Kisah Petugas Medis Asal Indonesia yang Ikut Lawan Virus Corona di Australia

ABC Australia - detikNews
Rabu, 18 Mar 2020 15:28 WIB
Melbourne -

Para tenaga medis di berbagai negara sedang berjuang keras mengatasi serangan virus corona atau COVID-19 pada pasien. Di Australia, ternyata ada tenaga medis asal Indonesia yang berada di garis depan.

Salah satu di antaranya adalah dr Indra, yang bekerja di instalasi gawat darurat salah satu rumah sakit di utara kota Melbourne.

Setidaknya dalam satu bulan terakhir, ia merasakan perubahan dalam rutinitasnya.

Perubahan pertama adalah pengoperasian 'covid-screening clinic' sebagai respon dari wabah corona.

Namun, dr Indra mengatakan, sejauh ini tidak terjadi lonjakan pasien yang datang untuk meminta dites atau diperiksa COVID-19.

"Saya rasa [ini karena] orang-orang cukup sensible, sudah banyak yang tahu bahwa prosedurnya bisa melalui hotline," jelasnya kepada Hellena Souisa dari ABC News.

Karena itu, menurut Indra, mereka yang mau di-screening biasanya menghubungi hotline terlebih dahulu sebelum datang ke rumah sakit.

Hospital generic health workers nurses

Kekhawatiran dr Indra akan social distancing terminimalisasi dengan protokol dan peralatan yang memadai di rumah sakit. (Supplied)

"Sekarang pulang dari tempat kerja masih harus memikirkan [kondisi kesehatan] anak yang masih bersekolah dan suami yang masih bekerja, juga harus menjawab pertanyaan dari pasien," ujar dr Inge.

"Ini masih harus ditambah stress memenuhi kebutuhan sehari-hari karena hampir semua barang habis di supermarket," ucapnya.

Ibu dari satu anak ini mengaku hampir kehabisan tenaga saat harus berburu ke beberapa supermarket selepas kerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia juga merasakan lalu lintas yang makin macet setiap hari, yang mungkin dikarenakan banyak orang menghindari transportasi publik.

"Sebagai dokter, jam kerja kami panjang. Sekarang karena harus berangkat lebih pagi supaya tidak terlambat, itu artinya waktu istirahat saya juga semakin berkurang."

Membantu tenaga medis kurangi beban

Saat ABC menanyakan apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk sedikit meringankan beban tenaga medis seperti mereka, dr Indra, dr Inge, dan Paulina punya jawaban senada.

Dr Inge meminta masyarakat untuk mematuhi anjuran yang sudah disampaikan oleh pihak yang berwenang, misalnya social distancing.

"Dalam situasi yang tidak menentu seperti sekarang ini, dokter-dokter yang bekerja itu ada limitnya."

Bagaimanapun juga, menurutnya, ada tanggung jawab masing-masing individu dalam mencegah penyebaran virus.

"Jadi tolong patuhi saja semua anjuran. Kalau sudah ada yang diminta untuk mengisolasi diri sendiri, tolong benar-benar jangan ke mana-mana selama dua minggu."

Paulina juga menggarisbawahi pentingnya awareness masyarakat atas penyakit ini.

"Sebaiknya masyarakat saling membantu. Yang sudah bergejala sakit jangan bepergian dulu. Yang gejala dan prakondisinya tidak masuk kriteria COVID-19, nggak usah ikut antre di unit gawat darurat," ujarnya.

Permintaan untuk mematuhi anjuran juga disampaikan dr Indra.

"Social distancing itu perlu, sama seperti anjuran yang lain tentang mencuci tangan selama setidaknya 20 detik atau hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%, dan tidak bersalaman," katanya.

Sementara itu untuk Pemerintah Australia, jika Indra merasa sampai saat ini kebijakan pemerintah sudah cukup proporsional, Inge merasa masih ada ruang untuk perbaikan.

"Mungkin untuk kebijakan mendatang, ada baiknya pemerintah mulai berpikir seagresif Pemerintah Singapura atau Hong Kong. Lebih baik agresif di depan, supaya angkanya tidak terus naik," tutup dr Inge.

(nvc/nvc)