detikNews
Senin 04 November 2019, 13:56 WIB

Warga Asia di Australia Masih Harus Berjuang Untuk Jabatan Senior dalam Bisnis

ABC Australia - detikNews
Warga Asia di Australia Masih Harus Berjuang Untuk Jabatan Senior dalam Bisnis
Canberra -

Walau banyak yang dilahirkan di Australia, warga keturunan Asia masih harus berjuang keras untuk mencapai posisi senior dalam perusahaan besar dan tidaklah mudah untuk mencapai hal ini.

Meski terlahir di kamp pengungsi di Indonesia, bagi Tuan Nguyen, Australia adalah satu-satunya negeri yang diketahuinya dan dianggapnya sebagai kampung halaman.

Dilahirkan dari keluarga pengungsi Vietnam yang melarikan diri dari perang, Nguyen dan keluarganya mendapatkan suaka di Australia dan pindah ke Melbourne ketika berusia enam bulan.

Keluarga Tuan melarikan diri dari Vietnam di tahun 1982 ketika ibunya dalam keadaan hamil.

Beberapa saudara perempuan ibunya tidak berhasil melarikan diri dan dijebloskan ke penjara.

"Di tengah kegelapan malam, orang tua saya menaiki sebuah perahu kecil yang penuh sesak," katanya.

Sekarang perempuan muda ini menjadi salah seorang direktur bidang hukum di perusahaan konsultan dan akuntansi ternama dunia PricewaterhouseCoopers (PWC) di Australia.

Namun mencapai karir tinggi seperti itu bukanlah hal yang mudah.

Bagi warga Asia Australia ada istilah yang disebut 'langit-langit bambu' (bambo ceilling) guna menyebut 'batas' yang tidak tampak yang membedakan pekerja biasa dengan mereka yang menduduki jabatan tinggi di negeri seperti Australia.

Batas langit-langit bambu ini merujuk kepada berbagai penghalang diantaranya masalah budaya yang membuat warga Asia di Australia bisa masuk ke jajaran tertinggi dalam perusahaan-perusahaan besar.

An old photo of a mother and father holding two daughters.

Tuanh Nguyen (kiri) lahir di kamp pengungsi di Indonesia dan tiba di Australia tanpa memiliki warga negara. (Supplied)

Penulis laporan dari Cultural Intelligence Christine Yeung mengatakan penting sekali untuk mengetahui perilaku di tempat kerja guna menghilangkan hal yang disebut "bambo ceiling" tersebut.

Dia mengatakan manajemen perusahaan harus membuat lebih banyak usaha untuk mengerti perbedaan budaya dan melihat mereka sebagai aset.

"Kita tidak lagi tidak mengindahkan mereka. Di sini kita bukan sekedar bicara mengenai diskriminasi." katanya.

"Cara kerja kita berbeda-beda. jadi mengapa kita tidak mencari tahu dan berbicara mengenai perbedaan dan mencari solusinya."

"Saya rasa tidak ada organisasi yang bisa bertahan tanpa adanya keragaman pendapat, dan keragaman pendapat tersebut didapat dari keunikan masing-masing pekerja."

Yeung berharap laporan yang dimuat memberi motivasi kepada generasi muda Asia di Australia untuk menciptakan jalan sendiri menuju ke karir lebih tinggi meskipun saat ini tidak banyak contoh di kalangan eksekutif senior.

Tuan Nguyen setuju bahwa bisnis yang ada di Australia saat ini masih enggan menangani masalah rasisme di dalam perusahaan masing-masing.

"Kita tidak mau membicarakan rasisme. Ini seperti hal tabu." katanya .

"Tetapi kenyataannya adalah kalau kia ingin membicarakan soal keragaman budaya khususnya di kalangan kepemimpinan senior, kita harus mengadakan pembicaraan serius mengenai ras dan peran ras ketika seseorang melakukan penilaian."

Lihat artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com