Mengapa Australia Masih Terima Kedatangan Luar Negeri Saat Pandemi Corona?

ABC Australia - detikNews
Selasa, 30 Jun 2020 17:38 WIB
Melbourne -

Meski negara bagian Victoria sedang berjuang mengatasi meningkatnya penularan virus Corona antar warga, kebanyakan kasus penularan virus Corona di Australia tercatat berasal dari luar negeri.

Kebanyakan mereka yang kembali ke Australia, atau yang sedang dikarantina di hotel, adalah warga negara atau penduduk tetap (permanent resident).

Inilah pembahasan mengenai dari mana berasal:

Dari mana penularan berasal?

2 travellers stand before a Perth hotel desk. 2 masked security guards offer to take their luggage.

Karantina hotel sudah diberlakukan di Australia sejak pertengahan Maret. (ABC News: James Carmody)

Menurut laporan epidemiologi yang diterbitkan oleh Kabinet Nasional Australia, kebanyakan kasus Corona di Australia didapat ketika warga berada di luar negeri, dengan kebanyakan di Eropa atau dari kapal pesiar.

Namun di bulan Mei, data dari mereka yang tertular berasal negara-negara Eropa dan kapal pesiar sudah jauh berkurang.

"Selama empat minggu terakhir sampai hari Minggu 21 Juni 2020, kebanyakan kasus yang dilaporkan berasal dari mereka yang melakukan perjalanan ke Asia Tengah, Asia Selatan, Afrika Utara, Timur Tengah atau di laut," kata juru bicara Departemen Kesehatan Australia.

"Beberapa kasus juga berasal dari mereka yang berkunjung ke Amerika, Eropa dan benua Afrika kawasan Sahara."

Penjelasan Tiga Tahapan Pelonggaran

Pelonggaran aturan pembatasan pergerakan aktivitas di Australia akan dilakukan secara bertahap.

Menurut laporan sebelumnya, di awal-awal pandemi, seluruh kasus penularan yang ada di Australia memiliki riwayat pernah ke China.

Sejak angka penularan dari China menurun di pertengahan bulan Maret, kebanyakan kasus yang kemudian terdeteksi berasal dari Eropa dan Amerika Serikat.

Juru bicara Departemen Kesehatan Australia mengatakan ini adalah warga yang pulang dari Asia Tengah, Asia Selatan, Afrika Utara, dan Timur Tengah kebanyakan mendapat bantuan dari pemerintah untuk pulang ke Australia.

"Karena adanya pembatasan internasional, mereka yang tiba di Australia pada umumnya lewat penerbangan sewaan," katanya.

Siapa saja yang kembali ke Australia?

Saat ini hanya warga negara Australia, warga dengan status permanent resident (PR), serta keluarga mereka yang diizinkan kembali ke Australia.

'Australian Border Force' memberikan beberapa pengecualian untuk alasan tertentu, seperti untuk diplomat, mereka yang diundang Pemerintah Australia, serta mereka yang memiliki "ketrampilan khusus".

Namun kebanyakan adalah warga Australia yang kembali ke negara mereka.

Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) mengatakan lebih dari 25 ribu warga sudah kembali dengan penerbangan sewaan, dengan ratusan ribu kembali cara masing-masing sejak pertengahan bulan Maret.

"Lebih dari 348 ribu warga negara dan permanent resident sudah kembali ke Australia sejak 13 Maret 2020," kata juru bicara DFAT.

"Sampai tanggal 29 Juni, DFAT telah membantu 26 ribu warga dan permanent resident kembali dengan lebih dari 315 penerbangan, 60 penerbangan itu difasilitasi langsung oleh pemerintah."

Sebagian besar bantuan pemerintah diberikan untuk membawa kembali warga Australia dari negara di Asia Selatan seperti Bangladesh, India dan Nepal, serta negara lain seperti Lebanon, Afrika Selatan, Filipina, Thailand dan Peru.

Lebih dari 60 ribu orang sudah menjalani karantina di hotel sejak aturan diberlakukan dan ada lebih banyak lagi warga Australia kembali dengan penerbangan khusus dari seluruh dunia.

Pengetesan COVID-19 ditingkatkan di hotel

Hari Jumat, di hari terakhirnya menjabat sebagai Chief Medical Officer Australia, Profesor Brendan Murphy mengatakan risiko penularan dari berbagai negara terus berubah karena penyebaran virus tersebut.

"Profil masing-masing negara yang menjadi sumber penularan terus berubah. Sekarang kita melihat kasus impor di karantina hotel berasal dari beberapa negara berbeda," katanya sebelum mengumumkan peningkatan pengetesan terhadap mereka yang dikarantina di hotel.

Mereka yang menjalani karantina di hotel dites ketika mereka datang, saat dikarantina, dan mereka yang tidak memenuhi aturan di Victoria akan menjalani karantina tambahan 10 hari lagi.

Peraturan diubah setelah muncul laporan bahwa 30 persen dari mereka yang menjalani karantina menolak untuk dites.

"Ada berbagai alasan mengapa ada yang tidak mau dites, termasuk anak-anak, orang tua yang tidak mau anaknya menjalani tes swab untuk anak-anak mereka," kata Wakil Chief Medical Officer, Nick Coatsworth.

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini

(nvc/nvc)