Australia Kehilangan 50 Ribu Backpacker, Bagaimana Peluang WHV Asal Indonesia?

ABC Australia - detikNews
Jumat, 26 Jun 2020 08:51 WIB
Canberra -

Akibat pembatasan kedatangan ke Australia, pekerjaan yang biasanya terisi backpacker menjadi kosong. Tapi tetap saja bagi sejumlah 'backpacker' tidaklah mudah mendapatkan kerja di tengah pandemi virus corona.

Seperti yang dijelaskan oleh Erick Tjendrawira, yang sudah enam bulan berada di Australia menggunakan visa Work and Holiday (WHV).

Erick merasa beruntung masih bekerja di sebuah pabrik makanan yang memproduksi protein bar, sejenis makanan ringan.

"Sebenarnya pekerjaan di Australia banyak sebelum ada COVID-19. Tetapi gara-gara situasi COVID-19 agak susah untuk cari pekerjaan," katanya.

Erick mencontohkan, sebelum masa pandemi, ia menemukan banyak lowongan pekerjaan di Facebook group yang ia ikuti.

Erick Tjendrawiria masih bekerja di sebuah pabrik pembuat makanan di Melbourne

Erick Tjendrawiria masih bekerja di sebuah pabrik pembuat makanan di Melbourne (Koleksi pribadi)

Ada banyak warga Indonesia yang tinggal di kawasan 'hostpot' penularan virus corona di Australia.

'Tetap kerja, malah bertambah'

Retha, nama panggilan dari Delanera Bianca Margaretha, sekarang sedang menempuh pendidikan di bidang bisnis di Melbourne.

Retha yang berasal dari Blitar, Jawa Timur ini di sela-sela kuliahnya juga bekerja sebagai 'cleaner', atau petugas kebersihan di sebuah pusat perkantoran di Collins St di kawasan kota Melbourne.

Selama empat bulan terakhir di masa pandemi ini, Retha masih bekerja.

Ia merasa beruntung masih bisa bekerja, mengingat banyak kantor yang karyawannya sebagian besar bekerja dari rumah.

"Ya selama pandemi saya tetap bekerja, dan pekerjaan juga malah bertambah."

"Biasanya cuma general cleaning di hari kerja, sekarang bertambah general cleaning di hari kantor dan deep cleaning di akhir pekan." kata Retha kepada wartawan ABC Sastra Wijaya.

Pada awalnya, Retha sempat khawatir dia akan kehilangan pekerjaan, karena kantor yang biasanya ia bersihkan sudah menjalankan work from home.

Namun, menurutnya, di kantor tersebut masih ada 2-3 orang yang bekerja setiap harinya sehingga tetap harus ada orang yang membersihkan kantor.

"Jam kerja saya sesuai kontrak sebenarnya jam 15.00 sampai 1900 setiap hari. Tapi karena di jam segitu tidak ada yang bekerja saya jadi dialihkan jam 17.30 sampai 21.30 malam."

Dari sejumlah tenaga kebersihan di kantor tersebut, Retha menjadi salah satu yang masih diperbolehkan bekerja karena faktor usia.

"Banyak cleaner yang sudah berusia 50 tahunan ke atas dianjurkan untuk ambil cuti tahunan karena untuk menjaga kesehatan mereka juga."

Bekerja sebagai tenaga kebersihan, Retha mengaku tidak malu atau gengsi.

"Saya tidak merasa gengsi. Karena saya memang hobi bersih-bersih, justru malah jadi peluang buat saya dapat hobi yang dibayar," katanya lagi.

Bahkan, karena pekerjaannya inilah sudah setahun belakangan ini Retha mengaku sudah mandiri dan tidak lagi mengandalkan kiriman dari orang tua untuk biaya hidup dan bayar uang kuliah.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

(ita/ita)