Rindu Wuhan: dari Rumah Kedua, Mie Kering, Sampai Sidang Disertasi

ABC Australia - detikNews
Selasa, 03 Mar 2020 18:10 WIB
Beijing -

Wuhan, sebuah kota di China menjadi terkenal karena jadi asal mewabahnya virus corona. Tapi bagi mereka yang pernah tinggal di kota itu, seperti mahasiswa asal Indonesia, kota ini menyisakan rindu.

Sudah dua minggu lebih, Yuliannova Chaniago, Gerard Ertandy, dan Eva Taibe terbang dari Natuna ke keluarganya masing-masing.

Ketiganya adalah mahasiswa 'Central China Normal University' di Wuhan, yang menjadi bagian dari 238 WNI yang dievakuasi Pemerintah Indonesia dari kota itu, setelah virus corona merebak.

Saat ini mereka masih tinggal di kota asal mereka masing-masing, belum bisa kembali ke kota Wuhan yang masih ditutup, atau istilahnya 'lockdown'.

'Tidak takut kembali ke Wuhan'

Gerard, Eva, Yuli

Dari kiri: Gerard, Yuli dan Eva berharap kondisi Wuhan untuk segera kondusif agar dapat kembali kuliah. (Supplied: Yuliannova Chaniago)

Pesan untuk WNI di Wuhan

Kerinduan Yuli, Eva, dan Gerard terhadap kota Wuhan juga tak lepas dari kerinduan mereka terhadap Humaidi Zahid atau Omed.

Omed masih berada di Wuhan karena tidak lolos tes ketika hampir dievakuasi ke Natuna (1/2/2020).

"Kami tidak melupakan dia, waktu kami di pesawat dan tahu Omed tidak lolos screening akhir, kami sangat sedih," kata Yuli kepada ABC Indonesia.

"Kami juga prihatin setelah ada beberapa media datang ke rumah Omed, yang mengganggu privacy keluarganya," sambungnya.

Melihat Omed adalah satu-satunya di antara 238 WNI yang berhasil dievakuasi, Yuli berharap pemerintah Indonesia dapat memberikan perhatian lebih.

"Memang sulit juga sekarang untuk melakukan evakuasi Omed, tapi kita berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada dia dan teman-teman yang masih tinggal di Wuhan."

Sementara bagi Gerard, salah satu harapannya adalah agar wabah corona segera berakhir.

"Saya berharap agar semua ini berakhir, karena kasihan juga orang-orang di Wuhan tidak cuma pemerintah juga, aktivitasnya memang terganggu dan malah telantar. Tidak bisa berjalan seperti biasanya."

(ita/ita)