'Saya Merasa Jadi Sapi Perahan', Pengalaman Mahasiswa Kos-kosan di Australia

'Saya Merasa Jadi Sapi Perahan', Pengalaman Mahasiswa Kos-kosan di Australia

ABC Australia - detikNews
Rabu, 04 Des 2019 13:44 WIB
Sydney -

Ketika mahasiswa asal China Jiaying Wan pertama kali tiba di Sydney untuk belajar akuntansi, dia dipaksa harus membayar Rp 80 juta di muka selama empat bulan dan jaminan untuk tempat tinggalnya.

  • Laporan terbaru melakukan survei terhadap 2440 mahasiswa internasional
  • Mahasiswa yang tinggal di kos-kosan paling terpengaruh kalau kondisinya buruk
  • Penulis laporan mengatakan eksploitasi banyak terjadi di sektor akomodasi mahasiswa

Pemilik kos-kosannya juga mengenakan biaya bersih-bersih Rp 1,65 juta per minggu dan harus membeli alas pelindung kasur Rp 750 ribu untuk kamar tidurnya.

"Sebelum saya masuk, saya sudah merasa jadi sapi perahan. Saya belum pernah menggunakan alas pelindung kasur sebelumnya," kata perempuan berusia 24 tahun tersebut.

"Saya tidak pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya. Saya tidak tahu bagaimana mengatasi masalah ketika itu. Saya merasa terjebak tinggal di sana."

Dia mencari sendiri tempat tinggal tersebut lewat online sebelum dia tiba di Australia.

Jiaying Wan berhubungan dengan pemilik akomodasi tersebut lewat media sosial China WeChat.

Akhirnya, Wan mencari bantuan hukum dan Pusat Bantuan Hukum Redfern Legal Centre membawa kasus itu ke Tribunal Sipil dan Administrasi negara bagian New South Wales.

Tribunal memutuskan pemilik akomodasi mengembalikan Rp 36 juta kepada Wan, termasuk Rp 10 juta yang diambil dari kartu kreditnya.

"Sekarang tiap kali saya ingin mencari kos-kosan saya berusaha sangat berhati-hati."

"Saya ingin tahu kira-kira apa kemungkinan buruk yang bisa terjadi." katanya.

Jiaying Wan mengatakan kondisi tempat tinggalnya di Sydney mempengaruhi stress secara mental maupun keuangan yang dialaminya ketika belajar di Australia.

A blurred picture of three females sitting at a table in a room.

Laporan terbaru mengatakan maraknya ekploatasi yang dilakukan pemilik akomodasi di Australia terhadap para mahasiswa internasional. (Pexels.com)

'Mereka tidak menganggap kami sebagai manusia'

Mantan mahasiswa internasional Akanksha yang tidak mau disebut nama keluarganya - pernah tinggal di sebuah kamar bersama dua orang lainnya selama beberapa bulan.

Dia tiba di Melbourne dari India untuk belajar mengenai manajemen proyek di tahun 2016.

Dia mengatakan di dapur tidak ada bak untuk mencuci piring dan dia selalu ketakutan akan mengalami 'kecelakaan' tinggal di akomodasi yang penuh sesak tersebut.

"Saya tidak pernah merasa aman sama sekali." katanya.

"Pemilik akomodasi hanya mementingkan uang, mereka tidak menganggap kami sebagai manusia, dan mereka tahu bahwa para mahasiswa memerlukan tempat tinggal selagi kuliah."

Dr Berg mengatakan cerita di media mengenai akomodasi mahasiswa ini seperti "puncak gunung es" dan pihak berwenang harus melakukan sesuatu.

"Pemerintah jarang mengambil tindakan. Ketika ada tindakan, hukumannya lemah, jadi tidak ada peluang bagi menurunnya tingkat eksploitasi." katanya.

Laporan tersebut membuat tujuh rekomendasi diantaranya mendesak universitas dan pemerintah menyediakan akomodasi lebih banyak bagi mahasiswa internasional, menyediakan bantuan hukum lebih bagus, dan memastikan pemilik akomodasi mendapat pengawasan lebih ketat.

Di tahun 2018 ada sekitar 876 ribu mahasiswa internasional yang mengikuti pendidikan di universitas, sekolah kejuruan, kursus bahasa Inggris dan sekolah menengah di Australia.

Lihat artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini



(ita/ita)