Perlukah Membatalkan Perjalanan ke Indonesia karena Virus Corona?

ABC Australia - detikNews
Rabu, 04 Mar 2020 16:26 WIB
Canberra -

Sejak wabah virus corona dilaporkan semakin meluas, beberapa warga Indonesia di Australia diketahui membatalkan perjalanan mereka ke Indonesia. Tapi warga Australia sendiri masih "percaya diri" untuk pergi ke Indonesia.

Akhir pekan lalu, seorang penumpang pesawat Malindo Air rute Denpasar - Melbourne diketahui positif terjangkit virus corona. Sebelumnya, diketahui perempuan berusia 30 tahun tersebut baru kembali dari Iran.

Saat ABC memberitakannya, sejumlah warga di Australia menyampaikan keraguan mereka untuk terbang ke Bali.

Termasuk juga di kalangan warga Indonesia di Australia, yang lewat jejaring sosial, menyatakan rencana mereka untuk membatalkan atau mengundur jadwal perjalanan ke Indonesia.

Seorang pemilik agen travel di Melbourne, Angelina Sukiri, sudah mengkonfirmasi adanya pembatalan perjalanan yang dilakukan oleh beberapa warga Indonesia di Australia.

"Mereka bisa 'voluntary cancel' atau membatalkan sukarela kalau tidak nyaman untuk pergi ke Indonesia dan bayar 'penalty' [denda] mengikuti peraturan maskapai," kata Angelina kepada Natasya Salim dari ABC.

Tapi menurut Angelina, salah satu penyebab pembatalan adalah adanya rumor soal kunjungan ke Indonesia.

"Memang ada orang yang takut, [dan] membatalkan karena mereka percaya pada rumor. Rumornya apa? Katanya kalau dari Indonesia takutnya tidak bisa balik ke Australia," kata dia.

"Saya bilang jangan percaya sama rumor tersebut, pakai acuan pemerintah yaitu Smart Traveller yang mengatakan bahwa warga Australia tidak boleh pergi ke China atau Iran."

Warga Indonesia menimbang ulang rencana perjalanan

Berbeda dengan warga Australia, seperti yang dikatakan Angelina, mereka lebih percaya diri untuk pergi ke Indonesia.

Padahal sebelumnya banyak kalangan yang meragukan Indonesia bebas dari virus corona, dan baru awal pekan ini dua orang di Indonesia dinyatakan positif terjangkit COVID-19.

"Kalau klien orang Australia masih oke saja, yang batal kebanyakan orang Indonesia yang tinggal di Australia."

Beberapa wisatawan Australia bahkan tetap akan terbang ke Eropa, di mana terdapat peningkatan kasus virus corona, terutama di Italia utara yang dianggap sebagai sumber penyebaran.

"Orang Australianya sendiri tidak membatalkan untuk ke Eropa karena ada outbreak di Italia," kata Angelina kepada Natasya Salim dari ABC News.

"Saya telepon klien dan mereka bilang 'tidak apa' karena mereka sering berlibur ke Eropa dan saya rasa [mungkin] virus corona dalam beberapa bulan sudah jadi normal."

Angelina membandingkan pengalamannya saat mewabahnya penyakit SARS di tahun 2003.

"Di zaman SARS saya sudah jadi agen perjalanan. SARS kan lebih bahaya dari virus corona, tapi ketika itu situasi sudah normal lagi dalam waktu beberapa bulan."

Namun Angelina menyarankan pembatalan perjalanan sekolah dengan peserta anak-anak di tengah mewabahnya virus corona, termasuk ke Indonesia.

"Saya bilang 'cancel' saja trip-nya karena tidak mungkin sekolah dapat kasih jaminan [anak murid akan bebas virus corona] sepulang dari Indonesia."


Penjualan tiket pesawat masih normal

Sementara itu, menurut Flora Izza, manajer umum Garuda Indonesia di Melbourne, saat ini tidak ada penurunan jumlah pemesanan tiket dari Melbourne ke Denpasar.

"Sejauh ini tidak ada penurunan jumlah [pemesanan tiket Melbourne-Denpasar], tapi memang bulan Februari adalah periode 'low season' sama seperti tahun-tahun sebelumnya."

Menurutnya, warga di Australia tidak perlu merasa takut untuk terbang ke Indonesia.

"Kami berharap semua normal, tidak perlu khawatir dan pemerintah Indonesia dan Australia juga tidak ada pernyataan apapun."

Ia juga mengatakan Garuda Indonesia sudah memiliki persiapan apabila terjadi masalah penerbangan karena virus corona.

"Kami sudah mempersiapkan, ada mitigasinya, tapi kami tidak mengharapkan."


Di Indonesia, rute domestik masih sepi

Sementara di Indonesia, pemilik perusahaan agen perjalanan di Bogor, Jawa Barat mengaku banyak pelanggan yang khawatir bepergian.

Padahal, untuk mendongkrak pariwisata domestik pemerintah sudah menawarkan potongan harga sampai 30 persen, selain beberapa kebijakan lainnya.

"Pelanggan masih pada malas terbang walau sudah didiskon. Semua destinasi menurun," kata Nancy Yudi Winata, kepada Hellena Souisa dari ABC News.

"Tapi mulai April dan seterusnya, sudah mulai ada yang 'book' dan 'issue' tiket, hanya untuk domestik. Kalau untuk internasional belum kelihatan."

Sama seperti Angelina, Nancy juga mengatakan rata-rata kekhawatiran para pelanggannya adalah susah kembali ke Indonesia jika terbang ke luar negeri.

"Semua ditunda, menunggu sampai keadaan membaik."

Simak artikel lainnya di ABC Indonesia. Dan ikuti kami di Facebook dan Twitter.

(ita/ita)