ADVERTISEMENT

'Mengancing Baju Saja Susah', Busana Adaptif Masih Jarang Ditemukan di Indonesia

ABC Australia - detikNews
Selasa, 12 Nov 2019 13:40 WIB
Jakarta -

Busana adaptif semakin berkembang sejak diperkenalkan oleh label busana dunia Tommy Hilfigher di akhir 2017. Namun di Indonesia hal ini masih jarang didapatkan.

Padahal, busana ini dirancang agar mudah dan nyaman digunakan para penyandang disabilitas, lansia maupun mereka yang mengalami kesulitan karena faktor kesehatan.

Bagi kebanyakan orang, mengenakan pakaian mungkin menjadi kegiatan sehari-hari yang tidak bermakna, namun bagi sebagian orang mengenakan pakaian bisa menjadi pengalaman yang menjengkelkan bahkan menyakitkan.

Tantangan semacam ini dialami oleh Tjuwita Listiati. Wanita berusia 75 tahun yang berdomisili di Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini sejak 3 tahun terakhir menderita radang sendi akut.

Kondisi yang umum diderita lansia ini membuatnya sulit menggerakkan anggota tubuhnya.

Tjuwita Listiati

TjuwitaListiati, 75 tahun, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran busana adaptif karena radang sendi yang dideritanya menyulitkan dia memakai baju lantaran memicu nyeri di seluruh tubuhnya. (ABC)

Selain produk yang belum dikenal luas, tantangan lain mengelola busana adaptif di Indonesia menurut Angela adalah terkait pemasok aksesoris busana yang khusus ini.

"Aksesorisnya ini yang masih sulit, semua saya masih harus impor karena di sini belum ada. Jadi memang agak mahal harganya, tapi kami tetap berusaha harga baju kami terjangkau," katanya.

Angela mengaku saat ini konsumennya masih didominasi kaum lansia. Namun berkaca dari bisnis yang ditekuninya setahun terakhir, dia optimistis peminat dan prospek industri busana adaptif di Indonesia masih terbuka luas.

"Saya yakin akan ada fase dimana adaptive clothing akan sangat diperlukan di Indonesia. Populasi warga lansia diprediksi akan meningkat dan mereka akan membutuhkan pakaian seperti ini," jelasnya.

Sementara itu kehadiran lini busana adaptif di tanah air sangat diapresiasi konsumennya. Salah satunya Tjuwita Listianti yang mengaku busana adaptif sangat memudahkan dia berbusana sehari-hari dan menjadi lebih mandiri.

"Ini sangat mudah dipakai, saya gak perlu susah mengaitkan kancing lagi, cukup didekatkan saja, sudah nutup sendiri dan saya bisa melakukannya sendiri,' ujarnya.

"Sekarang saya bebas pakai baju kapan saja saya mau."

Tren busana adaptif saat ini semakin berkembang, tak hanya terbatas pada mereka yang mengalami hambatan fisik.

Busana ini juga mulai dikembangkan bagi yang berkebutuhan khusus, seperti penyandang spektrum autisme yang memiliki masalah pada indera perasa yang sensitif.

Bagi mereka, busana adaptif dikembangkan dari bahan super lembut, tanpa 'tag' atau label, sebagaimana yang banyak disematkan di pakaian biasa.

Simak berita-berita lainnya dari ABC Indonesia.



(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT