Selandia Baru Akhiri 'Social Distancing', Warga Indonesia di Auckland Bangga

ABC Australia - detikNews
Rabu, 10 Jun 2020 17:24 WIB
Wellington -

Mulai pergantian hari Selasa (9/06), Selandia Baru mencabut pembatasan aktivitas sosial dan bisnis yang sebelumnya diterapkan untuk mencegah penularan virus Corona.

Yutia Meilani, asal Palembang yang kini tinggal di Auckland, Selandia Baru mengaku sangat gembira karena kondisi kehidupan di Selandia Baru sudah perlahan normal.

"Seneng banget … sudah benar-benar seperti kehidupan normal," kata Yutia saat dihubungi Erwin Renaldi dari ABC Indonesia di Melbourne.

Selandia Baru sebelumnya disebut-sebut sebagai salah satu negara yang tidak hanya pertama kali menutup perbatasannya dari negara lain, tapi juga menerapkan aturan paling ketat di dunia.

Salah satunya adalah saat berada di level empat dengan menutup hampir seluruh kegiatan ekonomi dan bisnis, kecuali hanya supermarket dan apotek besar yang boleh buka.

Sementara di Australia beberapa toko, seperti toko daging, toko roti dan toko buah masih boleh dikunjungi warganya.

"Sebelumnya kita pernah stage four [tingkat empat pembatasan] yang benar-benar lockdown, takeaway makanan pun tidak bisa dilakukan selama enam minggu," kata Yutia yang sudah tinggal empat tahun di Selandia Baru.

Tapi ada alasan kuat mengapa Selandia Baru menurunkan tingkat kewaspadaan COVID-19 ke Tingkat Satu, diantaranya jumlah kasus COVID-19 yang terus turun sebelum aturan dilonggarkan.

Yutia kini kerja di bidang Informasi dan Teknologi (IT) dan sempat menjadi pemilik usaha kuliner di Selandia Baru, yang kemudian ia tinggalkan di akhir tahun 2019 sebelum pandemi virus Corona.

Sejak Selasa kemarin, Yutia masuk ke kantornya karena merasa "kangen", meski masih ada pilihan untuk bekerja dari rumah.

"Kemarin-kemarin naik bus itu masih social distancing, biar tidak penuh ... kalau sekarang sudah tidak ada pembatasan jumlah penumpang," jelasnya.

'Ikut bangga' dengan pencapaian Selandia Baru

Warga Indonesia lainnya, Carissa Paramita mengatakan jika kehidupan di Selandia Baru sebenarnya sudah berangsur kembali normal sejak aturan pembatasan diturunkan ke Tingkat Dua.

Sekitar tiga minggu lalu beberapa kegiatan ekonomi sudah diperbolehkan kembali beroperasi dan warga sudah bebas keluar dan beraktivitas.

"Senang rasanya saat itu karena bisa memeluk lagi teman dan cium pipi," kata Mita, panggilan akrab Carissa Paramita yang bekerja di perusahaan transportasi publik kota Auckland.

"Kebetulan saya juga mengajar Bahasa Indonesia di universitas, ada murid nenek-nenek yang langsung meluk saya sekencang-kencangnya."

Mantan jurnalis TV di Indonesia ini mengatakan jika keberhasilan Pemerintah Selandia Baru tidak lepas dari strategi komunikasi dengan pesan yang sangat jelas kepada warganya.

"Mereka selalu menggunakan kata 'Tim Lima Juta Orang' dan membuat saya bangga karena ikut memberikan sumbangsih," kata Mita yang mengaku diam di rumah selama pembatasan berlaku.

"Tidak hanya bangga untuk satu Selandia Baru tapi untuk diri sendiri dan keluarga."

Mita yakin jika Selandia Baru bisa "bersama-sama kerja keras untuk memerangi virus Corona", maka akan bisa juga berjuang bersama untuk pemulihan ekonomi.

Apa persiapan jika ada kasus baru?

