Sukses Tangani Penularan Corona, Australia Kini Antisipasi Gelombang Kedua

ABC Australia - detikNews
Kamis, 14 Mei 2020 18:41 WIB
Canberra -

Setelah hampir dua bulan berada dalam ketidakpastian, ketakutan dan kerugian ekonomi, Australia secara umum berhasil mengatasi penyebaran virus corona.

Hampir 90 persen kasus infeksi telah sembuh dan tinggal 615 kasus yang masih aktif hingga Kamis (14/05).

Namun seiring dengan dilonggarkannya pembatasan COVID-19 pekan ini, penemuan klaster baru di tempat pengolahan daging, panti jompo dan di salah satu gerai makanan cepat saji, kini timbul sejumlah pertanyaan.

Mungkinkah ada gelombang kedua COVID-19?

Gelombang kedua infeksi virus Corona tidak ditentukan hanya berdasarkan jumlah kasus.

Departemen Kesehatan Australia menyatakan situasi yang paling mengkhawatirkan adalah bila sumber penularannya tidak diketahui serta pelacakan kontak sulit dilakukan.

Situasi seperti itu akan meningkatkan kemungkinan terjadinya gelombang kedua.

Seorang juru bicara Kementerian Kesehatan Australia mengatakan terjadinya gelombang kedua tergantung pada seberapa baik penerapan pembatasan sosial dan langkah-langkah kontrol lainnya.

Brendan Murphy stands in front of two microphones. There are Australian flags behind him.

Pejabat Medis Tertinggi (Chief Medical Officer) Australia Profesor Brendan Murphy khawatir dengan kemungkinan terjadinya gelombang kedua COVID-19. (Koleksi Claudia Lengkey)

Inilah sebabnya mengapa menjaga jarak fisik, pemeliharaan kebersihan, dan pelacakan kontak menjadi penting.

"Melacak kontak dengan cepat dan efektif merupakan langkah paling penting," kata juru bicara itu.

"Semakin cepat dan efektif kita menemukan kasus COVID-19, menguji, mengisolasi dan mengobati kasus yang positif serta melacak kontak mereka, maka semakin sulit virus ini menyebar," tambahnya.

Gelombang kedua mungkin saja terjadi dan Kepala Petugas Medis Australia, Profesor Brendan Murphy mengaku khawatir akan kemungkinan ini.

Kemampuan untuk memprediksi gelombang kedua erat kaitannya dengan angka reproduksi, yaitu angka yang digunakan untuk mencerminkan tingkat infeksi penyakit ini.

R0 digunakan sebagai angka reproduksi dasar dan sama dengan jumlah orang terinfeksi oleh satu kasus tunggal (dengan asumsi seluruh populasi rentan dan tidak ada strategi untuk mengatasinya).

Angka R0 diperkirakan sekitar 2,5 untuk COVID-19.

Strategi kontrol yang efektif akan mengurangi angka ini sehingga angka reproduksi efektif (Reff) mencapai kurang dari satu.

Reff digunakan ketika ada imunitas atau tindakan intervensi untuk mengendalikan suatu penyakit atau virus dan angkanya bervariasi, karena masyarakat memiliki tingkat imunitas yang berbeda.

Saat ini, posisi Reff Australia berada tepat di atas angka satu.

Pada puncak wabah, angka Reff di China mencapai tiga, yang berarti setiap orang dengan virus corona menyebarkannya ke tiga orang lainnya.

Australia diperkirakan berhasil mendeteksi sekitar 92 persen dari penyebaran virus ini pada orang yang memiliki gejala. Namun Profesor Paul Glasziou dari Bond University memperingatkan akan selalu ada kasus tanpa gejala.

"Jika kita bisa meredamnya, ada kemungkinan untuk mencapai nol infeksi baru. Namun selalu ada orang yang memiliki gejala ringan dan tidak menyadari bahwa mereka terjangkit virus Corona dan terus menginfeksi banyak orang lainnya, " kata Prof Glasziou.

Restoran, pernikahan, kegiatan olahraga jadi titik bahaya

Prof Glasziou mengatakan wabah baru yang dicatat minggu ini di Korea Selatan dan China semuanya terjadi di kerumunan orang di dalam ruangan tertutup.

Untuk menghindari infeksi massal, warga Australia perlu mempertimbangkan kembali semua kegiatan di dalam ruangan yang dihadiri banyak orang, mulai dari konser, klub malam, pub, supermarket hingga ruang kuliah.

"Di China sebagian besar wabah terjadi akibat kerumunan di dalam ruangan dalam berbagai bentuk," katanya.

"Restoran, pernikahan, hingga acara pemakaman, merupakan titik bahaya," tambahnya.

Prof Glasziou menyarankan pengurangan jumlah orang dalam kerumunan serta keharusan menggunakan masker yang bisa menjadi solusi.

"Yang terpenting sekarang kita sudah melakukan pengujian, isolasi, pelacakan kontak dan karantina," katanya.

Jangan terburu-buru ingin normal

Gelombang kedua infeksi COVID-19 dapat mengembalikan pembatasan ketat yang pernah diberlakukan pada pertengahan Maret lalu.

Tidak ada yang menginginkan hal itu terjadi, khususnya para pekerja dan pengusaha yang telah hidup tanpa penghasilan selama berminggu-minggu.

Ketua Asosiasi Dokter Australia (AMA) Dr Tony Bartone mengatakan, penerapan kembali pembatasan lebih ketat jauh lebih buruk daripada lambatnya pelonggaran pembatasan.

"Jika pembatasan dicabut terlalu cepat dan gelombang kedua terjadi, maka proses memaksakan kembali isolasi akan jauh lebih buruk bagi kesehatan masyarakat dan bagi perekonomian daripada pelonggaran pembatasan yang dilakukan secara hati-hati," kata Dr Bartone.

"Masyarakat jangan berharap terlalu tinggi pada tahap ini. Terburu-buru ingin mengembalikan keadaan menjadi normal, jika tanpa kehati-hatian dan perlindungan, berisiko kemunduran besar bagi kita semua," katanya.

Cerita inspiratif dari warga Indonesia yang memilih membantu satu sama lain saat menghadapi pandemi virus corona.

Keadaan bisa memburuk di musim dingin?

Wakil Pejabat Medis Tertinggi Dr Michael Kidd mengatakan tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa cuaca dingin mempengaruhi tingkat penularan COVID-19.

Namun dia mengakui masalah jarak fisik akan lebih sulit diterapkan ketika cuaca dingin tiba.

"Karena ketika cuaca semakin dingin, orang cenderung lebih ramai dan lebih banyak berkerumun di transportasi umum, atau di tempat umum dalam ruangan," ujar Dr Kidd.

"Mekanisme yang diterapkan untuk menjaga jarak fisik sangat perlu, untuk mengurangi jumlah orang menjadi satu orang saja dalam radius empat meter persegi," katanya.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus Corona di Australia hanya di ABC Indonesia

(nvc/nvc)