'Perlu Minta Maaf ke Mahasiswa China': Bandara Australia Diperketat, Universitas Mengecam

ABC Australia - detikNews
Sabtu, 08 Feb 2020 09:08 WIB
Canberra -

Asosiasi perguruan tinggi Australia mengecam tindakan petugas bandara terhadap mahasiswa asal China terkait wabah Virus Corona. Para mahasiswa diinterogasi berjam-jam, ada yang visanya ditangguhkan, ada juga yang langsung dipulangkan.

Mahasiswa China Dipersulit:

  • Tindakan tegas petugas perbatasan Australia terhadap mahasiswa asal China dikecam oleh asosiasi perguruan tinggi yang menuntut permintaan maaf
  • Sektor pendidikan tinggi di Australia sangat bergantung pada mahasiswa asal China yang jumlahnya kini mencapai 189 ribu, 155 ribu di antaranya kuliah di universitas
  • Pendidikan tinggi berkontribusi sebesar 37,6 miliar dolar atau sekitar Rp 376 triliun pada perekonomian Australia di tahun anggaran 2018/2019.

Asosiasi bernama Universities Australia ini menyebutkan para mahasiswa asal China merasa tertekan setelah ditahan oleh petugas bandara ketika larangan perjalanan mulai berlaku.

Mereka mendesak Pemerintah Australia untuk meminta maaf kepada mahasiswa yang mengalami interogasi dan penahanan berjam-jam tersebut.

Sedikitnya 80 warga China termasuk para mahasiswa dihentikan petugas di Bandara Sydney pada hari Minggu (2/2/2020). Hal yang sama juga terjadi di Bandara Melbourne dan Brisbane.

Ketua Universites Australia Catriona Jackson menyatakan pihaknya telah menyampaikan permasalahan ini kepada Menteri Dalam Negeri Peter Dutton.

Dia berharap Mendagri Dutton meminta maaf secara resmi kepada warga asal China yang "diperlakukan dengan buruk" tersebut.

"Kami mendapat laporan dari pejabat universitas yang mengatakan para mahasiswa ini sangat tertekan," kata Catriona kepada ABC Radio.

"Mereka sangat kecewa dengan perlakuan yang dialami. Mereka merasa ditahan selama periode tertentu tanpa makanan yang cukup. Ada yang pakaiannya diambil," jelasnya.

catriona_jackson.jpg

Ketua asosiasi perguruan tinggi Australia Catriona Jackson mendesak pemerintah meminta maaf atas perlakuan yang dialami mahasiswa China di sejumlah bandara. (Facebook: Monash University)

Sementara itu Menteri Pendidikan Tinggi Dan Tehan bertemu dengan pengurus Universities Australia pada Senin malam, untuk memastikan reputasi sektor pendidikan Australia tetap terjaga selama krisis ini.

Menteri Tehan menjelaskan univeritas memiliki fleksibilitas untuk pengaturan kuliah mahasiswa China yang terdampak, yaitu kuliah online atau kuliah jarak jauh.

Universitas Monash yang memiliki porsi mahasiswa asal China sangat tinggi, mengumumkan akan mengundurkan dimulainya masa perkuliahan hingga dua minggu dari jadwal seharusnya.

Sebuah petisi online yang didukung ribuan orang juga meminta Universitas Sydney untuk melakukan hal yang sama, namun hingga saat belum ada kebijakan dari universitas tersebut.

Menurut catatan, sekitar 189.000 mahasiswa asal China saat ini terdaftar di sektor pendidikan tinggi Australia. Dari jumlah itu, 155.000 orang mengikuti perkuliahan di universitas.

Pada tahun anggaran2018/2019, sektor pendidikan internasional menghasilkan 37,6 miliar dolar atau sekitar Rp 376 triliun untuk perekonomian Australia, atau naik 5 miliar dolar dibandingkan tahun sebelumnya.

Ikuti berita menarik lainnya dari ABC Indonesia.

(ita/ita)