Sosok Jacinda Ardern sudah menuai banyak pujian, tidak hanya dari dalam negeri Selandia Baru tapi juga komunitas internasional untuk kepemimpinannnya dalam menangani pandemi virus Corona.

Pada bulan April lalu, ia pernah mengumumkan jika seluruh menteri dalam kabinetnya serta beberapa pejabat lainnya memotong gaji mereka sebagai bentuk simbolik bagi warga Selandia Baru yang kehilangan pekerjaan mereka.

Duta Besar Luar Biasa RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya mengatakan strategi Pemerintahan Ardern yang perlu menjadi rujukan negara-negara lain dalam mengatasi pandemi COVID-19 adalah mengkombinasikan sains dan kepemimpinan.

Saat mengumumkan pencabutan semua aturan terkait virus corona di Selandia Baru, termasuk aturan menjaga jarak fisik antar warga, PM Ardern mengaku "sedikit berjoget" karena senang.

"Kita bisa menggelar acara-acara publik tanpa pembatasan ... pernikahan dan pemakaman tanpa pembatasan, ritel kembali [buka] tanpa pembatasan, industri hospitality [restoran, kafe, hotel] tanpa pembatasan, transportasi publik dan berpergian kemana pun dalam negeri dibuka sepenuhnya," ujarnya.

Tapi PM Ardern menegaskan jika penularan berhasil ditekan baru untuk saat ini.

Menurutnya butuh upaya yang berkelanjutan untuk menjaga agar tidak adanya kasus baru virus Corona di negaranya.

Selain perbatasan Selandia Baru yang masih ditutup, sejumlah tempat telah dilengkapi dengan 'barcode' yang bisa dipindai ponsel agar dapat melacak jika ada penularan baru.

"Di setiap toko atau kantor, kita scan barcode yang tersedia di pintu masuk, jadi terekam jam berapa kita masuk sebagai jaga-jaga kalau ada outbreak [penularan] lagi lebih gampang ditelusuri," Yutia berbagi pengalamannya.

"Aku percaya banget kalau Pemerintah Selandia Baru sangat berhati-hati, jadi mendengar apa yang mereka lakukan, aku merasa aman," tambahnya.

Pelajaran dari 'lockdown' di Selandia Baru

Bagi Yutia ada sejumlah pelajaran yang bisa diambil selama masa 'lockdown' di Selandia Baru yang termasuk salah satu paling ketat di dunia.

Salah satunya adalah soal menjaga kebersihan pribadi yang mungkin selalu ini "take it for granted" atau dianggap biasa saja.

"Selama ini mungkin kita menganggap badan kita kuat jadi cuci tangan sebelum makan juga dilakukan begitu saja," kata Yutia.

Keluarganya juga semakin memperdalam pentingnya nilai-nilai kekeluargaan.

Pelonggaran aturan pembatasan pergerakan aktivitas di Australia akan dilakukan secara bertahap.

"Anak-anak mengatakan, 'mama, mau sakit seperti apapun tapi keluarga paling penting', jadi ketika dunia mau runtuh, keluargalah yang bisa diandalkan."

Yutia berharap keluarga dan teman-temannya di Indonesia agar tetap diam di rumah, bukan hanya bagi kebaikan diri sendiri tapi juga orang lain.

"Kalau enggak perlu-perlu banget, enggak usah keluar, kecuali kalau betul-betul membutuhkan demi menyelamatkan orang lain."

Sementara Mita mengaku jika sekarang ia dan keluarganya selalu membawa 'hand sanitizer' saat keluar rumah.

"Ini hal yang baru, padahal waktu di Indonesia dari dulu sudah banyak melihat ibu-ibu yang bawa dan digantungkan di tasnya."

"Hari Rabu ini pun kita mulai naik bus dan akan bawa masker, meski tidak diwajibkan dan belum tentu dipakai, tapi setidaknya sudah siap di tas," kata Mita.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus Corona di dunia lewat situs ABC Indonesia

(nvc/nvc)