Mengapa Parlemen Australia Gampang Disusupi Mata-mata

Mengapa Parlemen Australia Gampang Disusupi Mata-mata

ABC Australia - detikNews
Rabu, 27 Nov 2019 13:04 WIB
Canberra -

Badan intelijen asing bisa dengan mudah bisa menyusupkan mata-mata ke Parlemen Australia tanpa menghadapi hambatan berarti.

Menurut analis pada Australian Strategic Policy Institute (ASPI) Alex Joske, prosedur pengecekan latar-belakang apakah seseorang terkait dengan badan intelijen asing saat ini tidak banyak dilakukan.

Dia menjelaskan, meskipun partai politik sebenarnya telah menyeleksi kandidat untuk diajukan sebagai calon anggota parlemen, namun sulit untuk mengetahui apakah calegnya itu mata-mata atau bukan.

Pekan ini badan intelijen domestik Australia ASIO menyatakan sedang menyelidiki keterlibatan intelijen China dalam kasus Bo "Nick" Zhao, yang ditemukan tewas di sebuah hotel di Melbourne.

Bo Zhao adalah agen mobil yang terlilit utang dan konon ditawari dana Rp 10 miliar oleh badan intelijen China untuk membantu pencalonannya sebagai caleg Partai Liberal Australia.

"Saya dengar bahwa dia adalah warga Melbourne berusia 32 tahun yang disusupkan oleh Pemerintah China untuk menjadi caleg dari Partai Liberal," kata anggota DPR dari Partai Liberal, Andrew Hastie, seperti dikutip Channel Nine.

Pada bulan Maret 2019, konon setelah melaporkan hal ini ke ASIO, Bo Zhao ditemukan tewas.

Sumber Channel Nine bernama Wang Liqiang yang mengaku sebagai pembelot dari intelijen China, juga mengungkap rencana untuk menyusupkan Bo Zhao di Parlemen Australia.

Menyusupkan mata-mata


A selfie photograph of Bo

Bo "Nick" Zhao konon didekati oleh intelijen China untuk maju sebagai caleg DPR Australia dari Partai Liberal. (ABC News: Timothy Stevens)

Begitu berhasil duduk di Parlemen, mata-mata tersebut akan berusaha membangun kepercayaan, mengumpulkan informasi dan bahkan berupaya menjelek-jelekkan anggota Parlemen lainnya.

"Secara internal partai mereka akan pelajari faksi-faksi yang ada sehingga bisa membantu mereka membangun lebih banyak lagi operasi di Parlemen," kata Joske.

"Banyak sekali rumor di gedung Parlemen. Ada yang bisa sangat bernilai jika rumor itu ternyata benar," ujarnya.

Menurut Joske, mata-mata ini tak hanya mengumpulkan informasi bagi pemerintah mereka, tapi juga akan berperan yang lebih proaktif.

"Salah satunya dengan bergabung ke komite intelijen, keamanan dan luar negeri," katanya.

"Di negara-negara Barat, gambaran mengenai mata-mata itu sebagai orang yang mencuri informasi. Namun dalam sejarah China, mata-mata itu orang yang spesialisasi dalam pengaruh politik."

Dalam artikelnya di salah satu media, mantan Direktur Jenderal ASIO Duncan Lewis kembali memperingatkan bahaya pengaruh China di Australia.

"Spionase dan campur tangan asing itu berbahaya. Dampaknya mungkin belum kelihatan sampai beberapa dekade, dan pada saat itu sudah terlambat," katanya.

"Suatu saat kita akan bangun tidur dan melihat kebijakan pemerintah kita yang dibuat bukan untuk kepentingan negara kita," ujarnya.

Menurut Joske, pandangan Duncan Lewis ini datang dari seseorang yang telah mengawasi operasional mata-mata China.

"Mereka tidak selalu berusaha menghancurkan sistem demokrasi kita, tapi justru memanfaatkan dan memanipulasinya," katanya.

"Jadi mereka bukan bermaksud mengekspor model pemerintahan otoriter, tapi bagaimana mengkooptasi para politisi sehingga demokrasi kita jadi dangkal," jelasnya.

"Kita masih akan ikut memilih, seperti yang terjadi di Hong Kong, tapi pemimpin yang terpilih tidak mencerminkan aspirasi kita," papar Alex Joske.

Simak berita-berita menarik lainnya dari ABC Indonesia.

(ita/ita)