Kebakaran Hutan dan Virus Corona Ancam Industri Wisata Australia

ABC Australia - detikNews
Selasa, 11 Feb 2020 13:39 WIB
Canberra -

Malang tidak bisa ditolak, untung tidak bisa diraih. Itulah yang mungkin dialami oleh sektor pariwisata Australia akibat dari kebakaran hutan di dalam negeri, dan penyebaran virus corona yang mempengaruhi perjalanan turis dari China.

  • Dari 9,3 juta turis yang mengunjungi Australia tahun lalu, 1,4 juta diantaranya dari China
  • Operator wisata yang mengurusi turis asal China khawatir kalau penyebaran virus corona terus berlanjut
  • Operator wisata di kawasan yang terkena kebakaran mengalami penurunan pendapatan

Jason Cronshaw memiliki bis untuk kegiatan tur sehari-hari di kawasan wisata Blue Mountains, sekitar 62 km dari Sydney, dan biasanya enam bis silih-berganti melayani turis selama bulan Desember dan Januari.

Namun di musim panas kali ini keadaannya berubah.

"Selama musim panas ini, kami hanya mengoperasikan satu bis, dan itu pun agar kami masih bisa melayani kalau ada turis yang datang. Tapi sangat sedikit," kata Cronshaw.

Keluarganya sudah menjalankan usaha bernama Fantastic Aussie Tours selama lebih dari 40 tahun.

"Selama 45 tahun, saya belum pernah melihat keadaan sesepi ini."

Foto-foto mengenai kebakaran hutan di Australia selama beberapa bulan terakhir tersebar ke seluruh dunia, dan membuat para pelancong takut untuk berkunjung.

A red double-decker bus

Operator wisata seperti Blue Mountains Explorer Bus mengalami penurunan tajam kedatangan turis di NSW. (ABC News: Grant Wignall)

Yuan memperkirakan 40-50 persen pendapatannya berasal dari rombongan tur dari China yang mengunjungi Australia.

Pemerintah China sudah melarang warganya untuk bepergian ke luar negeri sehingga salah satu pasar terbesar bagi turis China, Australia juga terpengaruh karenanya.

Pemerintah Australia juga melakukan pembatasan transit melewati China, dan maskapai pun membatalkan penerbangan.

"Saya harus membatalkan pemesanan restoran, hotel, juga tiket pesawat," kata Yuan.

"Banyak orang bekerja atau menggantungkan diri dari restoran, mereka sudah mulai khawatir, khawatir dari dampak turis asal China."

Dari 9,3 juta turis yang mengunjungi Australia tahun lalu, menurut Tourism Australia, 1,4 juta di antaranya berasal dari China dengan pengeluaran rata-rata sekitar Rp 90 juta.

"Dari sisi turis internasional, saya kira sekarang banyak usaha yang mengalami krisis," kata Margy Osmond dari Forum Turisme dan Transport.

"Kalau pembatalan kedatangan turis China berlanjut, dampaknya akan sangat terasa tiap bulan. Kalaupun nanti membaik, kami harus memulai lagi membina hubungan dan membuka pasar."

Yuan mengatakan besar kemungkinan rekan-rekannya di bisnis serupa akan bangkrut dalam waktu dekat.

"Mereka masih kedatangan turis China Amerika, warga Hong Kong, atau dari Malaysia. Namun jumlahnya hanya 20-30 persen dari keseluruhan."

"Sebagai contoh, bis yang punya 35 tempat duduk sekarang hanya diisi 7 penumpang. Berapa lama bisnis ini bisa berjalan?"

"Bila hal ini berlangsung sampai dua tiga bulan ke depan, banyak bisnis seperti kami akan bangkrut."

Artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris bisa dibaca di sini

(ita/ita)