Kekhawatiran Mahasiswa Indonesia di Wuhan di Tengah 'Hoax' dan Sebutan 'Azab'

ABC Australia - detikNews
Kamis, 30 Jan 2020 09:38 WIB
Canberra -

Pemberitaan soal virus corona di Indonesia, telah menjadi beban psikologis sejumlah mahasiswa Indonesia yang sedang studi di kota Wuhan. Bahkan menambah kekhawatiran keluarga mereka.

KP Mahasiswa Indonesia di Wuhan

  • Mahasiswa Indonesia minta pemerintah Indonesia menjaga perasaan mereka sebelum keluarkan pernyataan
  • Pemberitaan di Indonesia soal virus corona juga menambah beban mereka dan kekhawatiran di keluarga
  • Mereka mendapatkan pasokan makanan dan dipantau kesehatannya oleh pihak kampus

Pemerintah China telah memberlakukan penutupan, atau 'lockdown' kota Wuhan sejak 23 Januari lalu, untuk menghindari meluasnya virus corona yang telah menewaskan lebih dari 130 orang hingga hari Rabu (28/01)

Kota Wuhan menjadi tempat berasalnya wabah virus corona, dimana 243 warga Indonesia sedang berada di sana, menurut catatan Kementerian Luar Negeri RI. Hampir setengahnya adalah mahasiswa.

Salah satu mahasiswa Indonesia yang ada di Wuhan dan tidak dapat berpergian ke mana-mana adalah Yuliannova Lestari Chaniago.

Kepada jurnalis ABC News, Hellena Souisa, Yuli mengatakan ketidakpastian akan sampai kapan kota Wuhan ditutup menjadi beban yang dirasakannya bersama teman-teman.

"Tentu tiap hari kami ingat rumah dan keluarga kami. Yang terberat bagi kami adalah menjalani ketidakpastian, karena situasi lockdown ini belum tahu sampai kapan."

Yuliannova

Yuliannova (kiri) berharap agar pemerintah Indonesia tidak mengatakan hal yang konyol dan meresahkan keluarganya. Supplied: (Yuliannova Lestari Chaniago)

Tak hanya pasokan makanan, mahasiswa Indonesia yang tinggal di asrama, seperti Yuli, juga dipantau kesehatannya.

Pihak universitas membagikan masker, sabun cuci tangan dan termometer gratis untuk mahasiswa.

"Kami diminta mengukur suhu tubuh kami dan melaporkannya ke group leader kami setiap hari. Dengan begitu, perubahan suhu yang perlu diwaspadai bisa lebih mudah terdeteksi sehingga bisa langsung ditindaklanjuti."

Kecewa dengan sebutan 'azab'


Aditya Fahmi Nurwahid, mahasiswa S2 Jurnalistik dan Komunikasi di Wuhan University menyuarakan kekecewaannya tentang pemberitaan di Indonesia tentang kondisi WNI di Wuhan.

"Banyak teman-teman di media sosial ataupun media online, bahkan saya bisa sebut beberapa talkshow atau variety show yang dalam tanda kutip mengkomodifikasi bencana ini," kata dia.

"[Mereka menggunakan] istilah-istilah seperti 'zombieland', kota hantu atau azab."

Perilaku yang menurutnya "tidak pada tempatnya" membuat Fahmi dan mahasiswa lainnya merasa tidak nyaman.

"Kita sejujurnya bertanya-tanya, 'Kok begitu ya orang Indonesia?' Padahal sebetulnya ada sebabnya mengapa misalnya kota [Wuhan] bisa sepi." tambahnya lagi.

Menurutnya, berita 'bombastis' yang beredar di Indonesia membuat keluarga mereka semakin khawatir sekaligus menambah beban mahasiswa Indonesia di Wuhan.

"Jujur, tugas kami, sebagai mahasiswa [Indonesia di Wuhan] semakin berat," kata Fahmi kepada Natasya Salim dari ABC News.

"Karena selain juga berusaha untuk tetap tenang di sini, kita harus menenangkan keluarga yang sangat mudah sekali menerima informasi seperti itu."

Informasi yang dimaksudkan oleh Fahmi adalah berita atau video tentang keadaan di Wuhan yang tersebar di media sosial.

"Memang kadang kita ingin tahu, memikirkan substansi [tertentu] benar atau tidak, sih? Apakah video [tertentu] benar?"

"Beberapa video dikonfirmasi pemerintah China sebagai hoax, tapi tidak semuanya dikonfirmasi. Dan kita juga tidak tahu karena memang kita juga tidak ingin tahu," tambahnya.

Menurutnya, masyarakat Indonesia perlu lebih bijak dalam membagikan berita dan sejenisnya tentang keadaan di Wuhan.

"Saya harap teman-teman lebih bijak. Memang kadang kita ingin tahu, tapi [mungkin] lebih bisa mengedepankan sisi humanisme, ya."



Adakah WNI yang terjangkit?


Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan warga Indonesia, baik di Wuhan atau kota lainnya di China, yang terkonfirmasi terjangkit virus corona.

Yuli mengatakan sejak Wuhan dinyatakan 'lockdown', pihak KBRI Beijing terus memantau kondisi mahasiswa Indonesia di sana, hampir setiap hari.

"[Salah satu yang dilakukan KBRI Beijing] adalah memastikan pasokan makanan selama lockdown aman."

Tak hanya pasokan makanan, mahasiswa Indonesia yang tinggal di asrama, seperti Yuli, juga dipantau kesehatannya.

Pihak universitas membagikan masker, sabun cuci tangan dan termometer gratis untuk mahasiswa.

Fahmi mengatakan universitasnya juga menyediakan fasilitas makan pagi, siang dan malam serta aktif memeriksa kesehatan mahasiswa internasional.

Ia juga mengatakan bahwa mahasiswa Indonesia di Wuhan aktif menjalin komunikasi dengan KBRI Beijing melalui grup komunikasi bersama.

ABC Indonesia sudah mencoba menghubungi Kementerian Luar Negeri dan KBRI Beijing, tetapi keduanya tidak memberikan komentar.

Simak perkembangan berita virus corona di ABC Indonesia.

(ita/ita)