China Bantah Persulit Produk Australia karena Desak Penyelidikan COVID-19

ABC Australia - detikNews
Rabu, 13 Mei 2020 13:50 WIB
Jakarta -

Pemerintah China dinilai melancarkan taktik diplomasi perdagangan terhadap Australia, setelah menguatnya desakan untuk menyelidiki asal-usul COVID-19. Dua produk unggulan Australia yaitu gandum dan daging sapi kena getahnya.

Dalam beberapa hari terakhir, China mengisyaratkan akan mengenakan tarif 80 persen untuk gandum Australia, serta melarang impor daging merah dari empat rumah potong hewan (RPH).

Bulan lalu, Duta Besar China untuk Australia, Cheng Jingye melontarkan pernyataan bernada mengancam setelah Pemerintah Australia bersikeras untuk menyelidiki asal-usul COVID-19.

Dubes Cheng mengatakan konsumen di China bisa saja mempertimbangkan kembali mengapa mereka harus membeli produk dan jasa Australia sebagai reaksi terhadap desakan penyelidikan.

TEASER BOX COVID-19 IN INDONESIA

Sejumlah ilmuwan Indonesia memproyeksikan angka kasus virus corona untuk bisa mengantisipasi situasi ke depan.

Sementara itu juru bicara oposisi untuk urusan pertanian Joel Fitzgibbon menuding Pemerintahan PM Scott Morrison menjadikan pertengkaran dengan China untuk mendapatkan dukungan politik dalam negeri.

Fitzgibbon mengatakan langkah PM Morrison membiarkan hubungan dengan China memburuk telah menimbulkan kegelisahan di kalangan industri-industri utama.

Ia mengaku telah berbicara dengan para pengusaha terkait yang menyatakan pengenaan tarif dan larangan impor adalah "konsekuensi dari hubungan yang memburuk, salah kelola oleh Pemerintah Australia".

Federasi Petani Nasional di Australia secara terpisah menyatakan selalu muncul masalah dalam hubungan perdagangan dengan China dari waktu ke waktu.

Sekitar sepertiga dari ekspor pertanian Australia dijual ke Cina, termasuk 20 persen produksi daging sapi dan hampir setengah dari produksi gandum.

Dewan Industri Daging Australia, yang mewakili dua rumah pemotongan hewan mengatakan, larangan ekspor ke China diterapkan untuk pengiriman daging sejak 12 Mei. Sehingga daging yang sudah dalam perjalanan tidak akan terpengaruh.

Simak berita lainnya dari ABC Indonesia.

(ita/ita)