Indonesia Belum Termasuk dalam 35 Negara yang Dapat Visa Gratis ke Australia

ABC Australia - detikNews
Selasa, 11 Feb 2020 13:14 WIB
Canberra -

Perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Australia atau IA-CEPA yang telah diratifikasi kedua negara akan mulai berlaku dalam beberapa bulan ke depan. Salah satu isu yang cukup mengganjal selama proses negosiasi yaitu visa bagi turis RI yang ingin ke Australia.

Selama ini Indonesia memberlakukan Visa On Arrival (VOA) bagi turis asal Australia. Visa jenis ini berlaku 7 sampai 30 hari terhitung dari saat kedatangan. Visa 7 hari dikenakan biaya $US 10 (Rp 140 ribu) dan visa 30 hari seharga $US 25 (sekitar Rp 240 ribu).

Artinya, turis Australia yang mau ke Indonesia cukup datang dengan membawa paspornya. Mereka bisa mengurus VOA di bandara kedatangan.

Kemudahan semacam ini tidak berlaku sebaliknya. Dan Presiden RI Joko Widodo merasa hal itu sebagai "tidak fair".

"Visa On Arrival seharusnya berlaku timbal-balik dan adil," katanya seperti disampaikan kepada media The Australian.

Dalam keterangan pers bersama pada hari Senin (10/2/2020) usai pembicaraan bilateral dengan Presiden Jokowi di gedung Parlemen Australia, PM Scott Morrison melontarkan janji terkait hal ini.

"Hari ini kami sepakat untuk memasukkan elemen baru sebagai bagian dari implementasi (IA-CEPA)," ujar PM Morrison.

"Kami cukup lega karena Mendagri Australia bersama mitranya di Indonesia akan menindaklanjuti bagaimana cara menyederhanakan dan menyelaraskan isu entry ke Australia (bagi turis Indonesia)," tambahnya.

Rupanya, isu ini benar dikemukakan oleh pihak Indonesia dalam pembicaraan bilateral tersebut.

"Pernah terlibat genosida?"

karakter.jpg

Salah satu syarat mendapatkan visa untuk bisa masuk ke Australia yaitu mengisi puluhan lembar dokumen, termasuk uji karakter yang antara lain menanyakan apakah pemohon pernah terlibat genosida dan kejahatan seksual. (Istimewa)

Pertimbangan memberi VOA bagi turis Australia yang ke Indonesia tentu saja dengan mempertimbangkan besarnya jumlah kunjungan setiap tahun.

Menurut laporan Indonesia Institute Inc yang dikutip watoday.com, turis Australia kembali menjadi nomor satu sebagai wisatawan asing terbanyak ke Bali sepanjang tahun 2019.

Padahal sejak tahun 2017, posisi tersebut ditempati oleh turis asal China.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menyebutkan, jumlah turis Australia di sana mencapai 1.062.039 orang pada 2017 dan meningkat menjadi 1.169.215 orang pada 2018.

Laporan kedatangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai menyebutkan, pada 2019 jumlah turis Australia meningkat lagi menjadi 1.230.133 orang.

Sementara turis China pada tahun yang sama berjumlah 1.196.497 orang atau turun sekitar 15 persen dari 1.380.687 orang pada 2018.

Sebaliknya, data tahun 2019 menunjukkan jumlah turis Indonesia yang bepergian ke luar negeri mencapai 9,1 juta orang - hanya 1,7 persen yang berkunjung ke Australia.

Padahal, puluhan negara telah memberikan status bebas visa atau VOA bagi para turis Indonesia yang ingin berkunjung ke negara mereka.

Simak berita-berita menarik lainnya dari ABC Indonesia.

(ita/ita)