Melihat Strategi Ekonomi Beberapa Negara yang Digempur Wabah Virus Corona

ABC Australia - detikNews
Kamis, 02 Apr 2020 13:16 WIB
Jakarta -

Setidaknya ada dua "perang" yang dihadapi negara-negara di dunia saat menghadapi pandemi global virus corona, yakni melawan virus itu sendiri dan berusaha mengendalikan krisis ekonomi di dalam negeri.

Setelah kami pernah menyajikan strategi di bidang kesehatan dari sejumlah negara untuk menangani virus corona, kali ini kami memberikan gambaran strategi ekonomi dari beberapa negara, sebagai upaya untuk dapat bertahan dari ancaman ekonomi.

Berikut adalah strategi ekonomi yang digunakan Australia serta beberapa negara di Asia, seperti Indonesia.

Strategi 'hibernasi' dari Australia

Dalam dua pekan terakhir, Australia sudah mengeluarkan serangkaian kebijakan baru di bidang ekonomi demi berupaya memperkecil dampak pandemi virus corona terhadap perekonomian secara keseluruhan.

COVID-19 Update in Indonesian language

Pandemi virus corona

Prime Minister Scott Morrison announces

Pukulan ekonomi Jepang juga makin terasa setelah pesta olahraga Olimpiade di Tokyo 2020 ditunda karena pandemi global virus corona. (Reuters: Willy Kurniawan)

Pemerintah Australia menggunakan istilah 'hibernation' untuk menjelaskan apa yang mereka lakukan sekarang.

Istilah ini digunakan untuk menjelaskan binatang yang tidur di tempat persembunyian mereka selama musim dingin dan baru akan keluar setelah musim dingin berakhir.

Pemerintah Australia menggunakan hal yang sama dengan berusaha 'menidurkan' perekonomian yang memang sudah melesu sejak wabah virus corona.

Selama perekonomian sedang 'tidur', pemerintah memberikan bantuan keuangan langsung kepada para pekerja, agar setelah pandemi berlalu perusahaan bisa mempertahankan pegawainya.

Pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan yang keseluruhan nilanya lebih dari AU$213,7 miliar, atau hampir dua ribu triliun rupiah, yang dibagi ke dalam tiga paket kebijakan.

Paket terbesar diumumkan akhir Maret kemarin, yakni sebesar A$130 miliar, dimana karyawan akan mendapatkan subsidi upah sampai AU$1.500, atau hampir Rp15 juta per dua minggu yang akan dibayar selama enam bulan.

Diperkirakan sekitar 6 juta pekerja di Australia akan mendapatkan subsidi tersebut, jumlah yang cukup tinggi dari 26 juta penduduk saat ini.

Pertengahan bulan Maret, Australia mengeluarkan paket ekonomi senilai AU$17,6 miliar kepada mereka yang selama ini sudah mendapat tunjangan sosial,termasuk pensiunan,veteran, pengasuh orang tua atau yang sakit, serta anak-anak muda yang sedang mencari kerja, dengan bantuan sebesar AU$750 yang akan dibayarkan per 31 Maret.

Paket ekonomi terbesar di Jepang

Partai Liberal Demokratik Jepang telah mengusulkan paket ekonomi terbesar dalam sejarah negara tersebut sebesar ¥ 60 triliun, atau sekitar Rp9.200 triliun di tengah ancaman resesi ekonomi akibat virus corona.

Menurut proposal yang dikeluarkan Selasa kemarin (31/03), ¥ 20 triliun dari jumlah tersebut adalah stimulus kebijakan fiskal, sedangkan lebih dari ¥ 10 triliun, yang setara dengan potongan lima persen dari tarif pajak penjualan negara akan dibagikan kepada masyarakat dalam bentuk tunai, subsidi, dan kupon.

Perdana Menteri ShinzoAbe meminta agar paket ekonomi virus corona nilainya lebih besar, dibandingkan paket yang pernah dikucurkan saat menghadapi krisis keuangan global.

Menurut analisa Bloomberg, peluncuran paket ekonomi "ukuran raksasa" tidak akan menjadi yang terakhir,setelah melihat menurunnya pemasukan Jepang dari luar negeri.

Resesi Jepang juga diperkirakan akan semakin memburuk, dengan adanya kenaikan pajak dan penundaan pesta olahraga terbesar di dunia, yakni Olimpiade.

