Warga Aceh Menuai Pujian Dunia Selamatkan 100 Pengungsi Rohingya di Laut

ABC Australia - detikNews
Senin, 29 Jun 2020 16:54 WIB
Jakarta -

Warga Desa Lancok berhasil menolong sekitar 100 pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di atas perahu mereka di perairan Aceh Utara pekan lalu. Para pengungsi meminta disiapkan perahu yang bagus karena mereka sebenarnya ingin ke Australia.

Hingga saat ini, para pengungsi telah mendapatkan bantuan makanan dari warga yang berada di Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara. Namun sebagian di antara mereka masih memerlukan bantuan medis setelah berada di lautan selama lima bulan.

Menurut Rima Shah Putra dari LSM Yayasan Geutanyoe di Aceh, sejumlah pengungsi perempuan mengalami masalah higienis dan gatal-gatal, katanya saat dihubungi ABC.

Pihak berwenang juga telah melakukan tes virus corona dan dari hasilnya dipastikan tidak ada yang tertular.

Sebanyak 79 pengungsi diantaranya kaum perempuan dan anak-anak yang kini ditampung sementara di salah satu fasilitas imigrasi.

This drone shot shows a boat carrying ethnic-Rohingya Muslims from above.

Perahu yang membawa sekitar 100 pengungsi Rohingya ke pesisir Seunuddon, Aceh Utara, pada Rabu (24/06), setelah nelayan setempat menemukan mereka terombang-ambing di atas perahu reyot sekitar 6 km dari pantai. (AP: Zik Maulana)

Orang Aceh yang menolong para pengungsi Rohingya ini memiliki sejarah konflik sendiri, yaitu pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka terhadap Pemerintah Indonesia yang terjadi antara tahun 1976 dan 2005.

Selama konflik tersebut, sebagian orang Aceh melarikan diri sebagai pengungsi ke negara-negara tetangga termasuk Malaysia dan Australia.

Pemberontakan GAM berakhir setelah bencana tsunami 2004 yang menghancurkan wilayah itu.

"Mungkin karena orang Aceh sendiri pernah menderita di masa sebelumnya, harus melarikan diri dari konflik dan karena tsunami," ujar Rima dari Yayasan Geutanyoe.

Namun ia mengatakan kapasitas masyarakat Aceh untuk menampung para pengungsi juga terbatas.

"Pada akhirnya, rakyat Aceh menginginkan ASEAN turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan ini bersama-sama," ujarnya.

"Kami bukan masyarakat yang kaya-raya," tambahnya.

Malaysia sebelumnya telah mengizinkan pengungsi Rohingya datang dengan perahu dari Bangladesh atau Myanmar, tapi sejak April lalu, Pemerintah negara itu menolak sebuah perahu yang membawa sekitar 200 pengungsi karena kekhawatiran soal COVID-19.

8 Juni lalu, sebuah perahu rusak saat membawa ratusan pengungsi Rohingya yang mendarat di pesisir Malaysia.

Mereka yang selamat menceritakan puluhan rekannya telah tewas dalam perjalanan berbulan-bulan dari Bangladesh.

Para advokat takut jika orang-orang ini, 269 di antaranya saat ini ditahan, juga pada akhirnya akan dikembalikan ke laut oleh otoritas Malaysia.

Direktur Asia pada Human Rights Watch, Brad Adams menyatakan, meskipun Myanmar jelas harus bertanggung jawab atas penderitaan para pengungsi Rohingya, Malaysia dan Thailand juga jangan lagi menutup mata pada risiko dan penderitaan yang dihadapi pengungsi di laut.

Pada April lalu, petugas pantai Bangladesh menyelamatkan hampir 400 orang Rohingya yang terombang-ambing di laut selama berminggu-minggu setelah gagal mencapai Malaysia.

Tonton video '94 Pengungsi Rohingya Ditemukan Terapung di Laut Aceh':

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.

(ita/ita)