang membayar.

Seorang anak perempuan mengatakan dia tidak ingat lagi berapa kali dia harus melakukan hal tersebut atas paksaan ibunya.

Barulah setelah petugas AFP menggerebek rumah seorang pedofil di Queensland, mereka menemukan apa yang dilakukan Vilma.

Polisi menemukan pria tersebut membayar untuk jasa video livestream dari Filipina.

A woman in an orange top standing before a judge in a court room

Vilma (kanan) dikenai hukuman penjara 20 tahun dan harus membayar kompensasi kepada anak-anaknya. (Reuters: Eloisa Lopez)

Jumlah perempuan yang ditahan karena memfasilitasi kegiatan ini juga meningkat sejak pandemi dimulai beberapa bulan lalu.

Sejak bulan Mei, delapan perempuan Filipina sudah ditahan karena menjual anak-anak mereka di internet, dan 56 anak-anak sudah diselamatkan oleh pihak berwenang.

Dalam satu kasus, tujuh anak-anak termasuk bayi perempuan berusia tiga bulan diselamatkan dari sebuah rumah di pinggiran kota Manila.

Ibu mereka yang berusia 28 tahun dikenai tuduhan menjual dua anak laki-laki dan dua anak perempuannya kepada pedofil di internet.

Seorang tetangga perempuan juga dikenai tuduhan mengambil uang kirim dari sebuah tempat penerimaan.

"Pelaku mungkin melihat tindakan mereka sebagai tindakan beresiko rendah karena mereka melakukannya dari rumah mereka sendiri," kata Sersan Detektif Marshall yang sekarang ditugaskan oleh AFP di Manila.

Para petugas AFP ditugaskan di Filipina guna membantu negeri itu menangani kejahatan seksual online tersebut dan menemukan pelaku pedofil asal Australia berdasarkan informasi atau jejak transaksi keuangan yang dilakukan.

Beberapa warga Australia sudah ditahan selama beberapa bulan terakhir dan dikenai tuduhan melakukan kejahatan seksual melibatkan anak-anak di Filipina.

Lihat artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini

(ita/ita)