Kerusakannya perekonomian Jepang akan semakin parah bila daerah metropolitan Tokyo, yang menyumbang sepertiga pendapatan ekonomi, harus ditutup atau 'lockdown'.

Dengan melihat besar jumlah pengeluaran tambahan yang dibutuhkan pemerintah untuk mendanai keperluan di luar anggaran tahunan, kita dapat mengukur seberapa besar pendapatan dari publik yang dibutuhkan untuk mengisi kembali dompet perekonomian negara.

Grafik tersebut menunjukkan Jepang pernah melakukan pengeluaran ekstra di tahun 2008 mendekati ¥ 5,9 triliun dan di tahun 2009 sebesar ¥ 14 triliun.

Jumlah pengeluaran ekstra ini dikalahkan pengeluaran Jepang dalam merespon bencana tsunami dan bencana nuklir di tahun 2011.

Bantuan sekali bayar dari Malaysia

Rincian sejumlah paket ekonomi Malaysia:

  • Bantuan tunai yang hanya sekali diberikan dengan totalRM10 miliar, atau lebih dari Rp 38 triliun, lebih ditujukan kepada warga berpenghasilan rendah dan menengah
  • Bantuan untuk sektor korporasi sebesar RM50 miliar, atau lebih dari Rp190 triliun
  • Bantuan untuk usaha kecil dan menengah yang diberikan Bank Sentral Malaysia, sebenar RM4,5 miliar, atau lebih dari Rp 17 triliun
  • Bantuan senilai RM600 juta, atau lebih dari Rp 2 triliun untuk memberikan layanan internet gratis kepada semua pelanggan mulai 1April
  • Pemberian dana kepada Kementerian Kesehatan senilai RM500 juta, atau hampir Rp2 triliun danRM1 miliar, atau lebih dari Rp3 triliun untuk pembelian peralatan kesehatan

Jumat pekan lalu (27/03), Malaysia mengumumkan paket stimulus ekonomi untuk menanggapi dampak virus ekonomi, dengan nilai sebesar RM250 miliar, atau lebih dari Rp940 triliun.

Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mengatakan paket stimulus ini berupa, diantaranya, tunjangan khusus bagi penyedia layanan kesehatan, bantuan tunai, skema kredit mikro bagi usaha kecil dan menengah.

PM Muhyiddin yang baru saja terpilih setelah Malaysia melewati krisis politik, berjanji jika bantuan stimulus akan "lebih komprehensif, berorientasi kepada warga".

"Terlepas jika anda seorang pengendara taksi, pengemudi Grab, petani, pemilik restoran, penjual nasi lemak, penjual pisang goreng... pemerintah akan berupaya yang terbaik untuk memastikan semuanya mendapat manfaat dari paket ini," ujarnya di televisi.

Usai pengumuman paket stimulus ekonomi, sejumlah pengamat di Malaysia meragukan kesiapan Malaysia dalam menghadapi dampak ekonomi setelah pandemi virus corona berakhir.

Singapura memakai cadangan negara

Singapura telah menyisihkan S$48 miliar atau setara dengan Rp548 triliun untuk mendukung sektor usaha dan rumah tangga, setelah ekonomi Asia Tenggara diprediksi menyusut lebih dari yang diperkirakan pada kuartal pertama tahun ini.

Dana ini merupakan anggaran tambahan, setelah sebulan sebelumnya negara itu mengumumkan kucuran dana S$6,4 miliar, sekitar Rp73 triliun, untuk menopang ekonomi dan perawatan kesehatan dalam mengatasi pandemi virus corona.

Heng Swee Keat, Wakil Perdana Menteri, sekaligus Menteri Keuangan Singapura pada 26 Maret 2020 yang lalu mengatakan, S$17 miliar atau sekitar Rp195 triliun, dari dana tersebut diambil dari cadangan negara.

Ini adalah kali kedua Singapura memakai cadangan negaranya sejak tahun 2009 saat krisis keuangan global.

Saat itu pemerintah menarik S$4,9 miliar (U$3,40 miliar).

Paket ekonomi ini akan dipakai untuk membiayai sejumlah langkah baru dalam merespon pandemi COVID-19.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di dunia lewat situs ABC Indonesia.

(ita/ita)