Layanan Wisata di Yogyakarta, Bali dan Lombok Menunggu 'New Normal'

ABC Australia - detikNews
Jumat, 05 Jun 2020 16:46 WIB
Jakarta -

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.

Meskipun pandemi COVID-19 belum berakhir di Indonesia, layanan wisata di tiga kawasan wisata popular, seperti Yogyakarta, Bali dan Lombok sudah tidak sabar menunggu kebijakan 'new normal' dari Pemerintah Indonesia.

Beberapa layanan bisnis sudah beraktivitas lagi, berharap keadaan akan kembali normal di bulan Agustus atau September.

Hari Kamis (4/6/2020), ABC Indonesia berbincang dengan beberapa orang di Gili Terawangan (Lombok), Bali dan Yogyakarta yang bergerak di bidang pariwisata, seperti pengelola resor, pemilik properti yang menyewakan rumahnya melalui airbnb, pengusaha, manajer restoran dan juga sopir atau pemandu wisata pribadi.

Ahmad Kusuma adalah manajer Resor Black Penny Villas di pulau Gili Terawangan di Lombok yang selama tiga bulan terakhir tutup karena pandemi.

Menurut Ahmad Kusuma kepada Sastra Wijaya, wartawan ABC Indonesia, pariwisata Lombok sangat bergantung kepada Bali seperti sebelum pandemi.

"Untuk Lombok (NTB) beberapa destinasi wisatanya bergantung pada Bali, dimana new normal pariwisata di sini tergantung dari dibukanya pariwisata Bali yang menjadi gerbang bagi turis internasional ke Indonesia," kata Ahmad.

"Sudah ada beberapa daerah di Indonesia mulai persiapan new normal untuk destinasi wisatanya," tambahnya.

Gugusan Pulau Gili di Lombok bersiap untuk kembali kehidupan 'new normal' di tengah pandemi COVOD-19.

Foto: Supplied: Gugusan Pulau Gili di Lombok bersiap untuk kembali kehidupan 'new normal' di tengah pandemi COVOD-19.


Kegiatan ekonomi secara sporadis sudah berlangsung di beberapa kawasan wisata termasuk di Bali seperti yang dikatakan oleh Made Gunarta, seorang pengusaha yang juga adalah Ketua 'Bali Spirit Festival' yang pelaksanaannya terpaksa ditunda dari akhir Maret lalu.

"Ada beberapa usaha kami yang tetap buka selama ini seperti Kafe, Kebun Bistro dan Yoga shop walau dalam keadaan terbatas dan dengan prosedur sesuai dengan protokol penanganan COVID-19,"

"Namun belum ada pasokan wisatawan yang baru," kata Gunarta.

Menurut Made Gunarta, yang lebih penting sekarang ini bukanlah kapan semua kegiatan ekonomi akan dibuka lagi, melainkan kesiapan edukasi 'new normal' di masyarakat.

"Keberadaan virus kan tidak mungkin dihilangkan..jadi yang penting bagaimana sekarang mendidik masyarakat untuk senantiasa berhati-hati dan menyadari bahwa virus itu ada," kata Made Gunarta.

(ita/ita)