detikNews
Senin 04 November 2019, 13:39 WIB

Hanya 3 Dolar Sejam, Liburan Sambil Kerja di Australia Tak Seindah yang Dibayangkan

ABC Australia - detikNews
Hanya 3 Dolar Sejam, Liburan Sambil Kerja di Australia Tak Seindah yang Dibayangkan
Canberra -

Liburan sambil bekerja di Australia melalui program Working Holiday Visa (WHV) ternyata tak selalu seindah yang dibayangkan. Sebagian pemegang WHV justru mendapat penghasilan hanya 3 dolar per jam.

Situasi penghasilan yang jauh di bawah ketentuan upah minimum ini, ternyata bukanlah sesuatu yang ilegal atau melanggar hukum.

Setiap tahun sekitar 150.000 orang asing datang ke Australia dengan visa WHV. Jika mereka ingin memperpanjang masa tinggal di tahun kedua, maka ada ketentuan untuk kerja minimal 88 hari di wilayah regional.

Hal itulah yang dialami Winnie Phillips, yang kini tinggal di Sydney. Bulan lalu, dia masih bekerja di perkebunan stroberi di Caboolture, Queensland.

Wanita asal Kota London ini baru saja mendapatkan visa WHV tahun keduanya, setelah menghabiskan waktu tiga bulan memetik dan mengemas buah-buahan.

Winnie mengaku telah mendengar bagaimana pekerjaan seperti itu sulit dan bisa berbahaya, sehingga dia coba mencari tahu.

"Saya membaca ulasan-ulasan online, misalnya tempat-tempat yang tak boleh dikunjungi," katanya kepada ABC.

Dari beberapa grup Facebook dia membaca cerita-cerita horor tentang kehidupan pemegang WHV di wilayah pedalaman.

"Saya pun berpikir apakah benar-benar ingin melakukannya," ujar Winnie.

Winnie Phillips, left, in a black t-shirt and cap sits with a friend on a rock overlooking mountains.

Winnie menjelaskan bahwa penghasilan 400 dolar seminggu itu hanya akan diraih jika bisa memetik 2000 buah stroberi per hari. (ABC News: Xavier La Canna)

Menurut Casey, bosnya itu tahu persis bahwa dia membutuhkan pekerjaan, dan hal itu mempengaruhi caranya memperlakukan Casey.

"Mereka tahu betul bahwa kita ada di sana demi mendapatkan visa," katanya.

"Mereka memanggil dengan cara merendahkan. Saya bahkan dipanggil bodoh, dimarahi, diteriaki, diancam untuk dipecat," tambahnya.

Menurut Casey, banyak pekerja asing yang saat itu bekerja di Cloncurry, yang dia sebut memiliki budaya pelecehan.

"Bekerja sebagai bartender Anda akan mengalami pelecehan seksual sehari-hari yang sudah biasa," katanya.

"Di Queensland, setidaknya di tempat kerjaku, tidak ada aturan sama sekali," kata Casey.

Dia mengaku dilarang untuk mengusir orang dari bar, karena pelanggan yang melakukan pelecehan sekalipun tetaplah pelanggan yang harus dihargai.

"Orang-orang gampang emosi, dan kami hanya diminta untuk menerimanya," katanya.

Para pekerja WHV ini, kata Casey, sudah paham bahwa jika mereka mempersoalkan apa yang terjadi, hal itu merugikan pekerjaan mereka.

Dengan pengalaman seperti ini, Casey pun tidak ingin lagi melanjutkan masa tinggalnya di Australia di tahun ketiga.

Padahal, terhitung sejak bulan Juli lalu, Pemerintah telah memperpanjang visa WHV menjadi tiga tahun, dengan syarat harus bekerja di wilayah regional selama enam bulan.

"Hal itu bagus buat perekonomian Australia, tapi saya rasa para pengusaha hanya memanfaatkannya," katanya.

"Saya rasa orang Australia sama sekali tidak tahu bagaimana kami diperlakukan," ujar Casey Smith.

Simak berita lainnya dari ABC Indonesia.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com