detikNews
Jumat 08 November 2019, 12:51 WIB

John Ho, Penyintas Perang Vietnam yang Kini Berkebun Mangga di Darwin

ABC Australia - detikNews
John Ho, Penyintas Perang Vietnam yang Kini Berkebun Mangga di Darwin
Canberra -

Meninggalkan Vietnam sebagai pengungsi, dan bekerja sebagai staf IT di ABC, John Ho juga memiliki kebun mangga berisi 1000 pohon, tempatnya berlibur setiap tahun.

Pekerja IT Sekaligus Petani Mangga
  • Staf IT ABC John Ho ambil cuti tahunan untuk memanen mangga di kebunnya
  • Pengungsi asal Vietnam ini mulai berkebun di tahun 1997 dan sekarang memiliki Happy Ho Mangoes
  • Dia mengatakan ingin kebunnya teman yang damai bahkan untuk burung sekalipun

Di tengah sengatan matahari tropis di kawasan Darwin River, negara bagian Northern Territory (Australia) ini, John Ho yang mengenakan topi lebar membawa tongkat panjang untuk memetik mangga.

Wajahnya terus tersenyum lebar.

"Kalau anda suka melakukan sesuatu, kita tidak pernah perduli bagaimana keadaan cuaca," kata Ho.

"Saya bisa berdiri di sini hanya dengan sebotol air, dan memanen mangga dari pagi hingga sore," katanya lagi.

"Saya senang melakukannya."

Kesukaan Ho memanen mangga dimulai ketika seorang temannya memintanya datang untuk membantu memanen mangga di kebunnya.

"Kemudian saya berpikir, mengapa saya tidak memiliki kebun mangga sendiri, sehingga saya bisa memanen mangga sesuka saya," katanya.

a man in a hat with a mango-picking pole.

John Ho sudah berkebun mangga di Darwin River sejak tahun 1997. (supplied: John Ho)

Dari Vietnam ke Darwin River

John Ho berasal dari Vietnam dan tiba di Australia sebagai pengungsi di tahun 1981, setelah sebelumnya menghabiskan waktu enam bulan di sebuah kamp pengungsi di Malaysia.

Dia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris ketika tiba namun belajar di Darwin Community College dan setelah selesai mendapat pekerjaan di ABC dimana dia sekarang sudah bekerja lebih dari 35 tahun.

Sekarang dengan kebunnya sendiri yang diberi nama Happy Ho Mangoes dan banyak mangga yang bisa dipanen setiap tahun, John Ho merasa bersyukur dengan kehidupannya selama ini.

"Ketika saya berada di kebun, saya merasa santai," katanya.

"Saya ingin membuat tempat ini damai bagi siapa saja, bahkan termasuk untuk burung-burung."

"Jadi tidak seorang pun diizinkan berburu di tanah saya, saya tidak ingin melihat adanya darah di sini."

"Saya ingin semua ini tenang dan damai."

"Saya ingin adalah tempat yang bagus dimana semua orang senang dan menikmati."

Lihat artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com