Ambisi Petani Milenial: Butuh Anak Muda untuk Mendobrak Pertanian Indonesia

ABC Australia - detikNews
Kamis, 18 Jun 2020 09:24 WIB
Jakarta -

Meski minat bertani semakin menurun, masih ada sebagian generasi milenial di Indonesia yang justru meliriknya. Bahkan di saat kehilangan pekerjaan akibat pandemi virus corona.

Seperti yang dialami oleh Maya Skolastika Boleng, petani berusia 35 tahun.

Ia sudah bercita-cita menjadi seorang petani ketika masih kuliah jurusan Sastra Inggris di Universitas Negeri Surabaya tahun 2007 lalu.

Semua berawal saat perempuan kelahiran Waiwerang, provinsi Flores Timur ini sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yoga di Bali.

Maya, yang saat itu baru berusia 22 tahun, tidak menyangka malah menemukan "panggilan" di bidang yang sempat tidak 'dipandang' oleh keluarganya.

Ia mengaku jika ia bertanya pada dirinya sendiri "apakah kehadiranmu di dunia ini sudah memberikan dampak positif atau hal yang baik bagi lingkungan sekitarmu? Atau kehadiranmu di dunia ini justru memberi beban?"

"Itulah momen yang membuat saya berpikir untuk melakukan pertanian organik, karena memang Bali terkenal dengan filosofi pertanian organik itu sendiri."

Berbekal ambisi menolong para petani di sekitarnya, di tahun 2008, Maya bersama keempat temannya menyewa sebuah lahan berukuran setengah hektar.

Namun, karena minim pengetahuan dan tidak berpengalaman soal bertani, bisnis pertaniannya tersebut mengalami kegagalan.

Memutus ketergantungan pada tengkulak

Bisnis Maya dan Wita membuka kesempatan bagi petani perempuan untuk mendapatkan penghasilan.

Foto: Supplied: Bisnis Maya dan Wita membuka kesempatan bagi petani perempuan untuk mendapatkan penghasilan.

"Kami sudah mulai adjust [beradaptasi]. Jadinya sekarang [penghasilannya] cukup untuk sehari-hari. Kalau istilah saya dan suami, yang penting dapur 'ngebul' dulu. Dan sekarang kami tidak perlu beli sayur," paparnya.

Karena sudah menemukan pesona sektor pertanian, Ira berencana untuk melanjutkan bisnis yang hingga kini sudah menjual 60 komoditi sayur dan buah tersebut.

"Kalau kita bicara berkebun sebagai hobi, memang menyenangkan sekali, dan menyegarkan juga. Dan setelah mulai berdagang sayur, sadar juga bahwa itu menyenangkan," kata Ira yang berusia 43 tahun.

"Artinya sekarang saya sudah mulai berpikir ke sana [untuk jangka panjang], menanam dan menjual, dibandingkan pekerjaan sebagai notaris, yang walaupun di mata banyak orang banyak uang, bebannya berat sekali," tuturnya.

Simak berita lainnya di ABC Indonesia.

(ita/ita)