detikNews
Kamis 07 November 2019, 13:49 WIB

'Saya Kesulitan Bernafas', Sriyono Positif Kanker Akibat Bahan Bangunan Asbes

ABC Australia - detikNews
Saya Kesulitan Bernafas, Sriyono Positif Kanker Akibat Bahan Bangunan Asbes
Jakarta -

Australia sudah lama melarang penggunaan bahan bangunan asbes yang telah terbukti mematikan. Tapi di Indonesia, hal itu masih terus berlangsung dalam skala besar seakan tidak menyadari bahaya yang bisa ditimbulkannya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya telah memperingatkan epidemi penyakit-penyakit terkait asbes di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Tapi sejalan dengan semakin banyaknya negara yang melarang asbes, kelompok lobi industri ini justru semakin meningkatkan promosi penggunaan asbes di Indonesia dan Asia Tenggara.

Kelompok lobi bernama Chrysotile Information Centre (CIC) dan berbasis di Bangkok itu mengklaim bahwa chrysotile - umumnya dikenal sebagai asbes putih - larut di paru-paru setelah 14 hari. Menurut mereka, hal itu tak berbahaya.

Penggunaan asbes di Indonesia terbilang sangat masif. Diperkirakan sekitar 10 persen rumah menggunakan asbes putih untuk atap.

Padahal, asbes putih ini merupakan karsinogen yang dapat menyebabkan berbagai kanker termasuk mesothelioma dan penyakit lainnya.

Apalagi, Indonesia rawan gempa dan bencana sehingga bangunan dan rumah yang menggunakan asbes dapat dengan mudah menjadi puing-puing.

A woman in a hoodie and face mask crouches on rubble

Indonesia sangat rawan gempa sehingga bangunan dan rumah yang menggunakan asbes dapat dengan mudah menjadi puing-puing. (ABC News: Phil Hemingway)

Sementara itu Sriyono mengaku, dia tidak tahu sampai kapan bisa bertahan akibat penyakit kankernya.

Tapi dia tahu pasti penyakit ini akan menyebabkan kematiannya.

Bertolak belakang dengan klaim CIC, paru-paru Sriyono tidak bisa lagi melarutkan serat chrysotile di tubuhnya.

"Dokter menyampaikan bahwa saya memiliki jenis kanker yang semakin memburuk dari waktu ke waktu," kata Sriyono.

"Tahun lalu saya melakukan pemeriksaan kesehatan dan hasil CT scan menunjukkan ada peningkatan aktivitas di paru-paruku," ujarnya.

Diperkirakan puluhan ribu orang Indonesia akan terserang penyakit yang berhubungan dengan asbes.

Tapi berbeda dengan Sriyono, mungkin kebanyakan di antaranya tak pernah tahu penyakit mereka itu disebabkan oleh asbes.

Simak berita ini dalam Bahasa Inggris di sini.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com