Apakah Benar Pendatang Telah 'Mencuri' Jatah Kerja Warga Australia?

ABC Australia - detikNews
Senin, 15 Jun 2020 15:24 WIB
Canberra -

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia

Jumlah pekerja migran yang besar menjadi salah satu penopang perekonomian Australia.

Tapi sejak perbatasan Australia ditutup akibat pandemi virus corona, jumlah pendatang menurun tajam, yaitu sebesar 30 persen di akhir tahun keuangan 2020.

Di tengah menurunnya pendapatan Australia dan naiknya angka pengangguran, kurangnya pendatang malah disebut-sebut sebagian warga Australia sebagai hal yang tidak buruk.

Seperti yang dinyatakan oleh juru bicara soal imigrasi dari Partai Buruh, Senator Kristina Keneally, yang pada dasarnya mengatakan bahwa "pasokan murah" pekerja migran telah merebut jatah pekerjaan warga Australia dan menurunkan upah mereka.

Pernyataannya dalam sebuah artikel tersebut mengundang sejumlah tanggapan, termasuk tuduhan sebagai seorang rasis.

"Pemulihan ekonomi pasca COVID-19 nanti harus menjamin pergeseran dari ketergantungan [Australia] pada pasokan pekerja murah dari luar negeri, yaitu pekerja sementara yang membuat gaji pekerja Australia turun dan mengambil jatah kerja warga Australia," tulisnya.

Bantahan Pemerintah Australia

457 visa paperwork

Foto: Koleksi ABC: Visa untuk bekerja dan tinggal di Australia sementara, yakni jenis 457 telah diubah menjadi TSS di tahun 2018.

Australia memiliki pilihan visa untuk warga asing bekerja dan menetap di negaranya.

Apakah benar migran mencuri jatah?

Sayangnya, beberapa bukti yang ada belum bisa menjawab pertanyaan ini.

Seperti dikatakan oleh profesor bidang ekonomi dari Australian National University (ANU), Robert Breunig, yang telah membuat pemodelan dampak skema 'skilled migration' dalam lapangan kerja dan upah.

Menurut analisa Profesor Robert, dengan bertambahnya jumlah pekerja akibat migrasi, secara otomatis upah seharusnya menjadi lebih murah.

Namun, di saat yang bersamaan, penambahan jumlah pekerja cenderung meningkatkan tingkat produktivitas, yang sebaliknya, menaikkan jumlah upah.

Profesor Robert mengatakan dua dampak yang saling menyeimbangkan ini, di banyak kesempatan, telah menetralkan satu sama lain.

"Kami menemukan angka nol besar," kata Profesor Robert kepada tim Cek Fakta ABC.

Kesimpulan yang bisa diambil saat ini

Analisa ABC Fact Check ini tetap tidak bisa menjawab pertanyaan Senator Kristina, yaitu 'apakah 'low skilled migrant' atau migran kurang keterampilan, seperti siswa atau pemegang Work & Holiday Visa (WHV), telah mengambil jatah pekerjaan dan memotong upah.

Hal lain yang patut dipertimbangkan adalah kenyataan berdasarkan penelitian John Daley dari Grattan Institute, "Australia sedang menjalankan sistem migrasi bagi migran dengan keterampilan sedikit".

"Orang-orang dari sistem ini membangun proporsi tenaga kerja muda," kata Dr John.

Namun, untuk menilai dampaknya sangatlah rumit, mengingat migran berketerampilan sedikit ini bersedia bekerja dengan upah rendah dan beberapa perusahaan sudah melakukan hal tersebut.

Tapi karena perusahaan dan pekerja asing tidak mau mengakui hal ini, data yang tersedia 'tidak dapat dipungkiri, kurang akurat', menurut Dr John.

Ada juga beberapa kritik besar, baik dari serikat pekerja dan kelompok bisnis, yang berpendapat sistem visa saat ini tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah dengan semakin banyaknya pendatang dengan jenis visa yang mengizinkan bekerja, seperti visa pelajar dapat mengurangi lapangan pekerjaan di Australia.

Ada beberapa bukti yang menunjukkan bisa terjadi, meskipun sulit untuk menjawab secara empiris.

Yang jelas Alan Tudge, sebagai Menteri Imigrasi Australia tidak membeberkannya secara lengkap, hanya mengatakan bahwa pekerja Australia telah mendapat prioritas.

(ita/ita)