'New Normal' di Australia yang Belum Tentu Bisa Ditiru Negara Lain

ABC Australia - detikNews
Sabtu, 30 Mei 2020 08:50 WIB
Canberra -

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.

Kondisi 'new normal' sedang banyak dibicarakan di hampir semua negara, termasuk di Australia dan Indonesia. ABC Indonesia membahasnya dalam diskusi online yang menampilkan para produser dan jurnalisnya.

'New Normal' adalah sebuah keadaan dimana tiap-tiap individu beradaptasi dengan kondisi sosial di saat aturan pembatasan sosial diberlakukan.

Di Australia, aktivitas warga tidak langsung menjadi normal seperti sebelum pandemi virus corona, meski pembatasan aktivitas warganya sudah dilonggarkan.

Pelonggaran dilakukan dengan cara bertahap dan masing-masing negara bagian memiliki kebijakannya sendiri dalam menerapkannya.

Penjelasan Tiga Tahapan Pelonggaran

Tapi menurut Farid, yang membedakan penegakan aturan terkait pembatasan aktivitas sosial di Australia dengan negara lainnya, seperti Indonesia, salah satunya adalah faktor ekonomi.

"Melihat perdebatan yang terjadi di tanah air adalah apakah kita akan mematuhi anjuran kesehatan tapi kemudian perekonomian kita menjadi berantakan," jelas Farid.

Di Australia kondisi ini bisa terkendalikan, dari pengamatan Farid, karena perekonomian yang sangat kuat, dengan kucuran bantuan dan skema yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat, di luar tunjangan yang sudah ada sebelumnya.

Sementara bagi Sastra, satu hal yang membuat Australia berhasil menekan jumlah penularan adalah jumlah pengetesan virus corona.

"Semakin banyak orang dites semakin jelas bagi pemerintah untuk melihat petanya, jika ada kasus-kasus tersembunyi," jelasnya.

'Membutuhkan kerjasama'

Berikut adalah sejumlah pernyataan dari jurnalis ABC Indonesia soal arti pelonggaran pembatasan sosial dan bagaimana menyambut 'new normal'.

"Jangan disalahpahami, 'oh Australia saja sudah dibuka', jangan sampai ada negara lain, katakanlah Indonesia, kemudian menjadikan Australia sebagai rujukan, ujar Farid Ibrahim.

"Tidak kemudian keadaan membaik boleh keluar, boleh bekerja kembali ke kantor lagi, karena butuh persiapan … seperti bagaimana transportasi publiknya dipersiapkan," kata Sastra Wijaya.

"Aturan boleh ada 50 orang di satu ruangan, tapi … harus memenuhi syarat empat meter persegi per orang, jadi kalau ruangannya hanya 50 meter persegi ya enggak boleh ada 50 orang," ungkap Hellena Souisa.

"Kita harus merasa diri kita yang punya virus. Dengan memiliki pikiran seperti itu, kita jadi lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan orang lain, karena kita tak mau menularkannya ke orang lain, meski kita terlihat sehat," kata Erwin Renaldi.

"Dalam menghadapi pandemi ini, kita membutuhkan kerjasama satu sama lain dan kesadaran yang tinggi akan orang-orang di sekitar kita juga," jelas Natasya.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

(ita/ita)