'Berlapang Dada', Terpisah Sementara dengan Keluarga di Indonesia

ABC Australia - detikNews
Kamis, 26 Mar 2020 08:39 WIB
Canberra -

Akibat pandemik virus corona, sejumlah warga Indonesia di Australia mengaku sudah berbesar hati menerima kenyataan jika mereka untuk sementara tidak dapat bertemu atau berkumpul dengan keluarganya.

Sebelumnya ada sejumlah mahasiswa dan peserta program bekerja sambil berlibur di Australia (WHV) yang mengaku menyesal karena mereka sedang berada di Indonesia, sehingga belum tahu kapan bisa kembali ke Australia.

Hal ini terkait dengan keputusan Pemerintah Australia telah memutuskan untuk menutup perbatasan mereka dari kunjungan mereka yang bukan warga negara atau penduduk tetap, atau PR.

Sekarang ada pula warga Indonesia di Australia yang harus berpisah dari pasangan dan anak-anaknya, karena situasi yang semakin tidak memungkinkan mereka berkumpul.

Seperti yang diakui Asty Rastiya, mahasiswi di Deakin University di Melbourne, yang juga seorang istri dan ibu dari dua orang anak.

Asty Video Call

Asty mengaku ia tetap berkomunikasi dengan keluarganya hampir setiap hari lewat video call. (Koleksi pribadi)

Berbeda dengan Asty dan Bayu, Derwin Tambunan, mahasiswa di University of Queensland yang juga adalah seorang ayah dari dua orang anak, berencana untuk kembali ke Indonesia demi bertemu keluarganya di Jakarta.

"Kekhawatiran saya sebenarnya karena anak saya masih bayi dua orang dan mereka saat ini tinggal dengan istri dan dua orang pembantu," kata pria asal Jakarta ini.

"Ada kemungkinan minggu-minggu ke depan saya akan melanjutkan kuliah saya [melalui jalur online] di Indonesia."

Sebagai seorang kepala keluarga, Derwin merasa bertanggung jawab untuk memastikan keluarganya terhindar dari penularan virus corona dengan tetap berada di rumah.

"Saya harus melindungi keluarga agar mereka tidak terlalu bosan di rumah sehingga memaksa keluar dari rumah. Karena virus [corona] ini bukan masalah kita keluar sebentar atau lama tapi kapan terpaparnya," katanya.

Ia mengaku masih ada "perasaan was-was", karena istrinya yang kadang masih bekerja di luar rumah, meski ia mengaku masih percaya dengan asisten rumah tangganya.

Tapi Derwin masih mempertimbangkan untuk pulang ke Indonesia, karena ia khawatir dengan resiko tertular dalam perjalanan.

"Apalagi harus melewati bandara dan naik pesawat. Dan setelah sampai di Bandara Soekarno Hatta harus karantina sendiri lagi selama 14 hari," katanya, meski tetap berencana akan pulang.

Larangan ke luar negeri

Selasa malam (24/03), pemerintah Australia telah melarang warga negaranya ke luar negeri.

Larangan ini diterapkan dengan alasan agar mencegah mereka datang kembali ke Australia dengan membawa resiko menularkan virus corona atau membawa virus ke luar negeri.

Perkecualian diberikan kepada sejumlah kategori, termasuk warga Australia yang memang tinggal dan bekerja di luar negeri, perjalanan yang berkaitan dengan kepentingan nasional, atau mereka yang bekerja di bidang kemanusiaan.

Sementara bagi mereka yang bukan warga negara atau permanent resident Australia perlu waspada jika ingin keluar Australia, karena mereka tidak diperbolehkan kembali masuk untuk saat ini.

Sejumlah maskapai penerbangan, termasuk maskapai milik Australia, Qantas dan Jet Star juga akan menghentikan penerbangan internasional mulai akhir Maret sampai setidaknya akhir Mei mendatang.

Simak berita lainnya diABC Indonesiadan ikuti kami diFacebookdanTwitter.

(ita/ita)