detikNews
Selasa 03 Desember 2019, 13:17 WIB

Kurang Pendampingan, Pengidap HIV/AIDS di Indonesia Rentan Drop Out Minum Obat

ABC Australia - detikNews
Kurang Pendampingan, Pengidap HIV/AIDS di Indonesia Rentan Drop Out Minum Obat
Jakarta -

Di tengah klaim pemerintah kalau penanganan HIV/AIDS di Indonesia sudah sangat komprehensif, sejumlah orang yang hidup dengan HIV dan pegiat mengeluhkan ketersediaan obat dan pendampingan pengobatan antiretroviral yang lemah.

Surip Adiyanto sudah mengkonsumsi obat antiretroviral selama hampir 10 tahun dan menurutnya selama ini pelayanan dan akses kesehatan untuk para penyandang HIV/AIDS sudah sangat maju dan signifikan peningkatannya.

"Aku dari 2010 minum obat ARV, selama 9 tahun aku ambil obat di RSCM, karena kondisi aku agak spesifik jadi obat untuk aku agak unik jadi hanya ada di RSCM."

"Tapi setahun terakhir aku sudah bisa ambil obat di puskesmas dekat rumah." kata pria yang akrab disapa Yanto itu kepada ABC beberapa waktu lalu.

"Jadi menurut aku dari segi pelayanan jauh meningkat, semua fasilitas kesehatan udah ramah penderita HIV dan ramah juga memberikan pendampingan bagi kita sesama komunitas." tambahnya.

Meski demikian, selain mengapresiasi pelayanan yang semakin membaik, Yanto yang juga bekerja sebagai aktivis pendampingan HIV/AIDS di komunitas gay dan waria ini mengungkapkan sejumlah keluhan dari rekan-rekannya sesama penderita HIV/AIDS.

Salah satunya adalah meski akses terhadap obat antiretroviral semakin mudah, namun jenis obat yang diberikan selalu berubah-ubah.

"Obat sih emang ada terus, tapi jenisnya itu selalu ganti-ganti. Teman-teman yang biasa dapat obat ARV single dose sekarang dapat obat yang pecahan."

" Emang sih kandungannya sama aja, tapi cara minumnya kan jadi lebih ribet. Belum lagi efek sampingnya. Ini selalu begitu sejak saya minum obat, setidaknya setiap 6 bulan sekali." ungkap Yanto.

Surip Adiyanto

Surip Adiyanto, menggunakan obat antiretroviral selama 10 tahun terakhir dan menjadi aktivis kepatuhan minum obat ARV di komunitasnya di Jakarta. (supplied)

Obat ARV saat ini menjadi satu-satunya metode terapi pengobatan yang telah terbukti berhasil membantu mempertahankan kondisi orang dengan HIV.

Lewat pengobatan ini mereka mampu tetap berada dalam kondisi sehat seperti pada orang pada umumnya dan mencegah timbulnya fase AIDS.

Diperkirakan saat ini ada lebih dari 48.981 orang pasien pengobatan ARV.

Keunggulannya ini menjadikan pengobatan ARV masih menjadi andalan strategi utama untuk mencegah epidemi HIV di Indonesia.

Namun menurut catatan Koalisi Aids Indonesia, stok ARV di Indonesia semakin menipis.

Dari 15 jenis obat yang disediakan 6 diantaranya berada dalam posisi merah alias stoknya hanya cukup untuk stok pengobatan 1-2 bulan saja.

"Idealnya stok kecukupan ARV dikatakan dalam batas aman bisa dapat menyuplai kebutuhan selama 9 bulan."

"Ini dikarenakan beberapa obat ARV ini masih di import dan oleh karenanya memerlukan waktu yang cukup guna bisa didistribusikan kepada pasien." kata Aditya Wardhana, Direktur Koalisi Aids Indonesia.

Koalisi AIDS Indonesia mendesak pemerintah segera melakukan pengadaan obat ARV.

"Dapat dipastikan, bisa pengadaan obat tidak segera dilakukan secepatnya, mulai dari bulan Januari 2020 ribuan ODHA akan mengalami putus obat."

"Putus pengobatan ARV bagi ODHA akan memperburuk tingkat kesehatannya bahkan bisa menemui kematian dan juga akhirnya bila ODHA tersebut melakukan kegiatan beresiko maka dia akan menularkan HIV kepada orang lain." tambahnya.

Hingga Oktober 2019, Koalisi Aids Indonesia mencatat di Indonesia ada sekitar 640.443 ODHA. Dan ODha yang mengetahui statusnya sebagai ODHA baru 368.239 ODHA dan hanya 124.813 orang yang masih dalam pengobatan.

Simak berita-berita lainnya dari ABC Indonesia




(ita/ita)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com