detikNews
Kamis 21 November 2019, 13:46 WIB

Mereka yang Tak Tamat SMA di Australia Namun Sukses Kemudian

ABC Australia - detikNews
Mereka yang Tak Tamat SMA di Australia Namun Sukses Kemudian
Canberra -

Di negara seperti Australia, menamatkan pendidikan hingga Kelas 12 (setingkat SMA) sudah merupakan keharusan sebagai bekal untuk bekerja nantinya.

Ijazah SMA dipandang sebagai sertifikat terendah yang bisa didapatkan dan tanpa hal tersebut diperkirakan masa depan mereka akan suram.

Ijazah SMA di Australia dikenal dengan nilai ATAR yang kemudian digunakan untuk masuk ke universitas.

Di bulan November dan Desember ini jutaan pelajar SMA baru saja selesai ujian dan sedang menunggu pengumuman nilai ATAR mereka.

Namun bagi sebagian orang, tidak tamat SMA bukan berarti mereka tidak bisa memiliki karir atau bisnis yang memberi penghasilan bagus.

Salah satunya dialami Seve Practico. Sebelas tahun lalu dia sangat stress ketika hendak ujian akhir di sebuah sekolah swasta terkenal di Perth.

"Saya kira tekanan terhadap diri sendiri begitu besar, karena sekolah saya merupakan sekolah swasta terkenal dan mahal," katanya.

Practico akhirnya tidak menyelesaikan ujian akhirnya. Orangtuanya bahkan mendukung keputusan tersebut.

"Orangtua melihat keadaan saya, stress dan cemas karena menghadapi ujian. Mereka mendukung 100 persen keputusan saya untuk berhenti," kata Practico.

Meski akhirnya tidak tamat SMA, Practico kemudian belajar desain bangunan di sekolah kejuruan dan sekarang membangun bisnis sendiri.

Dia ingin mengingatkan kepada generasi muda lainnya bahwa keberhasilan di tingkat SMA dengan nilai ATAR yang tinggi untuk masuk universitas bukanlah segalanya.

"Hal seperti ini jarang dibicarakan," katanya.

"Apapun yang kita lakukan sama pentingnya, sepanjang kita menyukainya. Ini semua bukan kompetisi."

Ingin bebas dan bangun siang

Pengalaman lainnya dialami Rachael O'Byrne yang berhenti sekolah sebelum Kelas 12. Baginya, hal itu bukanlah keputusan sulit.

"Sekolahku adalah sekolah swasta putri, dan di Kelas 10 saya sempat sakit parah sehingga berhenti selama beberapa bulan," kata O'Byrne.

"Ketika kembali ke sekolah nilai saya anjlok dari umumnya A dan B menjadi D dan F."

"Saat itu, beberapa teman suka ke klub. Saya merasa pergi ke klub sampai jam 4 pagi pada hari Rabu lebih menyenangkan," tambahnya lagi.

Setelah itu, O'Byrne menjadi karyawan toko, tanpa kualifikasi, dan kemudian banyak bepergian termasuk tinggal di Jepang selama dua tahun mengajar bahasa Inggris dan kerja di bar.

Rachael OByrne - woman head and shoulders in front of a patterned wall

Rachael OByrne tidak menunjukkan minat sekolah ketika SMA dan baru masuk universitas di usia 28 tahun. (ABC News: Nicole Chettle)

Beberapa orang lain di Perth mengatakan kepada ABC bahwa lulus SMA dan lanjut kuliah untuk jadi sarjana beberapa tahun kemudian bukan satu-satunya jalan kesuksesan.

"Saya sekarang berusia 25 tahun, pernah belajar di SMA top di Perth. Saya pernah kuliah dan sangat stres dengan kemungkinan hasil ATAR. Saya kemudian langsung kerja," kata warga bernama George.

"Apa yang saya pelajari setahun kerja lebih banyak dari yang dipelajari 4 tahun di kampus. Saya bekerja di layanan darurat dan sangat puas dengan pekerjaan saya," katanya.

Warga lainnya bernama Shelley mengatakan dia berhenti sekolah pada umur 15 tahun.

"Namun saya tamat di usia 30 untuk menjadi guru sekolah menengah. Jadi sekarang saya mengajar anak-anak seperti yang pernah saya rasakan dulu," katanya.

Sementara Justin mengatakan dia tidak menamatkan pendidikan hingga Kelas 9.

"Tapi sekarang saya sedang menyelesaikan PhD. Saya baru kembali ke sekolah di usia 27 tahun," katanya.

Lihat berita selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini




(ita/ita)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com