Hari Perempuan Dunia: Para Perempuan Indonesia di Pertambangan Australia

ABC Australia - detikNews
Jumat, 06 Mar 2020 22:04 WIB
Canberra -

Sejumlah perempuan asal Indonesia telah membuktikan diri jika mereka tidak hanya mampu bekerja di Australia, yang memiliki budaya berbeda jauh dengan di Indonesia.

Mereka juga mampu bersaing di bidang-bidang yang biasanya didominasi pria, bahkan dianggap sebagai "pekerjaan pria".

Untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang diperingati 8 Maret setiap tahunnya, ABC Indonesia berbincang kepada tiga perempuan asal Indonesia.

Maryln Whyte, Jelita Sidabutar, dan Yulia Hadi bekerja di sektor pertambangan di Australia Barat, namun mereka bekerja di perusahaan yang berbeda.

Sebelumnya, mereka juga pernah memiliki pengalaman bekerja di bidang pertambangan, konstruksi, dan telekomunikasi saat berada di Indonesia.

'Bukan seorang puteri, tapi pejuang'

Marlyn White

Koleksi pribadi: Marlyn mengaku jika teman-temannya terlihat kasar, tapi mereka peduli dan sangat baik pada rekan kerja perempuan.

Menurutnya, salah satu tantangan bekerja di industri tambang Australia adalah "budaya maskulin barat", kadang dengan lelucon yang bisa salah kaprah dan penuh kata-kata kasar.

"Saya tentu tidak membawanya ke hati, saya katakan pada mereka kalau itu tidak benar, meski saya tahu mereka tidak benar-benar bermaksud seperti itu."

Bekerja di pertambangan dikenal dengan gajinya yang tinggi, ia mengaku bayarannya bisa mencapai AU$ 2.700, atau lebih dari Rp 25 juta, per pekan setelah pajak.

Tapi bagi perempuan yang ingin bekerja di bidang ini, ia sarankan untuk menyiapkan mental.

"Kalau benar-benar punya semangat untuk melakukannya, maka kerjakan, tapi kalau setengah-setengah, lebih baik jangan."

Saat ia pulang dari tugasnya di lokasi tambang, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beristirahat, bertemu anak-anaknya atau bersama teman-temannya.

Ikuti kisah-kisah inspiratif dari komunitas Indonesia di Australia di situs ABC Indonesia.

(mae/mae)