Australia Pastikan Pria Gaza Ini Bukan Pencuri, Tapi Israel Tak Peduli

ABC Australia - detikNews
Jumat, 14 Feb 2020 13:26 WIB
Canberra -

Lebih tiga tahun setelah Muhammad Al Halabi, pekerja sosial di Gaza ditangkap Israel, jaksa belum juga membuktikan tuduhan terhadapnya. Padahal, tuduhannya serius, yaitu menyalurkan jutaan dolar bantuan dari Australia kepada Hamas.

Nasib Pekerja Sosial di Gaza

  • Pada tahun 2016, pihak Israel menuduh pekerja sosial di Gaza, Mohammed Al Halabi, menyalurkan dana badan amal World Vision ke Hamas
  • Penyelidikan oleh Pemerintah Australia dan World Vision tidak menemukan adanya satu pun bukti tuduhan tersebut
  • Al Halabi tetap dijebloskan ke penjara Israel dan telah menjalani persidangan sebanyak 130 kali

Setiap dua bulan sekali, Amal Al Halabi, ibu dari Muhammad Al Halabi, membawa dua cucunya yang harus menempuh perjalanan jauh dari Kota Gaza ke sebuah penjara berkeamanan tinggi di gurun Negev.

Setelah mereka melewati pos pemeriksaan Israel berteknologi tinggi di perbatasan utara Gaza, mereka harus menempuh perjalanan panjang ke penjara terisolasi yang menampung tahanan-tahanan kelompok Hamas dan Jihad Islam.

Amal dan kedua cucunya yang didampingi Palang Merah itu menemui Muhammad yang ditangkap Israel pada Agustus 2016. Saat ditangkap, dia sedang menjalankan tugas dari badan amal internasional World Vision.

Saat itu, keluarga mereka tidak tahu keberadaan Muhammad dan apa yang terjadi padanya.

"Makanan yang saya siapkan untuknya masih ada di meja. Kami menangis dan terus menangis sampai sekarang. Sangat menyedihkan bagi kami dan semua orang yang mengenal Muhammad," ujar Amal.

Amal Al Halabi wears a pink headscarf and has tears in her eyes.

Kesedihan ibunda Muhammad Al Halabi, Amal Al Halabi, tak kunjung usai. (ABC News: Tom Hancock)

Yarden Vatikay, mantan kepala Direktorat Informasi Nasional Israel pada kantor perdana menteri yang dimintai tanggapan menyatakan perbedaan bukti-bukti yang ada itu tidaklah penting.

"Kami tahu dia mengalihkan jutaan dolar, mungkin puluhan juta dolar. Itu sekitar 60 persen dari seluruh anggaran," ujarnya.

"Kami menuduhnya memanipulasi uang melalui perusahaan yang disewanya. Perusahaan menerima uang darinya dan dari sumber lain dan sebagian uang itu dialihkan ke Hamas dan tentu saja, ia tahu hal itu," kata Vatikay.

"Jadi saya tidak akan mendebat jumlah uangnya, saya kira itu tidaklah penting," ujarnya.

Pengusaha yang dituduh bersekongkol dengan Al Halabi, Nabil Atta, juga telah membantah tuduhan itu.

Pemasok untuk World Vision ini kepada ABC menjelaskan dirinya memiliki kontrak untuk badan amal besar lainnya, termasuk PBB.

"Kami bekerja di lapangan, semuanya dilakukan transparan. Setiap proyek yang kami tangani dimonitor dan disetujui oleh badan internasional yang datang untuk mengawasi," jelasnya.

Atta menduga tuduhan Israel terhadap Al Halabi memiliki motif lain.

"Muhammad Al Halabi itu orang yang sangat sukses membantu warga Gaza. Saya kira Israel tidak senang melihat orang seperti dia, aktif dan berhasil membantu warga," katanya.

Pengacara Maher Hanna juga mempertanyakan motif dakwaan terhadap kliennya. "Bagi saya ini jelas adalah kasus politik," ujarnya.

Pemerintah Israel tidak menjawab pertanyaan tentang dugaan penyiksaan yang dialami Al Halabi, tawaran hukuman kepadanya, serta tidak adanya bukti yang ditemukan pihak Australia.

Dalam pernyataannya, Pemerintah Israel mengatakan, "Semua tuduhan terhadap Al Halabi didasarkan pada bukti dan kami menolak klaim sebaliknya."

"Karena alasan itu, dan karena risiko keamanan yang ditimbulkannya, pengadilan memutuskan bahwa dia harus ditahan sampai akhir persidangan," katanya.

"Perlu dicatat bahwa proses hukum terhadap Al Halabi sedang dilakukan sesuai hukum Israel dan mendapat pengawasan yudisial, baik oleh Pengadilan Distrik yang menangani kasus ini maupun oleh Mahkamah Agung Israel dalam aspek terkait," tambahnya.

Simak berita selengkapnya dalam Bahasa Inggris di sini.

(ita/ita)