Program Belajar Bahasa Indonesia untuk Siswa Australia Terancam COVID-19

ABC Australia - detikNews
Rabu, 24 Jun 2020 12:48 WIB
Canberra -

Larangan berpergian ke luar negeri karena pandemi virus Corona telah membuat sedih warga Australia yang memiliki hubungan kuat dengan Indonesia, termasuk mereka yang hendak belajar bahasa dan budaya Indonesia.

KP ACICIS

  • Alumni ACICIS mengaku sangat diuntungkan dengan pengalaman belajar langsung di Indonesia
  • Budaya Indonesia perlu diperkenalkan dengan kekinian untuk menarik minat
  • Pelajar Australia yang belajar di Indonesia masih sedikit dibanding pelajar Indonesia di Australia

'Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies', atau ACICIS, adalah konsorsium yang sejak berdiri di tahun 1994 telah menyediakan kesempatan bagi 3.000 mahasiswa Australia untuk belajar dan bekerja di Indonesia selama satu semester atau enam bulan.

Sejak Pemerintah Australia mengeluarkan larangan untuk warganya pergi ke luar negeri, ACICIS seolah "lumpuh" dan "terancam punah".

Mereka mengaku telah kehilangan 90 persen pendapatan tahunannya, yang setara dengan pembayaran dari 500 orang mahasiswa.

Hal ini disayangkan oleh Liam Prince, Direktur Konsorsium ACICIS, yang melihat organisasi tersebut sebagai "hasil kerja keras, energi, dan kreativitas dari banyak pihak selama 25 tahun".

"Saya pastinya masih akan tetap memperjuangkan agar organisasi ini tidak tutup secara permanen," kata Liam dalam wawancara via telepon bersama Natasya Salim dari ABC News.

LIAM PRINCE KANTOR

Liam Prince mengatakan tengah menjalin komunikasi dengan Pemerintah Australia dan pihak universitas demi mempertahankan ACICIS. (Koleksi pribadi)

Mendapat kerja karena kemampuan Bahasa Indonesia

Upaya yang dilakukan Liam tidak lepas karena manfaat yang ia rasakan sendiri saat belajar di Indonesia melalui program ACICIS 20 tahun yang lalu.

Melalui kesempatan tersebut, Liam yang sempat mengambil beberapa mata kuliah di Universitas Gadjah Mada, bisa menemukan daya tarik Indonesia setelah satu tahun tinggal di Yogyakarta dan Salatiga.

"Ketika menyelesaikan program tersebut, saya benar-benar ketagihan pada gagasan dan tantangan untuk membangun hubungan yang lebih dekat antara Australia dan Indonesia," kata Liam.

Apalagi ia berhasil menjalin hubungan baik dengan teman-teman kosnya saat itu.

Pengalaman tinggal di Indonesia juga telah memberikannya pekerjaan sesuai dengan minatnya, seperti mempromosikan pembelajaran Bahasa Indonesia di universitas, sebelum akhirnya menjadi Direktur Konsorsium ACICIS.

"Menurut saya, kalau dalam hal karier, Bahasa Indonesia dan pengetahuan yang luas tentang Indonesia menjadi kunci dalam mendapatkan pekerjaan selama 10 tahun terakhir," kata Liam.

"Saya sangat beruntung ... pada akhirnya meniti karier dan banyak pekerjaan yang secara langsung berhubungan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia dan ilmu umum tentang Indonesia ... ini adalah hal yang langka."

Jadi guru agar Bahasa Indonesia terus dipakai

Kemudahan dalam meniti karier karena kemampuan berbahasa Indonesia juga dialami Kirrilly McKenzie, alumni ACICIS lainnya.

Ia malah merasa dirinya terpanggil untuk menjadi guru Bahasa Indonesia setelah tinggal dan belajar di Indonesia selama satu tahun lamanya.

Kirrilly yang sebelumnya ingin bekerja di bidang diplomasi berubah pikiran setelah menyadari dengan menjadi guru Bahasa Indonesia, ia dapat menggunakan kemampuan berbahasa tersebut setiap hari.

"Saya belajar kata-kata baru, struktur tata bahasa baru, dan bagaimana agar dapat lebih jauh mengerti [bahasa itu sendiri] setiap harinya," kata Kirrilly.

Saat mengikuti program ACICIS di tahun 2013, Kirrilly sempat mengajar Bahasa Inggris di Yogyakarta, menulis artikel yang diterbitkan di media Indonesia, hingga mewawancarai pengunjung pusat perbelanjaan di Bandung untuk melengkapi skripsinya.

Minat belajar Bahasa Indonesia turun karena media

Kirrilly mengatakan Indonesia memiliki citra negatif di mata warga Australia karena pemberitaan soal Indonesia di Australia.

Akibatnya sisi positif dari Indonesia, seperti budaya dan bahasanya menjadi seolah disembunyikan.

