detikNews
Selasa 29 Oktober 2019, 15:36 WIB

Chandra Prijosusilo, dari Psikologi, Aktivis Sampai Memberdayakan Tenun Tradisional

ABC Australia - detikNews
Chandra Prijosusilo, dari Psikologi, Aktivis Sampai Memberdayakan Tenun Tradisional
Jakarta -

Enam tahun belakangan, Chandra Prijosusilo sibuk keluar-masuk desa tenun. Prihatin akan banyaknya penenun yang menganggap pekerjaan mereka lekat dengan kemiskinan, perempuan asal Jawa Timur ini bertekad mengangkat harkat tenun dan seniman penciptanya.

Merawat tradisi tenun, bagi Chandra, sama dengan melestarikan Bumi.

Kain tradisional tenun memiliki tempat istimewa dalam kehidupan Kiki, sapaan akrab Chandra Kirana Prijosusilo, seorang wanita yang memiliki darah campuran Indonesia dan Australia tersebut.

Lulusan Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta ini minggu lalu kembali ke kampus Bulaksumur untuk menerima penghargaan sebagai alumni berprestasi tahun 2019 karena kegiatannya menjaga kelestarian lingkungan dan membangun daerah tertinggal.

Mengaku tersesat, Kiki justru jatuh cinta pada wastra Nusantara ini setelah mengenal lebih dalam.

"Ketika pertama kali melihat tenun Sumba, dan tanya-tanya, ternyata itu pakai tanaman semua kan, lebih dari 20 jenis tanaman mereka pakai pewarnaan itu."

"Nah saya mulai memperhatikan. Di Sumba, desa-desa tenun itu lebih rimbun karena mereka mengurus tanaman-tanaman itu untuk pewarnanya."

"Sehingga saya melihat tenun ini bisa untuk merestorasi lahan," cerita perempuan yang mengawali karir di tahun '80an dengan membentuk organisasi pelestarian keanekaragaman hayati ini.

Kiki memandang jika tenun dengan pewarnaan alam digairahkan kembali, maka para penenun bisa dipompa semangatnya untuk menanam pohon.

"Sehingga alamnya mungkin jadi lebih hijau. Awalnya mikirnya begitu."

Dari situlah Sekar Kawung, perusahaan sosial bidang pemberdayaan penenun yang didirikannya, bermula di tahun 2013.

Sosok penenun, bagi Kiki, lebih dari sekedar pengrajin. Layaknya pelukis, mereka adalah seniman yang menghadirkan adi karya.

Kecintaan Chandra (pojok kiri) pada tenun bermula dari Sumba.

Kecintaan Chandra (pojok kiri) pada tenun bermula dari Sumba. (Foto: UGM)

Sarjana psikologi yang berpindah ke masalah lingkungan

Menamarkan pendidikan dari Fakultas Psikologi UGM di tahun 1990, Kiki kemudian menjadi aktivis dengan mendirikan LSM Gita Pertiwi yang memfokuskan diri pada pemberdayaan perempuan dan keanekaragaman hayati.

Karena kegiatannya yang antara lain meliput demo perusahaan tekstil yang menutup jalan warga desa, Kiki pernah berurusan dengan aparat keamanan di tahun 1997-1998 dimana aparat ingin mengetahui siapa di balik Gita Pertiwi.

Dia kemudian juga menjadi aktivis lingkungan dan pernah selama beberapa tahun menjadi staf Prof. Emil Salim dari tahun 2001-2004. Ketika itu Prof. Emil menjadi ketua tim independen yang mengevaluasi portofolio World Bank di bidang industri ekstraktif di seluruh dunia.

Karena kegiatannya selama hampir 30 tahun terakhir, tanggal 16 Oktober lalu, Chandra Kirana mendapat penghargaan dari UGM sebagai alumni berprestasi dalam kategori Pelopor Pemberdayaan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar karena kegiatannya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan membangun daerah tertinggal.

Simak berita-berita menarik lainnya di situs ABC Indonesia.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com