Sejumlah Mahasiswa Indonesia di Australia Bertahan Hidup dengan Sisa Tabungan

ABC Australia - detikNews
Rabu, 08 Apr 2020 14:38 WIB
Canberra -

Pemerintah Australia menganjurkan mereka yang memegang 'Temporary Visa', termasuk pelajar internasional, untuk mempertimbangkan pulang ke negara asalnya, jika mereka tidak dapat mencukupi biaya hidup akibat pandemi virus corona di Australia.

KP Pelajar indonesia di Australia

  • Reaksi mahasiswa internasional bermunculan atas pernyataan PM Australia
  • Mahasiswa Indonesia mengandalkan tabungan dan bantuan dari komunitas
  • Beberapa universitas menyediakan bantuan bagi mahasiswa internasional

Banyak mahasiswa internasional yang kehilangan pekerjaan, khususnya di sektor ritel dan pelayanan, sehingga mengancam mereka kesulitan membayar kuliah dan biaya hidup.

Di Jakarta, Menteri Luar Negeri RI, Retno Mursadi menanggapi anjuran mahasiswa asal Indonesia di Australia untuk pulang, jika akan memberatkan kondisi finansial mereka.

"Apa yang disampaikan oleh Perdana Menteri Australia adalah bagi mahasiswa asing, tidak hanya berlaku bagi Indonesia, bagi mahasiswa asing yang sudah tidak dapat me-support dirinya sendiri," kata Retno dalam rapat kerja dengan Komisi I, kemarin (07/04).

Saat virus corona mulai mewabah di belahan dunia, terdapat lebih dari 500.000 pelajar internasional yang sedang sekolah di Australia.

David Mahasiswa di Darwin

David Ferdianto mengaku masih bisa bertahan untuk membayar uang sewa tempat tinggalnya di Australia dari uang tabungan. (ABC Indonesia)

Ikuti laporan terkini terkait virus corona dari Australia dalam Bahasa Indonesia.

Terpaksa pulang bila kondisi tidak membaik

Mahasiswa Indonesia lainnya di Australia, yakni Aldo yang sedang mengambil program master di Charles Darwin University, mengatakan keputusan untuk pulang ke Indonesia akan diambilnya, jika kondisi di Australia dalam empat bulan ke depan tidak menunjukkan perbaikan.

Sejak kehilangan pekerjaannya sebagai barista di sebuah kedai kopi di Darwin, Aldo mulai menggunakan uang kuliahnya untuk membayar keperluan sehari-hari.

Menurutnya, ia telah menyediakan bukti dapat membiayai diri sendiri selama 12 bulan saat mengajukan 'student visa', seperti yang dikatakan PM Morrison.

"Sebenarnya untuk [masa sekolah] dua tahun saya bayar uang sekolah itu cukup untuk 12 bulan pertama," kata Aldo.

Tapi ia harus mengubah rencananya jika tidak ada kepastian untuk tahun selanjutnya.

"Daripada kalau begini terus, untuk tahun keduanya saya tidak bisa bayar, mending saya berhenti kuliah dan pulang [ke Indonesia] saja."

Boleh mengambil 'superannuation'

Hingga saat ini, beberapa universitas telah menyediakan bantuan dana bagi para mahasiswa.

Universitas tempat David dan Aldo kuliah, yakni Charles Darwin University, misalnya menganggarkan dana sebesar AU$200,000 (Rp2 milyar) bagi mahasiswa mereka yang mengalami kesulitan keuangan karena terdampak COVID-19.

David, yang sudah mencoba melamar pekerjaan di beberapa tempat namun belum mendapat panggilan kerja, berencana untuk mengakses bantuan dari universitas karena menilai dirinya termasuk yang memenuhi syarat.

Pemerintah Australia sebenarnya sudah mengeluarkan izin bagi para pemegang visa sementara, yang memiliki hak kerja dan terdampak COVID-19 untuk mengakses 'superannuation' lebih awal hingga AU$10,000, atau lebih dari Rp100 juta.

Bagi warga negara Australia, 'superannuation' adalah dana yang terkumpul dari penghasilan mereka selama bekerja yang bisa diambil setelah usia pensiun.

Sedangkan, bagi yang bukan warga negara, dana 'superannuation' dapat diambil ketika 'for good' atau meninggalkan Australia tanpa rencana untuk kembali.

Pejabat Sementara Menteri Imigrasi Australia, Alan Tudge mengatakan mahasiswa internasional yang telah tinggal lebih dari 12 bulan di Australia dapat mengakses 'superannuation' mereka lebih awal dari seharusnya.

Angie yang berasal Pontianak mengaku belum terpikir untuk pulang, tapi ia akan mengambil 'superannuation' sebagai pilihan akhir.

"Kami sudah jadi mahasiswa selama hampir dua tahun. Kalau pulang, berarti uang yang telah dikeluarkan hangus," kata Angie.

"Menurut saya banyak mahasiswa yang berpikiran sama karena sudah susah payah membuat visa dan membayar uang sekolah yang semahal itu tapi tiba-tiba harus pulang."

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

(ita/ita)