Akankah Terjadi Perang Dunia Ketiga Akibat Konflik Iran-Amerika Serikat?

ABC Australia - detikNews
Jumat, 10 Jan 2020 13:31 WIB
Washington -

Sejumlah pengamat telah menyampaikan kekhawatiran jika konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran akan menjadi awal terjadinya Perang Dunia Ketiga.

Kemungkinan Konflik Terbuka Iran-AS
  • Iran tidak memiliki banyak dukungan militer kuat dibandingkan Amerika Serikat
  • Dukungan untuk Iran kebanyakan dari negara pemerintah Shiah, seperti Irak, Suriah, dan Lebanon
  • Iran mungkin akan terus melakukan perang 'tidak langsung' di kawasan Timur Tengah

Kalau memang terjadi, lantas siapa saja yang akan jadi sekutu Iran dan siapa yang akan membantu Amerika Serikat?

Situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas, setelah serangan drone milik Amerika Serikat yang menewaskan jenderal Iran, Qassem Soleimani, dekat bandara Irak, Baghdad pekan lalu.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan belasan peluru kendali ke dua pangkalan militer Irak, yang juga menampung tentara AS.

Menyusul serangan rudal hari Rabu (8/1/2020), Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, mengeluarkan pernyataan di Twitter bahwa Iran tidak berusaha "meningkatkan ketegangan ataupun perang."

Namun beberapa jam setelah serangan rudal tersebut, sebuah pesawat penumpang Ukraina International Airlines yang terbang dari Bandara Imam Khomeini di Tehran jatuh dan menewaskan seluruh 176 orang di dalamnya.

Sekarang diketahui dari informasi intelijen sejumlah negara, pesawat Boeing 7370-800 itu telah ditembak jatuh oleh rudal Iran, walau mungkin motifnya menurut beberapa pejabat negara Barat mungkin "tidak sengaja dilakukan".

Bagaimana kemungkinan Perang Dunia Ketiga?

A persona holds placard of Donald Trump's face shouting is superimposed over a circular logo of the US flag splashed in blue.

Gambar Presiden Donald Trump yang dilempari dengan cat oleh peserta unjuk rasa di Manila, Filipina menentang serangan AS terhadap jenderal Qassem Soleimani. (AP: Virginia Mayo)

Sekutu Amerika Serikat di Eropa sudah menyerukan agar ketegangan diturunkan.

Uni Eropa dan Menteri Luar Negeri Prancis mendorong dilanjutkannya dialog untuk menenangkan situasi.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson dalam sidang Parlemen hari Rabu, menyerukan semua pihak agar tenang dan mengatakan jenderal Iran yang tewas itu "berlumur darah di tangannya".

Dr Bryce Wakefield, direktur eksekutif Australian Institute of International Affairs mengatakan kecil kemungkinannya akan ada konflik dalam skala besar.

Namun bila memang terjadi, Amerika Serikat "akan menekan sekutunya untuk mengirimkan pasukan, termasuk juga Australia".

Beberapa negara di Eropa, khususnya Inggris akan membantu AS, namun menurut Dr Wakefield, negara seperti Jerman dan Prancis besar kemungkinan tidak akan terlibat secara militer.

Namun perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat tidak akan menguntungkan kedua belah pihak pula, kata Dr Wakefield.

"Perang terbuka bisa berarti berakhirnya rejim di Iran, namun biayanya juga akan sangat mahal bagi AS, dalam hal korban jiwa, dan juga keuangan dan sumber daya lain yang harus dikerahkan," kata Dr Wakefield.

Baca artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini.



(ita/ita)