"Ada sebuah sekolah di Canberra yang mengajar Bahasa Indonesia, namun karena orangtua bersikeras tidak mengizinkan anaknya belajar Bahasa Indonesia, programnya dibatalkan," katanya.

Padahal menurutnya satu-satunya cara murid untuk mengetahui hal baik soal Indonesia justru lewat kelas dan perlu dukungan sekolah.

"Menurut saya pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah adalah salah satu cara untuk meningkatkan [pengertian] dan mendidik orang-orang tentang hubungan antara Australia dan Indonesia."

Menurut Kirrilly, yang berusia 28 tahun, di zaman media sosial seperti sekarang ini, pendekatan mengajar Bahasa Indonesia harus mengedepankan aspek modern ketimbang pendekatan tradisional yang pada umumnya digunakan.

"Terkadang kita terperangkap dalam aspek tradisional Indonesia, misalnya mengajarkan tentang gamelan, batik, atau angklung, yang menurut saya juga keren dari Indonesia. Namun, ini terlalu sempit."

Untuk membuat pengalaman belajar lebih menarik, Kirrilly sering mempertontonkan video beberapa figur publik seperti Barack Obama dan Chris Hemsworth berbicara dalam Bahasa Indonesia.

Selain itu, ia juga selalu berusaha memperkenalkan tokoh kebudayaan pop Indonesia terbaru, misalnya rapper Indonesia yang sudah mulai mendunia, yaitu Brian Imanuel.

'Harus memahami Indonesia dari dalam'

Profesor Studi Asia Tenggara, David Hill, mengatakan seharusnya budaya dan bahasa Indonesia lebih dikedepankan dengan budaya-budaya anak muda agar menarik minat di Australia.

"Jadi, saya pikir tidak ada gunanya kalau misalnya Pemerintah Indonesia mengirim gamelan atau kadang-kadang misalnya pameran fesyen jilbab. Itu tidak menarik untuk anak muda di sini," kata David kepada Natasya Salim dari ABC News.

"Lebih baik dicari apa yang paling disukai anak muda di Indonesia, itulah yang harus tercerminkan di sini [Australia] untuk membuktikan perspektif mengenai Indonesia yang kontemporer."

Menurutnya juga program datang langsung ke Indonesia adalah salah satu cara yang paling efektif untuk memperkenalkan budaya dan bahasa.

"Saya kira di sinilah kita melihat manfaat program seperti ACICIS di mana pemuda-pemudi diberi kesempatan untuk melihat Indonesia bukan dari luar, atau dari laporan media, tapi dari dalam," kata David yang adalah pendiri ACICIS.

Menurut laporan ACICIS di tahun 2019, Indonesia menduduki peringkat keempat negara terfavorit bagi pelajar Australia di tahun 2018, dengan jumlah 1.402 dari total 14.522 mahasiswa S1 Australia yang belajar di wilayah Indo-Pasifik.

Data dari Departemen Dalam Negeri Australia mencatat terdapat 10.888 pemegang atau visa mahasiswa berkewarganegaraan Indonesia di Australia di tahun 2018.

Melihat jumlah yang belum sebanding ini, Profesor David mengatakan diperlukan lebih banyak mahasiswa Australia yang belajar di Indonesia untuk memahami Indonesia.

Menurutnya, sejauh ini Pemerintah Australia telah memahami manfaat dalam mengirimkan siswanya untuk belajar di negara Asia Pasifik, seperti program New Colombo Plan, yang diluncurkan tahun 2014.

Hanya saja, pandemi COVID-19 turut menghambat dan mengancam keberadaan lembaga-lembaga studi, seperti salah satunya ACICIS, untuk mengirimkan pelajar Australia ke Indonesia.

Liam dari ACICIS mengatakan telah banyak dukungan agar ACICIS bisa terus menjadi jembatan yang membangun hubungan 'people to people', atau di tingkat individu antar warga kedua negara.

Untuk mempertahankan organisasi tersebut, salah satu strategi yang dilakukan ACICIS adalah menggalang dana dengan target sebesar AU$150,000, atau Rp1,4 milyar.

Namun, menurut Liam, penggalangan dana yang hingga kini sudah mengumpulkan sekitar AU$ 20,000, atau sekitar Rp196 juta, dari para alumni tidaklah cukup untuk terus membayar gaji para karyawan dan keperluan infrastruktur lainnya selama satu tahun.

"Kami masih akan membutuhkan bantuan dari Pemerintah dan pihak universitas juga," katanya.

Liam mengaku jika ia terus berkomunikasi dengan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) dan Departemen Pendidikan Australia.

Ia juga menjelaskan 25 universitas di Australia juga ikut serta agar bisa mencari pendapatan tambahan tahun ini, meskipun sekarang adalah saat yang sulit juga untuk universitas di Australia.

Simak berita lainnya di ABC Indonesia.

(nvc/nvc)