detikNews
Selasa 29 Oktober 2019, 13:44 WIB

Apa Kata Pekerja Profesional di Indonesia Tentang Kerja di Australia?

ABC Australia - detikNews
Apa Kata Pekerja Profesional di Indonesia Tentang Kerja di Australia?
Canberra -

Migran berpendidikan dan berketerampilan tinggi dari luar Australia termasuk dari Indonesia kadang kali mengalami kesulitan mendapat kerja di bidang keahlian mereka di Australia karena harus melewati beberapa ujian tambahan.

Pekerja Profesional Indonesia di Australia
  • Kaum profesional Indonesia menemukan tantangan mencari pekerjaan satu bidang
  • Punya keahlian khusus buka gerbang pekerjaan
  • Pemerintah Australia belum terbuka terhadap pekerja migran

Padahal mereka sudah melakukan hal tersebut di negeri asal namun kualifikasi tersebut tidak diakui di Australia.

Dan karenanya menurut kesimpulan penelitian di James Cook University di Australia sering kali kemudian kemampuan para migran baru tersebut terbuang sia-sia karena mereka di bidang yang sama sekali berbeda atau di bidang yang lebih rendah dibandingkan kualifikasi asal mereka.

Hal ini dialami oleh Inggita Shintowati, yang satu tahun pengalamannya sebagai seorang dokter umum di Indonesia tidak mengizinkannya langsung bekerja di ranah kedokteran Australia.

Perempuan yang pindah ke Australia setelah menikah dengan suaminya yang adalah Warga Tetap di negara tersebut ini mengatakan pengalamannya tidak memenuhi syarat ikut ujian menjadi dokter umum.

"Kalau mau jadi dokter umum untuk praktek [di Australia] tergantung pengalaman sebelumnya. Kalau pernah praktek di negara asal tiga tahun bisa langsung ujian untuk jadi dokter umum," kata dia.

"Tapi karena [pengalaman] saya satu tahun, tidak bisa. Jadi harus ikut pelatihan empat tahun."

Tiga tahun setelah kelahiran anak pertamanya, Inggita yang adalah S1 Kedokteran Universitas Airlangga lulusan tahun 2009 mulai mengikuti ujian tahap satu izin praktek dokter di Australia.

Tahap tersebut merupakan langkah pertama dari dua tahap seleksi untuk mendapatkan kualifikasi dokter medis, syarat untuk melakukan tes selanjutnya menuju profesi dokter umum.

"Saya mulai coba ambil ujian persamaan untuk praktek di sini tapi sambil si kecil di penitipan anak saya sempat kerja paruh waktu jadi koordinator studi penelitian," kata perempuan yang suaminya bekerja di bidang pemasaran itu.

"Dua hari kerja, tiga hari sama si kecil di rumah, dan belajar di akhir pekan, ternyata itu sulit," kata Inggita yang akhirnya harus berhenti bekerja untuk dapat lulus ujian tahap pertama itu di percobaan ketiga.

Inggita dan teman-teman

Inggita (kanan) bersama Holly dan Minh, teman-temannya dari Australian Breastfeeding Association. (Foto: supplied)

"Saya belum tahu nanti bagaimana, tapi kelihatannya memang sulit."

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Dina kini bekerja sebagai seorang pengasuh anak sebanyak dua atau tiga kali seminggu.

"Saya baru mulai jadi pengasuh anak karena saya merasa kalau sekolah saja bosan sekali," kata Dina yang berpikir bahwa lingkungan kerja di Australia lebih baik dari di Indonesia.

"Saya sih tidak mengikuti gengsi karena kalau misalnya dihitung, bekerja paruh waktu di sini lebih baik daripada bekerja penuh waktu di Indonesia."

Pemerintah Australia perlu turun tangan

Mohammad Al-Khafaji, dari Federasi Dewan Komunitas Etnis Australia mengatakan pentingnya sambutan bagi para pendatang yang mau bekerja di Australia.

"Penting sekali memastikan bahwa pendatang baru merasa disambut dan diarahkan pada komunitas yang dapat membantu mereka. Pelayanan kami sejauh ini memberi dampak yang baik, tapi kemampuan kami pun terbatas."

Menurutnya, pemerintah Australia harus mulai memperhatikan para pendatang dan percaya pada kemampuan yang mereka bawa dari negara asal mereka.

"Fokus pemerintah, tentu saja adalah pada urusan bagaimana migran dan pengungsi bisa menetap di sin dengan baik."

"Tapi ini tidak dapat terjadi begitu saja tanpa adanya investasi dalam komunitas," katanya.

"Dan saya tahu beberapa politikus menyalahkan migran untuk beberapa urusan."

Menurut Mohammad, bias yang secara tidak sadar dimiliki pemerintah Australia menyebabkan migran kesulitan untuk bekerja di bidang profesional di negara ini.

"Kendala bahasa menjadi salah satu faktor pastinya. Ini menjadi sesuatu yang membedakan mereka dengan orang Australia," katanya.

"Hal lain adalah soal kualifikasi di Australia. Kita tidak mengakui kualifikasi pekerja luar negeri yang seharusnya diakui dan sayangnya, hal tersebut membuat dokter dan insinyur menjadi supir taksi atau Uber."

Simak berita-berita lainnya dari ABC Indonesia




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com